Belajar Dari Tarawangsa

Malam yang dingin. Hujan baru saja usai. Beberapa genangan air hujan terlihat di sekeliling lapisan aspal yang sudah mengelupas. Berbarengan dengan hawa dingin yang menusuk, sayup-sayup terdengar lengkingan suara yang sepertinya berasal dari dua jenis alat musik.

Tidak lama berselang penulis sudah sampai pada muasal sumber suara tersebut. Di halaman rumah orang-orang duduk bersila sambil menghadapi beberapa jenis makanan tradisional yang dibungkus oleh daun pisang serta beberapa di dalam toples kaca. Kebanyakan orang-orang memakai baju hitam dan ikat kepala khas sunda. Sementara itu di dalam rumah terlihat beberapa orang sedang menari dengan asyik. Di bahu para penari tersebut terlihat selendang yang menggantung dalam beberapa warna.

Seni Bersyukur

Malam itu penulis sedang berada di Kampung Ranca Kalong, Desa Ranca Kalong Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang. Hendak menyaksikan syukuran Mauludan masyarakat Rancakalong yang dilaksanakan dalam bentuk pertunjukan seni Tarawangsa.

Dari dekat, bentuk fisik alat musik Tarawangsa mirip dengan alat musik Kecapi dan Rebab. Namun berbeda dengan alat kecapi dan rebab yang biasa digunakan, kecapi pada Tarawangsa terdiri dari tujuh senar sedangkan satu lagi alat musik yang mirip dengan rebab mempunyai dua senar. Tidak ada nama spesifik untuk kedua alat tersebut. Masyarakat Rancakalong menyebut kedua alat musik tersebut Tarawangsa.

Alat musik sejenis kecapi tersebut dimainkan dengan cara di petik seperti kecapi pada umumnya. Namun sejenis alat musik yang mirip rebab tersebut dimainkan dengan cara di gesek dengan menggunakan alat bantu gesek dari senar nilon.

Dalam istilah seni, laras atau tangga nada yang dimainkan dengan menggunakan Tarawangsa termasuk ke dalam laras pelog. Pada prakteknya laras pelog ini mempunyai enam nada yang dimainkan. Mengacu pada efek jenis nada yang biasa digunakan, laras pelog biasanya menghadirkan kesan gagah, sakral, agung.

Pertunjukan musik Tarawangsa di Rancakalong tidak menghadirkan penyanyi dan tidak ada nyanyian sama sekali. Selama pertunjukan berlangsung hanya ada bunyi-bunyian dari Tarawangsa yang diikuti oleh tarian dari masing-masing hadirin.

Namun demikian, petikan, gesekan dan tarian Tarawangsa itu sendiri sebenarnya terbagi ke dalam beberapa bagian besar. Pertama, Lulungsur.Kedua, Amitan Paibuan. Ketiga, Nyumpingkeun. Keempat, Nginebkeun. Kelima, Hajat lekasan.

Fase lulungsur adalah fase tarian awal. Fase ini bertujuan untuk menghadirkan spirit para leluhur ke dalam suasana tarian. Spirit leluhur pada fase ini bukan hanya spirit para karuhun Rancakalong namun juga leluhur asal muasal tanaman padi, yaitu Dewi Sri. Pada fase ini kaum laki-laki menjadi penari.

Berikutnya pada fase Amitan Paibuan. Pada fase ini kaum perempuan menjadi penari. Tarian ditujukan untuk meminta ijin kepada leluhur dan semua hadirin agar acara berjalan lancar. Pada fase ini, penari perempuan menyalami semua hadirin sambil mengucapkan pesan sesuai dengan pesan yang diberikan oleh leluhur sebelumnya.
Fase nyumpingkeun bertujuan untuk mengundang tidak hanya spirit tetapi ruh semua leluhur Rancakalong untuk datang dan menyaksikan pertunjukan sampai usai. Pada fase ini diharapkan terjadi sebuah komunikasi bawah sadar antara penari dengan leluhur yang ada. Dalam amatan penulis, salah satu tujuan penting fase ini agar warga yang ada senantiasa mengingat jasa-jasa para leluhur yang telah mewariskan alam yang subur serta benih padi yang sangat berharga untuk kehidupan masyarakat Rancakalong.

Berikutnya adalah dua fase terakhir, yaitu fase nginebkeun dan hajat lekasan. Fase nginebkeun adalah fase mengantarkan kembali spirit dan ruh leluhur Rancakalong termasuk didalamnya Dewi Sri kembali ke tempatnya masing-masing. Sementara fase hajat lekasan adalah fase penutup akhir. Di fase ini semua penari mengucapkan syukur dan terimakasih kepada para leluhur, Alloh SWT atas kelancaran acara dan keberkahan yang diterima oleh masyarakat Rancakalong.

Tak Lekang Jaman

Mendengar lantunan nada Tarawangsa, menyimak setiap tarian dengan seksama serta melihat pakaian yang dipakai oleh para penari, penulis merasakan suasana masa lalu ketika alam parahyangan masih betul-betul alami. Sungai-sungai yang mengalir jernih, hamparan petak-petak sawah dengan padi yang mulai menguning serta tanaman palawija yang hijau. Petani dengan baju pangsi serta iket kepala sunda pergi ke sawah dengan riang gembira.

Penulis menyebut bayangan tersebut bernuansa masa lalu begitu kuat karena sekarang sudah jarang menemui petani yang selalu berbahagia karena tanahnya subur, air nya yang mengalir tanpa henti dan hasil panen padi yang membahagiakan sekarang-sekarang ini.

Menyimak cerita dari sesepuh Tarawangsa Rancakalong serta membaca referensi mengenai Tarawangsa perasaan penulis tersebut mendapatkan sebuah penguatan sekaligus pembenaran.

Tradisi Tarawangsa Rancakalong memang merupakan sebuah tradisi yang lahir di tengah-tengah kondisi alam Priangan, dalam hal ini Sumedang secara umum dan Rancakalong secara khusus yang subur makmur.

Syahdan, sekitar abad ke enam belas, ketika Sunan Kalijaga sedang menyebarkan Islam di daerah Pajajaran, salah satunya adalah Ranca Kalong terjadi sebuah peristiwa yang menggemparkan dan membuat murka kepala Kampung Rancakalong waktu itu.

Anak semata wayang kepala kampung ditemukan meninggal terjerat pohon hanjeli. Pohon yang buahnya dijadikan makanan pokok masyarakat Rancakalong. Kepala kampung begitu murka dan melarang masyarakat untuk menanam hanjeli dan menjadikannya sebagai makanan pokok. Namun apa yang harus dimakan oleh masyarakat Rancakalong jika hanjeli dilarang di tanam?

Atas saran dari sesepuh Kampung Rancakalong, kepala kampung disarankan berkunjung ke kerajaan Mataram untuk meminta benih tanaman yang bisa dijadikan sebagai makanan pokok masyarakat Rancakalong. Benih yang dimaksud tersebut adalah benih padi yang sampai sekarang di tanam oleh masyarakat Rancakalong. Selain itu, berdasarkan petunjuk juga diketahui bahwa utusan yang berkunjung ke Mataram tersebut harus membawa alat musik khas dari Rancakalong.

Menyimak hal tersebut, Sunan Kalijaga berinisiatif membuat dua jenis alat musik dan petik. Satu alat musik petik mirip kecapi satu lagi alat musik gesek dan petik dengan dua senar. Kedua alat musik itu lah yang sekarang di kenal dengan nama Tarawangsa.

Berdasarkan penuturan sesepuh Rancakalong, tujuh senar petik dan dua senar gesek pada musik Tarawangsa merupakan sebuah simbol yang sakral dan penuh makna. Tujuh senar petik melambangkan tujuh hari yang dijalani oleh masyarakat. Sedangkan dua senar petik melambangkan bahwa kehidupan ini selalu berpasang-pasangan, tidak ada yang tunggal selain sang maha mencipta.

Ketujuh senar petik serta kedua senar gesek dan petik tersebut secara tidak langsung bahwa dalam menjalani kehidupan pasti akan bertemu dan mengalami dua hal. Tidak selamanya hidup ini akan berjalan dengan baik, dan juga tidak selamanya hidup ini berjalan dengan tidak baik. Akan selalu dan harus selalu ada keseimbangan dalam menjalani kehidupan di dunia dalam tujuh hari setiap minggu tersebut.

Sejak saat itu, seni Tarawangsa Rancakalong terus mengalir bersama ritme kehidupan mereka tanpa pernah henti dan terganggu, kecuali pada masa penjajahan Belanda. Tradisi Tarawangsa waktu itu terganggu karena tidak disetujui oleh pemerintah Belanda. Namun tentu saja hal tersebut bukan sebuah hambatan untuk terus bersyukur melalui ritual Tarawangsa. Dalam kondisi yang tertekan seperti itu ritual Tarawangsa tetap dijalankan. Hanya saja tempat pelaksanaan ritual berpindah-pindah dan agak jauh ke lokasi yang agak terpencil.

Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Ketika gaung kemerdekaan terdengar dari Jakarta, ritual Tarawangsa berlangsung kembali seperti biasa dan berlangsung sampai dengan sekarang ketika penulis menghadiri ritual Tarawangsa malam itu.

Begitulah Tarawangsa telah betul-betul mengakar menjadi budaya sekaligus identitas masyarakat Rancakalong. Dari mulai pengambilan benih padi pada abad ke enam belas dimana sungai-sungai masih mengalir jernih dimana-mana serta alam parahyangan masih betul-betul elok dan jelita sampai dengan sekarang abad ke dua puluh satu dimana sungai-sungai tidak lagi mengalir jernih, ketika alam parahyangan tidak lagi sejelita dahulu tentu bukan waktu yang sebentar.

Enam abad berlalu sejak Tarawangsa di buat artinya itu adalah kurun waktu kurang lebih enam ratus tahun atau setara dengan enam generasi atau mungkin lebih dari enam generasi. Hal ini tentu menjadi sebuah pembuktian bahwa seni Tarawangsa adalah seni yang tak lekang oleh zaman.
Di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang sedang di kepung oleh gempuran budaya luar yang negatif dan budaya-budaya negatif lainnya yang membuat kita semakin gerah, Tarawangsa sebagai sebuah seni bersyukur sama seperti seperti angin sejuk bagi yang sedang kegerahan.

Selepas pertunjukan usai, menjelang fajar tiba, ditengah-tengah puncak suasana dingin Rancakalong, penulis merasa menjadi orang yang sangat beruntung karena masih bisa menyaksikan sebuah kearifan lokal yang begitu berharga ini.

Tiba-tiba terbersit kerinduan untuk kembali bisa menikmati dan menyajikan ritual Rancakalong di musim berikutnya. Ah, semoga saja penulis masih bisa menghadirinya tahun depan..Amiin.

DSCF9067

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s