Pengantar

Pembicaraan mengenai perkembangan pemikiran filsafat di Indonesia ini di latar belakangi oleh sebuah pertanyaan sederhana. Sebagai negara yang sudah cukup lama berdiri, apakah Indonesia mempunya pemikiran filsafat asli yang bersumber dari pemikiran sendiri tanpa dipengaruhi oleh pemikiran orang lain?

Tentu saja pada prakteknya pertanyaan ini lahir dari penerjamahan atas perkembangan bangsa dan perkembangan pemikiran filsafat itu sendiri. Perkembangan bangsa selalu berkaitan erat dengan pemikiran filsafatnya itu sendiri karena apa yang terjadi (baca: kenyataan) adalah buah dari apa yang dipikirkan.

Dalam konteks demikian lahir sebuah kecurigaan yang juga menjadi kecurigaan sebagian orang. Dalam bahasa yang sederhana, salah satu penyebab pokok karut marutnya bangsa ini karena pemikiran filsafat yang digunakan untuk mengurus bangsa ini. Karena kesalahan dalam menggunakan dan memilih pemikiran filsafat maka bangsa ini menjadi karut marut menjadi bangsa yang berada dalam kondisi negatif.

Sebagian orang ada yang berpikiran bahwa terlalu banyaknya pemikiran filsafat barat yang dibahas, dipelajari dan dibahas menyebabkan kita berada dalam kondisi yang negatif tersebut. Hal tersebut bisa jadi tepat namun bisa juga kurang tepat. Pada kenyataanya hal tersebut mendorong penulis untuk menyelusuri dengan singkat bagaimana perkembangan pemikiran filsafat di Indonesia itu sendiri.

Tentu saja bukan bermaksud untuk memperkeruh namun sekedar ingin mendapatkan sebuah sketsa sederhana yang barang kali dapat membantu mendapatkan gambaran yang utuh kemudian dijadikan bahan diskusi lanjutan mengenai perkembangan pemikiran filsafat dan korelasinya dengan kondisi bangsa ini.

Dari Indonesia ke Nusantara : Dari Statis ke Dinamis

Menyelisik penggunaan pertama kata “Indonesia” sebagai sebuah identitas kolektif tidak cukup sampai pada hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 dimana kata Indonesia diproklamirkan sebagai identitas kolektif sebuah bangsa.

Jauh-jauh hari sebelum disebutkan pada 17 Agustus 1945, kata Indonesia terlebih dahulu digunakan pada ikrar sumpah pemuda ketika kongres pemuda kedua yang diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928.
Baris pertama ikrar tersebut berbunyi “ Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Indonesia” Kata Indonesia pada baris pertama ikrar tersebut menjadi penanda pertama penggunaan kata Indonesia sebagai identitas kolektif.

Melihat pada runutan sejarah, kongres pemuda kedua tersebut merupakan kelanjutan dari kongres pemuda pertama yang diselenggarakan pada tanggal 30 April-2 Mei 1926 di Jakarta. Disebut kelanjutan karena pada kongres pertama hanya melahirkan sebuah kesepakatan kolektif untuk mengikat diri dalam sebuah blok nasional. Kebutuhan akan identitas atas blok kolektif tersebut pada prakteknya mendorong alam bawah sadar aktivisnya untuk mencari nama baru blok nasionalis tersebut. Kongres pemuda kedua menjadi jawaban historis atas pertanyaan kebutuhan nama identitas kolektif di kongres pemuda yang pertama.

Jika ditelisik secara harfiah, penggunaan kata Indonesia ini pertama kali di gunakan di negara Belanda. Kata Indonesia ditujukan untuk sekelompok mahasiwa hindia (baca : Indonesia) yang menghimpun dirinya dalam nama perhimpunan mahasiswa Hindia di Belanda pada tahun 1917.

Kata Indonesia tersebut berasal dari dua pandangan, yaitu Adolf Bastian dan James R Logan. Sekitar tahun 1884-1894, Adolf Bastian seorang Etnolog Belanda memperkenalkan istilah Indonesia ke khalayak luas dengan menggunakan sudut pandang etnografis. Kata Indonesia di sana mengacu pada sekelompok orang yang berbagi kesamaan bahasa dan budaya di sepanjang gugus kepulauan India mulai dari Madagaskar di Barat,Nusantara di Asia Tenggara hingga Formosa (Taiwan) di sebelah utara.

Sementara itu, sekitar tahun 1850 James R Logan, seorang berkebangsaan Inggris yang mengartikan Indonesia dari sudut pandang Geogerafis. Secara geogerafis, kata Indonesia mengacu pada empat distrik yang tersebar mulai Sumatra hingga formosa (baca : Taiwan)

Harus di sadari bahwa kongres pemuda pertama atau ke dua tidak muncul dengan begitu saja. Kemunculan kedua kongres itu harus dipahami sebagai efek dari pendidikan yang diterima oleh masyarakat Indonesia baik sebelum pelaksanaan politik etis atau sebelum politik etis dijalankan oleh pemerintahan Belanda.

Keran pendidikan kaum pribumi dalam kerangka politik etis terbuka ketika kaum liberal di negeri Belanda kalah oleh Partai Kristen pada pemilihan umum tahun 1901. Momentum pelaksanaan pendidikan kritis ditandai oleh pidato Ratu Wilhelmina di penghujung tahun 1901 mengenai tanggung jawab etis Belanda kepada rakyat Hindia.

Pada prakteknya, pelaksanaan kebijakan etis yang dititikberatkan pada kebijakan edukasi di komandoi oleh dua grup. Pertama, adalah Snouck Hurgronje dan JB Abendanon. Kedua, Gubernur Jenderal Van Heutsz dan Idenburg pada kurun waktu 1904-1916.

Kedua-duanya mempunyai cara pandang yang berbeda namun pada prakteknya saling melengkapi. Grup pertama lebih setuju jika pendidikan yang akan dilaksanakan lebih baik bersifat elitis yang ditujukan untuk mentransformasikan bangsawan tradisional menjadi elit terdidik. Sementara kedua gubernur jenderal menghendaki pendidikan ditujukan bagi semua kalangan dengan materi pendidikan yang lebih bersifat praktis sesuai dengan kebutuhan waktu itu.
Pada prakteknya, kombinasi dua pandangan tersebut mendorong dibuka dan ditingkatkanya lembaga pendidikan yang sebelumnya sudah ada di dalam negeri dan terbukanya peluang bagi warga pribumi untuk bisa menempuh pendidikan ke negeri Belanda. Periode ini ditandai dengan dibukanya sekolah menengah pertama atau disebut dengan istilah MULO dan sekolah menengah atas dengan sebutan AMS dan peningkatan masa studi sekolah dokter jawa atau dikenal dengan istilah STOVIA.

Pengembangan lembaga studi ini melahirkan beberapa aktivis yang tersadarkan akan pentingnya sebuah organisasi. Beberapa warga didiknya kemudian mengorganisir diri dalam sebuah perhimpunan dengan nama Budi Utomo. Orientasi utama BU waktu itu adalah untuk memberikan kritik terhadap priyayi tua yang gagal dalam melindungi warga pribumi dari berbagai permasalahan yang menderanya.

Dalam rentetan sejarahnya, pendirian Budi Utomo ini menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk mendirikan organisasi yang meninggalkan paham kaum tua. Puncak dari gerakan kritik ini adalah pendirian organisasi Muhamadiyah dan Sarekat Islam pada tahun 1912.

Setelah itu, kesadaran akan pentingnya membangun sebuah identitas kolektif mendorong Budi Utomo, Muhamadiyah, dan Paguyuban Pasundan serta beberapa lembaga studi mahasiswa di Bandung mendirikan sebuah komite yang disebut dengan Komite Persiapan Indonesia (KPI) pada tahun 1926.

Namun perlu di catat bahwa sekolah-sekolah tersebut di atas bukanlah sekolah yang baru seperti karena sebelumnya ketika kaum pemodal swasta dan kelas menengah di Belanda memenangkan pertarungan politik pada tahun 1840. Pemerintah kolonial lantas mendirikan sekolah yang bertujuan menghasilkan tenaga terdidik, terampil untuk keperluan layanan birokrasi di kantor pemerintahan sipil untuk orang eropa dan pribumi.

Bagi mereka yang berada di status yang paling tinggi (baca : bangsawan dan orang eropa) sekolah dasar mereka bernama ELS, sedangkan untuk kaum pribumi dengan status ke bawah dinamakan Volkschool dan juga mendirikan sekolah kejuruan dengan nama Vakscholen. Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan kaum guru didirikan sekolah guru atau disebut dengan istilah Kweekschool, sedangkan untuk kebutuhan tenaga pegawai sipil pribumi dibuat sekolah dengan istilah Hoofdenscholen atau lebih banyak disebut Sekolah Radja.

Namun demikian, pendirian lembaga pendidikan dalam kerangka kebijakan politik etis tetap tidak memuaskan semua kalangan dan tidak memenuhi harapan semua warga didiknya. Ketidakpuasan tersebut bersumber dari lambatnya pembangunan lembaga pendidikan tinggi dan kualitas pendidikan itu sendiri. Atas dasar hal tersebut, mulai terjadi migrasi penduduk Indonesia ke luar negeri untuk menempuh pendidikan yang lebih berkualitas.

Waktu itu, ada dua jenis penduduk pribumi yang pergi ke luar negeri untuk memperdalam pengetahuan sesuai dengan subjeknya masing-masing. Pertama, adalah mereka dari kalangan bangsawan. Kedua, mereka dari kalangan non bangsawan yang berasal dari STOVIA. Mereka yang berasal dari STOVIA ini adalah para aktivis gerakan sosial dan pemimpinan organisasi pemuda dan juga sebagian bangsawan yang berhaluan Islam. Para aktivis gerakan sosial lebih banyak menempuh pendidikan tinggi ke Belanda sedangkan mereka yang berhaluan Islam pergi menempuh pendidikan tinggi ke Mesir.

Pada prakteknya, sekitar tahun 1908 para mahasiwa yang berada di negeri Belanda menghimpun dirinya dalam sebuah wadah yang dikenal dengan sebutan Perhimpunan Hindia di Belanda (Indische Vereeniging). Sedangkan mereka yang berada di mesir, sekitar tahun 1922 menghimpun dirinya dalam sebuah wadah dengan sebutan Djamaah.

Beriringan dengan dibentuknya perkumpulan tersebut, seiring dengan pendirian beberapa sekolah tinggi di dalam negeri muncul juga berbagai kumpulan mahasiswa yang tergabung dalam forum diskusi dengan sebutan Studieclub. Salah satu klub studi yang cukup aktif adalah klub studi yang diorganisir oleh Soekarno yang waktu itu menjadi mahasiswa THS atau sekarang disebut ITB dengan nama studi klub ASC (Algemene Studieclub) yang didirikan pada tahun 1921.

Karena interaksi yang intens antar organisasi mahasiswa yang berada di dalam negeri dan di luar negeri tersebut serta kesadaran yang kuat, beberapa klub studi di jakarta mengumpulkan dirinya ke dalam sebuah wadah yang disebut dengan Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI) pada tahun 1924 yang kemudian terus diperluas hingga pada tahun 1926 menjadi sebuah perhimpunan besar yang terdiri dari berbagai klub studi di beberapa daerah. Selain berinteraksi dengan klub studi juha berinteraksi dengan organisasi sosial lain seperti Muhamadiyah, SI dan Budi Utomo yang tergabung dalam sebuah kepanitiaan dengan nama Komite Persiapan Indonesia (KPI)
Pada Prosesnya pembentukan KPI menjadi inspirasi utama PPPI untuk melakanakan kongres pemuda pertama yang melahirkan kebutuhan identitas kolektif blok nasional yang kemudian di jawab dengan kongres pemuda kedua yang melahirkan nama Indonesia sebagai identitas kolektif nasional.

Proses tumbuhnya kesadaran kaum inteleketual yang salah satu ujungnya penemuan kata Indonesia pada sumpah pemuda bukanlah sebuah penemuan yang biasa dan tanpa latar belakang yang jelas. Kemunculan kebutuhan identitas kolektif tersebut merupakan sebuah bentuk reaksi sadar akan penjajahan dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda melalui kongsi dagang (baca : VOC) dalam kurun waktu 1602-1799 dan melalui pengambil alihan langsung oleh yurisdiksi pemerintahan Belanda yang dimulai dari 1814-1900. Kenangan penderitaan yang diterima oleh diri sendiri serta nenek moyangnya masing-masing menempel kuat dalam setiap benak manusia nusantara waktu itu. Dalam konteks demikian upaya membebaskan diri dari penindasan dengan mencari identitas sendiri yang tanpa penindasan menjadi hal wajar.

Segera setelah VOC dinyatakan bangkrut seluruh operasional dan asetnya diambil oleh yurisdiksi pemerintah Belanda. Menindaklanjuti hal tersebut, Daendels seorang administratur berpengalaman segera di utus untuk mengurus hal ihwal urusan perdagangan di Nusantara yang waktu itu sedang didominasi oleh perdagangan komoditas kopi dalam kurun waktu 1814-1830.

Setelah Daendels, petugas selanjutnya adalah Van Den Bosch yang menjalankan kebijakan tanam paksa dalam kurun waktu 1830-1870. Setelah era kebijakan tanam paksa usai, selanjutnya penjajahan Belanda memasuki suasana baru dengan penerapan kebijakan liberal dalam kurun waktu 1870-1890. Ciri menonjol dari sistem liberal ini adalah pembukaan pintu investasi bagi pihak asing selain Belanda untuk ikut menanamkan modalnya di Nusantara.

Layak di catat, lahirnya kebijakan liberal ini menimbulkan kebutuhan pemerintahan Belanda untuk merapihkan daerah kolonial secara administratif. Berdasar hal tersebut di penghujung abad 19 pemerintah kolonial membagai wilayah Indonesia secara administratif.

Pembagian babak pertama berdasar atas wilayah yang sudah di kuasai oleh kolonial. Pembagian babak dua, semua disatukan dalam satu wilayah administratif pemerintahan kolonial. Dengan adanya pembagian wilayah secara administratif ini kepentingan kolonial dan pemodal lainnya untuk berinvestasi menjadi lebih mudah karena adanya dukungan administrasi birokrasi dan jaringan komunikasi dalam jangkauan yang luas.

Kelak, berdasar atas dampak buruk dari penerapan berbagai macam kebijakan tersebut mendorong beberapa blok politik di Belanda mengusulkan pemberlakuan politik etis bagi negara kolonial melalui pertarungan politik di negeri Belanda.
Selain mendorong lahirnya politik etis, perlawanan yang dilakukan oleh rakyat di Nusantara juga menjadi salah satu perhatian penting pemerintah kolonial. Dalam kurun waktu 1802-1903 sejarah mencatat beberapa peperangan dengan bendera agama di beberapa daerah terjadi. Tercatat, pada kurun waktu 1802-1806 terjadi peperangan di Cirebon, 1825-1830 terjadi perang Diponegoro di Jawa, 1859-1862 terjadi Perang di Banjarmasin yang di pimpin oleh Pangeran Antasari, perang Jihad di Cilegon dalam kurun waktu 9-30 Juli 1888 dan Perang Aceh dalam kurun waktu 1873-1903.
Perlu di catat, walau perang terhadap kolonial ini lebih kental dengan label agama namun juga dapat dilihat bahwa gerakan perlawanan tersebut juga berlangsung di wilayah nya masing-masing. Jika dicermati beberapa wilayah peperangan tersebut masuk dalam wilayah Pulau Jawa dan Sumatera. Perlu di catat juga bahwa pembagian pulau Jawa dan Sumatera tersebut bukan merupakan pembagian administratif yang yang dilakukan oleh Pemerintah kolonial namun sudah ada sebelumnya sebelum pemerintah kolonial menancapkan kakinya di nusantara.

Namun jika melihat pada runtutan perlawanan terhadap kolonial dalam kurun waktu penjajahan VOC yaitu 1602-1799 tercatat beberapa perlawanan yang berbasis kedaerahan terjadi. Di Maluku, Perlawanan terhadap VOC yang di pimpin oleh Sultan Nuku hingga Pattimura. Di Mataram perlawanan terhadap VOC di pimpin oleh Sultan Agung dalam kurun waktu 1613-1645. Di Banten perlawanan di pimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa dalam kurun waktu 1651-1645.

Melihat pada asal daerah yang melakukan perlawanan pada era VOC ini, terlihat ada daerah di luar Pulau Jawa dan Sumatera yang juga melakukan perlawanan. Yaitu berasal dari kepulauan Maluku. Jika melihat pada asal daerah perlawanan sebelum dan sesudah VOC bercokol berarti terdapat tiga pulau. Namun perlu diingat bahwa daerah asal perlawanan ini merupakan daerah yang tercatat oleh sejarah. Di luar yang tercatat sejarah tentu saja ada daerah yang juga melakukan perlawanan.

Sedangkan melihat pada label gerakan serta wilayah asal perjuangan tersebut menjadi wajar jika gerakan perlawanan terhadap kolonial diberi label Islam karena Islam merupakan ajaran yang berkembang di Nusantara setelah ajaran Hindu, Budha terlebih dahulu berkembang periode itu.

Dalam catatan sejarah, perkembangan paham Islam berkembang pada periode abad 12-15. Pada abad ke 15 sekitar tahun 1520-an Kerajaan Majapahit berada dalam fase senjakala. Salah satu daerah kekuasaanya adalah Demak. Waktu itu Demak di pimpin oleh Raden Fatah yang dianggap sebagai putra Majapahit terakhir. Pada prosesnya, ajaran Islam yang dianut oleh Demak mendorong mereka untuk menyebarkan Islam secara lebih luas, salah satunya dengan memaksa kerajaan Majapahit untuk menjadi kerajaan Islam. Lalu pada penghujung abad 15 sekitar tahun 1527 ekpansi militer kerajaan demak berhasil menaklukan Majapahit.

Selain kerajaan Demak, pada abad ini sejarah mencatat beberapa kerajaan Islam juga berdiri, yaitu Kesultanan Banten (1527-1813), Kesultanan Cirebon (1552-1677), Kesultanan Mataram (1588-1681), Kerajaan Pagaruyung (1500-1825).
Lalu sebelumnya, pada abad 14 tercatat beberapa kerajaan bercorak Islam berdiri, Kesultanan Malaka (1400-1511), Kesultanan Aceh (1496-1903) namun tidak terlalu banyak refrensi yang mencoba menjelaskan bagaimana keterhubungan antara kesultanan Aceh dan Malaka berhubungan dengan kerajaan Demak serta kerajaan Islam yang berdiri pada periode abad 12 yaitu kesultanan Samudera Pasari pada periode sekitar 1267-1521, Kesultanan Ternate sekitar 1257-skrg yang merupakan generasi perintis kerajaan Islam di Nusantara.

Sementara itu sebelum ajaran Islam datang, ajaran Agama Hindu dan Budha merupakan ajaran yang berkembang di Nusantara. Ajaran agama budha dan Hindu berkembang terakhir pada abad 12 dan dimulai pada abad ke 4 M.

Abad ke 14 ketika Kerajaan Demak menaklukan Majapahit merupakan penanda penting berakhirnya perkembangan kerajaan dengan corak hindu dan Budha. Sebelum kerajaan Majapahit berdiri ada dua kerajaan yang berdiri di abad 12, yaitu kerajaan Singhasari (1222-1292).

Pada abad ke sebelas tidak tercatat dalam sejarah ada kerajaan Hindu Budha yang berdiri, kecuali pada abad ke 10. Di abad ini tercatat ada beberapa kerajaan bercorak Hindu Budha yang berdiri yaitu Kerajaan Kediri (1045-1221), Kerajaan Kahuripan (1006-1045). Sementara itu pada abad ke sembilan hanya tercatat satu kerajaan saja yang berdiri yaitu Kerajaan Sunda (932-1579).

Sebelumnya, pada periode abad 8-3 tercatat beberapa kerajaan Hindu Budha berdiri yaitu, Sailendra (Abad 8-9), Kerajaan Medang (752-1006), Sriwijaya (Abad 7-13), Kalingga (Abad 6-7), Kutai (Abad 4).

Namun sebenarnya jika melihat pada runutan perkembangan ajaran Hindu dan Budha itu sendiri, sebenarnya yang mulai pertama kali berkembang di Indonesia adalah ajaran Agama Hindu. Pada periode 320-550 SM, Kerajaan Gupta mengirimkan beberapa guru pengajar agama Hindu, yaitu Dharmapala dan Sakyakirti untuk mengajarkan ajaran Hindu di Kerajaan Sriwijaya. Lalu sekitar tahun 414 dan 671 Masehi Agama budha mulai menyebar di Kerajaan Tarumanagara. Ketika itu dua biksu pendatang dari China datang dan menetap untuk beberapa lami di Nusantara. I Tsing menetap di Kerajaan Sriwijaya selama 4 tahun dan Fa Hien menetap di Tarumangara selama 6 Bulan.

Di luar masuknya ajaran Hindu dan Buddha, dalam runutan sejarah tercatat wilayah Nusantara di datangi oleh migrasi penduduk China dalam beberapa generasi. Generasi ketiga migrasi penduduk China datang ke Nusantara periode 206-211 SM. Migrasi penduduk China waktu itu terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Han. Generasi kedua Migrasi penduduk China terjadi sekitar 233 SM ketika dinasti Chi In memerintah. Migrasi penduduk China waktu itu terjadi karena di China sedang terjadi perang antara suku yang satu dengan suku yang lain. Begitu juga dengan generasi pertama migrasi yang terjadi sekitar tahun 1122-222 SM disebabkan karena terjadinya perang suku pada era dinasti You.

Namun mengenai migrasi penduduk China ini, ada juga versi yang mengatakan bahwa migrasi pertama kali penduduk China ke Indonesia terjadi pada 5000-3000 Masehi. Kala itu penduduk China yang bermigrasi tersebut berasal dari China Selatan atau sekarang atau sekarang kira-kira berada di Provinsi Yunan.

Namun sebenarnya jika melihat pada perkembangan pembentukan kepulauan di Nusantara, migrasi penduduk dari luar ke dalam nusantara bukanlah yang pertama. Migrasi yang pertama justru adalah migrasi penduduk Nusantara ke berbagai daerah di Asia Afrika dan lainnya.

Jauh sebelum gugusan kepulauan Nusantara terbentuk, nun jauh di sana ketika jaman es terjadi, gunung es di kutub utara membeku dan laut surut. Efek dari hal tersebut maka terbentuklah dua daratan baru yang dinamakan dengan daratan Sahul yang merupakan ekstensi dari Benua Australia dan New Guinea, dan daratan Sunda yang diatasnya terdapat rangkaian pegunungan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian Gunung Himalaya.

Di dataran sunda sebelah barat terbentuk beberapa gugusan pulau yang meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan ribuan pulau lainnya yang menjadi daratan Asia Tenggara. Di sebelah timur Daratan Sunda, daerah-daerah yang terbentuk di pisahkan oleh Palung Laut yang membujur antara Sulawesi dan Kalimantan di Utara serta antara Bali dan Lombok di Selatan. Namun pada periode akhir jaman es, kedua dataran ini sebagian tenggelam karena mencairnya lapisan es di kutub sehingga permukaan air laut kembali naik. Hanya beberapa deretan pegunungan saja yang tersisa. Kelak deretan pegunungan tersebut yang kemudian akan menjadi kepulauan Indonesia dan Philipina.

Proses mencairnya es ini menyebabkan manusia yang berada di dataran Sunda yaitu manusia purba(Homo Sapiens) yang juga merupakan cikal bakal manusia di Nusantara bermigrasi untuk menghindari lelehan es tersebut. Ketika manusia purba ini bermigrasi mereka sudah membawa peradaban dan ilmu pengetahuanya seperti pengetahuan Bahasa, bertani bahkan kemampuan untuk membuat perahu. Menurut beberapa pihak, migrasi ini juga lah yang kemudian menjadi tumbuh suburnya budaya neolitikum di China, India, Mesopotami, Mesir dan Metditerania Timur.

Melihat pada lajur migrasi manusia purba ini terdiri dari dua lajur. Lajur pertama adalah ke Barat. Dalam perjalananya ke Timur, manusia purba ini berhasil sampai di dangkalan yang kedua yaitu dangkalan Sahul yang tidak berpenghuni. Teori terkini mengatakan bahwa manusia purba yang menyebarang hingga dataran Sahul ini adalah manusia purba dengan jenis Homo Sapiens yang pada prosesnya manusia purba jenis ini kelak akan menjadi nenek moyang penduduk Papua dan Kepulauan Melanesia serta Aborigin di Australia ayng disebut dengan istilah ras Austromelanosoid.
Sementara migrasi penduduk purba ke barat berhasil sampai ke daerah Sumatera, Semenanjung Melayu lalu bertolak kearah Utara yaitu Muangthai Selatan sampai ke Vietnam Utara.

Selanjutnya setelah jaman es berakhir, dan terbentuk kepulauan Nusantara masyarakat Nusantara telah mengembangkan berbagai pengetahuan dan kebudayaan. Mereka mengembangkan pertanian, peternakan dan memelopori perdagangan maritim yang terbentang dari Madagaskar di Samudera Hindia hingga Samudra Pasifik. Selain itu mereka juga mengembangkan sistem kepercayaanya sendiri yang bercorak animisme dan dinamisme.

Menurut beberapa kalangan, jalur migrasi masyarakat Nusantara ini pada prosesnya membentuk sebuah poros maritim dengan sebutan Nusantao. Dalam alur perdagangan ke arah timur, jaringan ini menjangkau kepulauan Pasifik dan mulai melakukan perdagangan batu kaca.

Sementara itu, dalam alur perdagangan ke Barat, jaringan ini mempelopori perdagangan di samudera Hindia, hingga mencapai pantai timur afrika dan menjadi pemicu dalam hubungan perdagangan antara Romawi dan India dengan timur jauh terutama dalam perdagangan rempah-rempah dan kayu manis.

Jalur Nusantao ini kemudian menginjak tahun masehi pada abad pertama. Pada abad ini perdagangan rempah-rempah mulai berkembang. Dengan menggunakan perahu jenis Gandung hasil bumi berupa kayu, kapur barus, kemenyan, damar pinus, emas ke pelabuhan Indonesia dan China bagian selatan untuk ditukarkan dengan kain, porselen dan barang-barang dari logam.

Pada prosesnya alur perdagangan tersebut memicu kekuatan lain untuk ikut ambil bagian dan mengendalikan rute tersebut. Pada akhirnya rute Nusantao ini menjadi rute yang digunakan oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara seperti Kerajaan Sriwijaya dan Mataram Kuno pada abad ke 7 dan Majapahit pada abad 14-15 yang bercorak hindu budha dan bercorak Islam pada abad 12.

Melihat pada renetan sejarah tersebut, bisa disimpulkan bahwa perkembangan Indonesia dari mulai penemuan kata Indonesia di tahun 1926 sampai dengan periode awal pembentukan nusantara yang berawal dari pembentukan dua daratan merupakan perkembangan yang begitu dinamis.

Namun jika melihat pada rentetan sejarah tersebut periode paling dinamis adalah ketika fase sebelum jalur perdagangan Nusantao direbut oleh kekuatan politik yang lebih dominan. Pada periode awal pembentukan nusantara dapat dilihat bahwa awal mula terjadi arus barang dan pengetahuan bermula dari Indonesia lalu kemudian mendapatkan arus barang dan pengetahuan kembali dari negara target perdagangan.

Pola seperti ini setidaknya dapat terlihat dengan jelas sampai dari periode Kerajaan Sriwijaya dan Mataram Kuno abad ke 7 serta Majapahit pada abas 17 dan Islam pada abad 12-13. Proses pertukaran barang dan pengetahuan waktu itu masih bersifat dua arah yang berefek pada kemajuan peradaban di kerajaan Nusantara.

Namun setelah era itu selesai, ketika armada Portugis tiba di Maluku pada tahun 1511 dan armada dagang Belanda datang ke Banten pada tahun 1596 yang kemudian diikuti dengan penyatuan seluruh armada dagang Belanda ke dalam wadah VOC di tahun 1602 dinamika pertukaran pengetahuan dan perdagangan tidak lagi dinamis namun lebih banyak didominasi oleh ekploitasi oleh armada dagang tersebut.

Kolonialisasi yang dilakukan oleh Belanda dan Portugis telah membawa sejarah Indonesia ke dalam masa kekelaman. Kedatangan kaum kolonial tersebut membuat kejayaan Nusantara menjadi terhenti sama sekali. Tidak ada kemajuan pengetahuan bagi kaum pribui di periode itu. Kondisi di nusantara telah betul-betul berubah dari dinamis menjadi statis. Jika kita mau menyebut, ini lah periode pertama kemunduran nusantara sebelum kemunduran lain menyusul.
Selain itu, setelah masuknya kolonialisme perkembangan pendirian kerajaan dengan berbagai coraknya juga berhenti sama sekali. Hal ini berarti pengelompokan daerah secara adminisratif selesai sampai di sini. Dalam catatan sejarah, tidak pernah ada perubahan yang signifikan mengenai perluasan atau pengembangan wilayah daratan dan perairan di Indonesia, kecuali lepasnya Timor Leste dan pencaplokan beberapa pulau kecil di perbatasan.

Dar Filsafat Lisan Ke Tulisan : Dari Diaspora ke Hibriditas

Perkembangan pemikiran filsafat adalah perkembangan pemikiran yang mengikuti perkembangan suatu bangsanya sendiri. Begitu pula dengan perkembangan filsafat dari era Nusantara ke Indonesia adalah perkembangan pemikrian filsafat dari era setelah jaman es hingga sekarang ketika era pasca reformasi.

Jika pemikiran filsafat dipahami sebagai karya lisan dan tulisan, maka sebenarnya karya pemikiran filsafat yang pertama kali berkembang di Nusantara adalah pemikiran filsafat secara lisan. Berdasar berapa catatan sejarah, tradisi lisan bisa ditemuai pada masyarakat adat Benuaq pada kurun waktu 3500-2500 SM. Pemikiran filsafat lisan ini berisi tentang asal mula alam semesta. Dalam pemikiran Dayak Benuaq disebutkan bahwa pada awal mulanya dunia ini ditandai dengan adanya burung raksasa yang disayapnya membawa dua hal penting, yaitu bumi dan langit.

Selain suku dayak, sejarah juga mencatat bahwa Suku Batak mempunyai pemikiran filsafatnya sendiri mengenai proses awal mula penciptaan alam semesta ini. Pada periode yang sama dengan dayak Benuaq, Suku Batak meyakini bahwa sebenarnya tidak ada siapa –siapa di dunia ini lalu setelah itu muncul satu sosok Debata. Sosok Debata ini yang kemudian menjadi awal dari semuanya kehidupan sampai dengan sekarang.

Warna pemikiran di Nusantara sedikit berbeda ketika para imigran China generasi pertama muncul sekitar tahun 1122-222 SM. Namun imigran China ini tidak terlalu memberikan banyak waran pemikiran karena ketika sebelum mereka bermigrasi ke Nusantara di China sendiri waktu itu belum berkembang pemikiran filsafat. Perkembangan filsafat mulai menguat di China pada periode 605-221 SM. Dalam kurun waktu tersebut lahir beberapa filsafat China yang sampai dengan sekarang gaungnya masih terdengar.

Periode 605-531 ditandai dengan lahirnya pemikiran filsafat Lao Tzu lalu pada periode 551-479 SM lahir dan berkembang filsafat konfusius.

Lalu pada periode 235 SM terjadi perang suku yang ke dua di China yang pada akhirnya menyebabkan migrasi China gelombang ke dua ke Nusantara. Sedikit berbeda dengan generasi pertama, migrasi generasi ke dua ini dibarengi dengan masyarakat yang sudah mengenal pemikiran filsafat. Migrasi gelombang ke tiga masyarakat China ke Indonesia terjadi pada periode 206-221 SM ketika Dinasti Han bercokol. Pada periode ini, migrasi masyarakat China terjadi ketika filsafat konfusius sedang menjadi filsafat yang diakui secara resmi oleh Dinasti Han.

Gelombang pemikiran dengan warna lain terjadi lagi di Nusantara pada periode 414- 1500 M. Pada periode ini pemikiran yang berlandas atas ajaran Budha dan Hindu mulai masuk dan berinteraksi dengan kepercayaan dinamisme dan animisme yang sudah terlebih dahulu di anut oleh masyarakat Nusantara pada periode awal sesudah zaman es berakhir.
Pada tahun 414 agama budha mulai menyebar di Nusantara tepatnya di Kerajaan Tarumanagara. Salah satu tokoh kunci penyebaran ajaran Budha pada periode ini adalah seorang penganut ajaran Budha berkebangsaan mandari bernama Fa Hsien. Dalam catatan sejarah, Fa Hsien menetap selama enam bulan di Kerajaan Tarumanagara setelah sebelumnya mengunjungi India untuk memperdalam ajaran Budha selama kurang lebih sepuluh tahun.

Pada periode 671 M ajaran Budha selanjutnya berkembang di Kerajaan Sriwijaya. Selama kurang lebih dari enam tahun seorang Bhiksu bernama I Tsing menetap. Selama di Sriwijaya, I Tsing menerjemahkan sebuah sutra mengenai Nirwana dengan di bantu oleh seorang ahli jawa yang bernama Jnanabhadra.

Selain itu pada kurun waktu 671 Kerajaan Sriwiajaya telah menjadi tempat penting bagi perkembangan ajaran Buddha dengan menjadi pusat perkembangan agama Buddha. Salah satu satu pengajar yang dianggap paling berpengaruh adalah Sakyakirti. Pada periode itu terdapat hampir 1000 orang pendeta yang berguru kepada Sakyakirti di Sriwijaya.

Ajaran Hindu mulai dikenal dan masuk ke Indonesia sesudah kerajaan Pallawa yang bercorak hindu mulai berkembang di India pada periode 750-350. Salah satu bukti pengaruh ajaran Hindu di Nusantara adalah banyaknya ditemukan hurup pallawa yang digunakan di kerajaan-kerajaan di Indonesia.

Setelah ajaran Hindu berkembang, periode berikutnya mulai terjadi proses adaptasi ajaran hindu, budha dan ajaran lokal. Perpaduan itu terlihat pada periode 400 M di kerajaan Kutai. Salah satu penandanya adalah pembuatan empat tiang batu pemujaan kepada dewa. Raja yang memerintah pada periode ini adalah Ashwawarman, Dewawarman dan Mulawarman.
Lalu pada tahun 450 M, perpaduan ajaran Hindu Budha tersebut juga diadopsi oleh Kerajaan Tarumanagara dengan raja yang memerintah waktu itu adalah Raja Purnawarman.Jejak hindu mulai dapat dilihat di kerajaan Nusantara pada periode 600-645 M. Kala itu nama-nama hindu mulai di pakai sebagai nama raja-raja seperti Mahendramawan, Narasimarwan.
Periode berikutnya pengaruh Hindu Budha semakin menguat dengan ditandai pembangunan beberapa Candi dan penerjemahan beberapa kitab Budha. Tercatat oleh sejarah bahwa dalam periode 750 Raja Wishnu pada Dinasti Syailendra memulai pembangunan Candi Borobudur. Lalu pada tahun 900 Ajaran Hindu Budha berkembang di Kerajaan Medang di susul di Kerajaan Balitung pada periode 929.

Perkembangan ajaran Budha di Kerajaan Medang menjadi salah satu momentum penting dalam penyebaran ajaran Budha karena pada periode tersebut dilakukan penerjamahan kitab Budha yang berjudul Sang Hyang Kamanikan . Penerjemahan ini terjadi di era Raja Sambhara dan Suryawarana. Lalu pada tahun 991-9006 M kitab Mahabarata di terjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno pada periode raja Darmawangsa.

Selanjutnya momentum penting perkembangan ajaran Hindu adalah penyusunan Kita Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca dan Kitab Kakawin Ramayana pada era Kerajaan Majapahit. Kitab Negara Kertagama adalah kitab yang berisi puisi epik berbahasa jawa kuno yang berisi filsafat pemikiran Raja Kartanegara. Sedangkan Kitab Kakawin Ramayana adalah kitab terjemahan epik hindu yang disesuaikan dengan alam pikiran masyarakat waktu itu. Sebagian kalangan ada yang mengatakan bahwa kitab Kakawin Ramayana adalah kitab yang mengisahkan cerita Ramayana namun mempunyai perbedaan dalam pembabakan dan akhir dari cerita tersebut.

Periode perkembangan secara mendalam perkembangan pemikiran filsafat Hindu Budha berhenti pada abad 11, karena pada abad berikutnya, pemikiran filsafat Islam mulai berkembang di Nusantara. Awal mula perkembangan pemikiran filsafat Islam dimulai pada periode 1267. Ketika itu Kerajaan Samudra Pasai yang bercorak Islam mulai mengembangkan ajaran Islam.

Lalu pada periode 1475 berdiri kerajaan Islam Demak yang menyebarkan pemikiran filsafat Islam dengan cara melakukan peperangan melawan kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Kerajaan Majapahit dapat ditaklukan oleh Kerajaan Demak sehingga akhirnya Islam semakin menyebar ke Nusantara.

Pada abad ini, selain Majapahit, kerajaan bercorak Hindu Buddha yang juga runtuh adalah kerajaan Padjajaran. Kerajaan Padjajaran runtuh oleh serangan dari Kerajaan Banten yang berdiri pada tahun 1526 dan Kesultanan Cirebon yang berdiri di tahun 1522. Perlu di ketahui bahwa kelahiran kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon tidak bisa lepas dari peran kerajaan Demak yang berambisi menyebarkan Islam ke pelosok Jawa.

Selain kerajaan Demak, kerajaa Islam lain yang mencoba meneruskan pengaruh kekuasaan dan pemikiran filsafat Islam adalah kerajaan Mataram. Pada periode 1600 Kerajaan Mataram melakukan ekspansi ke wilayah Priangan salah satunya adalah Cirebon.

Pada periode tersebut kerajaan Mataram berhasil menaklukan kerajaan Cirebon. Namun tidak lama kemudian, karena perpecahan dalam tubuh Keraton Mataram, Kerajaan Mataram takluk kepada VOC melalui sebuah perjanjian pada tahun 1667. Dengan demikian penyebaran agama Islam melalui cara kerajaan berhenti sampai di sana.

Namun penyebaran pemikiran filsafat Islam tidak berhenti sampai di sana. Perkembangan Islam di daerah di luar jawa terus berlangsung namun ajaran filsapat pemikiran Islam yang disebarkan adalah pemikiran Islam aliran Ghazalian. Tokoh Islam yang merupakan penganut aliran ini adalah Nurudin Araniri, Abdul Rauf Singkel, Syeh Yusup Makasar. Penyebaran Islam aliran ini berkembang pada periode 1666-1836.

Selanjutnya, pada periode 1715-1730 salah satu momentum penting penyebaran pemikiran filsafat Islam terjadi. Pada periode tersebut di susun beberapa serat yang berkaitan dengan perkembangan Islam dan beberapa kitab dan carita, yaitu Serat Menak, Carita Iskandar, Carita Yusup, Suluk Garwa Kencana dan Kitab Usul Biyah. Penyusunan beberapa karya pemikiran ini berlangsung di era pemerintahan Ratu Pakubuwana II.

Perkembangan pemikiran Islam tidak berhenti sampai di sana, akan tetapi penyebaran pemikiran Islam memasuki babak baru karena Islam yang dikembangkan merupakan ajaran Islam yang direformasi (baca : wahabiyah). Paham wahabiyah ini berkembang di Jawa pada masa pemerintahan Sultan Pakubuwono periode 1790. Paham ini berkembang di luar Jawa tepatnya di Minangkabau pada periode 1803. Salah satu tokoh kuncinya adalah Haji Piabang. Lalu pada tahun 18037 perkembangan paham wahabiyah ini dikomandoi oleh Tuanku Imam Bonjol.

Perkembangan Islam berikutnya terjadi pada periode 1900-an melalui pemikiran beberapa tokoh pergerakan yang telah mendapatkan pendidikan sebagai akibat dari politik etis. Pada periode ini tercatat beberapa tokoh pergerakan kemerdekaan yang menyebarkan paham Islam melalui karya tulisan masing-masing.

Pada periode tersebut tercatat, Natsir membuat sebuah karya tulis dengan judul “Indonesisch Nationalisme”, “Demokrasi di bawah bayang-bayang Kebangsaan Muslimin”, lalu “Persatuan Agama dan Negara”. Selain itu Agus Salim juga membuat karya tulis dengan judul “Tjinta Bangsa, Tjinta Tanah Air dan Tjinta Kebangsaan”. Lalu Tjokro Aminoto menyusun karya tulis dengan judul “Islam dan Sosialisme.

Pada kurun waktu 1911-1983, Kasman Singodimedjo menyusun karya tulis dengan judul “Bunga itu Bukan Riba dan Bank itu Tidak Haram” dan Soekarno denan judul “ Memudakan Pengertian Islam”.

Penulisan pemikiran Islam tersebut mendapatkan interupsi dari beberapa tokoh yang sempat mengenyam pendidikan di barat. Beberapa pemikir tersebut adalah Hatta yang pada tahun 1908 menulis karya ilmiah dengan judul “Alam Pikiran Yunani”, lalu Soekarno menyusun sebuah buku fenomenal yang berisi esai-esainya pada periode 1926-1941 dengan judul “Dibawah Bendera Revolusi”. Pada tahun 1943 Tan Malaka juga menyusun sebuah karya tulis fenomenal yang sampai dengan sekarang masih sering di bicarakan yaitu “Madilog”. Aidit menyusun karya tulis dengan judul “Marxisme dan Revolusi di Indonesia, lalu Syahrir menyusun karya tulis dengan judul “ Perjuangan Kita” pada tahun 1945.

Menginjak tahun 1945 perkembangan pemikiran filsafat memasuki sebuah babak baru yang sangat prestisius atau disebut dengan salah satu puncak pertarungan pemikiran filsafat. Sidang-sidang BPUPKI menjadi rangkaian puncak pertarungan filsafat antar pemikiran.

Untuk sekedar mengklasifikasikan, pada rangkain sidang BPUPKI pemikiran filsafat terbagi ke dalam tiga kubu. Pertama, adalah kubu filsafat religius. Kubu ini terdiri dari Ki Bagose Hadikusumo, Abdul Halim, Mas Mansoer, Kasman Singodimedjo, Agus Salim, Abikoesno, Maramis, Latuahrhary dan Siti Soekaptinah. Kedua, adalah kubu Sosialisme Nasional. Kubu ini terdiri dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soepomo, Yamin, Iwa Kusuma, Koen Hian Liem, Sayuti Melik dan Ratulangi. Ketiga, adalah kubu Nasionalisme Moderat.Kubu ini terdiri dari Ki Hadjar, Woerjaningrat, Wongsonagoro, Soekardjo, Radjiman Wedyodiningrat.

Pada akhirnya, pertarungan ini dimenangkan oleh kubu sosialisme nasional yang di komandoi oleh Soekarno. Kemenangan kubu sosialisme nasional ini menjadi momentum penting bagi perkembangan pemikiran filsafat sekaligus juga perkembangan negara Indonesia. Karena keluaran dari puncak pertarungan itu adalah dasar negara yang kita sebut sekarang dengan PANCASILA.

Setelah puncak pertarungan tersebut selesai, periode perkembangan filsfat lebih berkembang ke arah perkembangan filsafat teoritis semata. Pada fase in tercatat beberapa karya dari kalangan teoritikus lahir. Kuntowijoyo menulis “Paradigma Islam : Interpretasi Untuk Aksi “, Moeslin Abdurahman menulis “ Islam Tranformatif”, Abdurahman Wahid “Kiri Islam”, AS Hikam “ Defendensi Dunia Ke Tiga”, Bambang Soegiharto menulis “ Filsafat Postmodern”.
Dari kalangan akademis, di mulai pada tahun 1981 Franz Magnis menulis “Etika Djawa”, “Pemikiran Karl Marx : Dari Sosialis Utopis”, TH Sumartana menulis “ Teologi Pembebasan”.

Perkembangan pemikiran filsafat berikutnya memasuki fase baru yaitu yaitu fase perlawanan terhadap dominasi penguasa orde baru. Pemikiran filsafata yang digunakan mendorong beberapa orang untuk membuat sebuah lembaga yang mengejawantahkan suara perlawanan terhadap dominasi orde baru.Pada tahun 1995-1996, Sri Bintang Pamungkas mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI), Budiman Sudjatmiko, dkk mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD), Nuku Sulaeman melancarkan perlawanan melawan SDSB, Dita Indah Sari mendirikan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID).

Perkembangan perlawanan tersebut, pada prosesnya mengantarkan Perkembangan pemikiran filsafat Indonesia kembali menemui momentum pentingnya ketika era reformasi . Pada fase itu pemikiran filsafat mendapatkan sebuah pertanyaan penting mengenai perubahan yang harus terjadi dan masa depan seperti apa yang pas untuk konteks Indonesia setelah reformasi.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pemikiran filsafat terbagi ke dalam beberapa kelompok. Pertama, kelompok Reformatif. Kelempok ini menghendaki perubahan di Indonesia dilaksanakan dengan cara reformatif. Pemikir kelompok ini adalah Deny ZA, Rizal Malaranggeng, Yusril Ihza Mahendra. Kedua, kelompok Transformasi revolusi damai. Kelompok ini menghendaki perubahan di Indonesi ditempu dengan cara revolusi damai tanpa ada pertumpahan darah. Kelompok ini terdiri dari Mangunwijaya. Kelompok ketiga, menginginkan perubahan di capai dengan jalan revolusi. FORKOT merupakan organisasi utama dalam kelompok ini. Keempat, kelompok demokratisasi yang mengendaki perubahan di tempu dengan jalan demokratisasi yaitu menggunakan elemen-elemen demokrasi yang telah ada. Kelompok ini terdiri dari Juwono Sudarsono, Megawati, Gusdur, Nurcholish Madjid, Amien Rais, Budiman Sudjatmiko, Sri Bintang, J Kristiadi.

Dari runutan perkembangan pemikiran tersebut secara tidak langsung terbangun sebuah pola pengembangan pemikiran filsafat dari masa ke masa. Pada periode awal perkembangan pemikiran terlihat bahwa ajaran hindu menyebar ke berbagai daerah, lalu kemudian di susul oleh penyebaran ajaran Buddha dan selanjutnya adalah penyebaran dan pengembangan ajaran Hindu Buddha di beberapa kerajaan.

Setelah itu, ajaran Islam yang kemudian mendapatkan giliran untuk berkembang. Berkembangnya ajaran Islam ini berjalan dalam rute pengembangan pemikiran yang sebelumnya sudah berdiri pada era Hindu Buddha dan rute yang belum di sentuh oleh ajaran Hindu Budha.

Setelah Islam perkembangan Islam berhenti, tidak lagi ditemukan perkembangan pemikiran berdasarkan agama yang signifikan. Setelah Hindu, Buddha da Islam berhenti berkembang, perkembangan pemikiran filsafat bergerak dalam rute nusantara yang telah dibentuk oleh kalangan kolonial.

Sesudah politik etis berkembang hingga menjelang era kemerdekaan babak baru pemikiran filsafat Indonesia memasuki babak baru. Berangkatnya beberapa anak bangsa untuk menuntut ilmu ke negeri Barat di Ikuti oleh arus masuk pemikiran barat. Hal ini terlihat dari beberapa karya tulis lulusan sekolah tinggi di barat yang kembali lagi ke Indonesia untuk meraih kemerdekaan Indonesia.Pola arus masuk pemikiran barat ini berlangsung hingga sekarang.

Masuknya pemikiran-pemikiran filsapat barat melalui kalangan terdidik telah membawa dinamika baru pengembangan filsapat yang berbeda dengan ketika pemikiran filsafat era perkembangan ajaran Hindu Buddha. Dengan demikian dari era setelah jaman es berakhir sama dengan sekarang ada berbagai corak pemikiran filsafat yang berkembang di Indonesia yaitu ajaran Islam, Hindu Buddha, serta ajaran filsafat barat yang juga terbagi ke dalam beberapa bagian.
Perlu juga di catata bahwa perkembangan pemikiran filsafat yang di mulai pada era ketika tradisi lisan di Dayak Benuaq sampai dengan sekarang era pascar reformasi tidak saling menegasikan antara satu sama lainnya. Perkembangan filsafat Hinddu Buddha tidak lantas menghapus filsafata lisan Suku Dayak, perkembangan pemikiran Islam tidak lantas menghapus pemikiran Hinddu Buddha dan perkembangan pemikiran filsafat barat tidak lantas menghapus pemikiran filsafat lisan, filsafat Islam, juga filsafat Hindu dan Buddha. Semua pemikiran tersebut sepertinya bergerak dalam rute nya masing-masing yang ditemukan dan dibangun sejak awal mula ajaran tersebut dikembangkan.

Melihat perkembangan pemikiran tersebut kata diaspora dan hibriditas sepertinya merupakan kata yang pas. Diaspora yang diartikan sebagai “penyebaran” atau “penaburan benih” pas untuk mengungkapkan fase penyebaran pemikiran di awal ketika pemikiran Hinddu Buddha dan Islam berkembang sampai dengan perkembangan Islam terakhir di abad 15.

Fase sesudah abad lima belas ketika VOC bercokol sampai dengan sekarang pas di sebut dengan istilah hibriditas yang diartikan sebagai persilangan antara pemikiran yang satu dengan pemikiran yang lain, seperti persilangan antara pemikiran Hinddu, Buddha Islam dengan pemikiran filsafat barat yang salah satu sumbernya adalah filsafat Yunani.
Catatan Akhir

Jika melihat pada fase-fase perkembangan dari Nusantara ke Indonesia dan dihubungkan dengan perkembangan pemikiran filsafat dapat dilihat bahwa pada fase-fase dinamis terjadi ketika pemikiran Islam, Hindu dan Budhha berkembang. Namun jauh hari sebelum perkembangan pemikiran filsafat itu berkembang, orang-orang di Nusantara telah melakukan migrasi ketika fase nusantara awal berkembang, lalu setelah itu terjadi arus masuk pada fase perkembangan Hinddu Buddha dan Islam. Namun pasca perkembangan Islam, Hindu Buddha tidak lagi ditemukan arus migrasi baik perdagangan atau pemikiran yang keluar dari Indonesia.

Kolonialisasi yang dilakukan oleh Portugis, Belanda dan Jepang berperan signifikan dalam penghentian arus migrasi dari Indonesia ke negeri yang lain. Baik perkembangan pemikiran maupun perkembangan perdagangan mengalami ketimpangan terutama setelah era kolonialisasi di mulai sampai dengan sekarang. Dari era kolonialisasi sampai dengan sekarang sepertinya kita memasuki era yang statis dan cenderung pasif.

Dari pada sebagai penyumbang pemikiran, bangsa kita menjadi bangsa yang lebih banyak memakai pemikiran orang lain untuk di gunakan di negeri sendiri. Dalam rentetan sejarah tentu saja perkembangan tersebut tidak berdiri sendiri, namun ada banyak faktor yang menyebabkan terjadi.

Kembali lagi pada pertanyaan di awal, benarkah kemerosotan bangsa ini di berbagai bidang disebabkan oleh kesalahan masyarakat kita dalam memilih dan mengembangkan pemikiran filsafat untuk membangun negeri ini?atau ternyata ini bukanlah sebuah kesalahan tetapi konsekuensi logis atas perkembangan pemikiran filsafat di masa lalu dari mulai periode pra nusantara, nusantara kemerdekaan hingga sekarang paska reformasi?jika ini memang kesalahan kolektif dan juga merupakan konsekuensi logis atas rentetan pengembangan pemikiran filsafat dari masa ke masa bagaimana kita akan membangun dan mengembangkan pemikiran filsafat ke depan?mari kita berdiskusi.
.