Euis, dua  tahun lalu adalah gadis kampung yang rajin sekolah dan rajin mengaji. Dengan bimbingan dari ustadz, guru di pesantren dan sekolah berbagai pelajaran umum dan beberapa kitab kuning dipelajari dengan penuh sabar dan tekun.

Hasil ulangan, ujian dan beberapa nilai yang menjadi bukit penguasaan anak sekolah dan santri semua proses mencari ilmu di jalani tidak terlalu menjadi faktor penentu mereka menimba ilmu. Semangat untuk belajar lebih besar dari semangat untuk mendapatkan nilai dalam jumlah tertentu.

Pesantren dan sekolah selain tempat menimba ilmu dunia dan agama sering kali juga menjadi tempat pelipur lara dari semua beban masalah yang mendera. Dari berbagai permasalahan keluarga yang sering kali berwujud dalam permasalahan ekonomi sampai permasalahan perjodohan yang dipaksakan oleh orang tua.

Ketika datang ke sekolah dan ke kobong, semacam asrama untuk para santri yang tinggal di pesantren semua permasalahan tersebut menguap begitu saja. Masalah tersebut menguap bersamaan dengan berbait bait nadhoman yang di hapal saban waktu.

Bahkan, untuk memperkuat niat menuntut ilmu dan menjadikan semakin betah, Euis membuka dirinya kepada salah satu ustadz di pesantrenya tersebut. Hal tersebut menyebabkan selalu ada semangat yang terpelihara ketika akan pergi mengaji. Dengan demikian, hapalan nadhoman  akan semakin banyak yang dikuasai.

Namun demikian, sering kali waktu merubah semua hal dengan mudah. Tiga tahun sudah waktu sekolah dan pesantren di lewati. Euis, sebagai siswa madrasah dihadapkan pada dua pilihan yang sama penting. Melanjutkan pendidikan di pesantren atau pergi ke kota untuk mencari kerja demi penghidupan yang lebih baik.

Ngaji di pesantren adalah pilihan yang paling baik, namun tentu saja itu tidak gratis. Euis harus terus mendapatkan bekal untuk hidup di pesantren. Sementara orang tuanya  sendiri memandang pesantren sebagai pendidikan kedua setelah sekolah.

Di sudut yang lain dalam waktu bersamaan, kerabat-kerabat Euis menawarkan pekerjaan nun jauh di kota sana. Ke kota walaupun bukan pilihan yang paling baik akhirnya harus di jelang.

Kota, bagi Euis hampir sama dengan hutan belantara yang lebih sering di lihat dan di dengar dari pada dijelajahi. Namun, pilihan tersebut mengharuskan Euis menjelajahi kota-kota dengan seksama. Menikmati hilir mudik mobil, sisi-sisi gelap malam perkotaan dan tentu saja aturan-aturan pekerjaaan yang tidak bisa di tolak.

Berbekal dengan tubuh yang semampai, rambut yang terjurai, bibir yang memerah dan kulit yang putih, Euis pergi ke kota. Tidak berselang lama, pekerjaan sebagai pramuniaga beberapa produk susu formula mulai di jalani dengan beberapa aturan yang tidak bisa di langgar.

Aturan tersebut adalah tentu saja tidak boleh memakai jilbab dan kerudung. Rambut  yang panjang harus terlihat tergerai, tubuh yang semampai tak baik di tutupi oleh baju yang panjang. Ini penting agar konsumen tertarik untuk mengobrol terlebih dahulu. Obrolan yang hangat dengan konsumen menjadi syarat utama bagi seorang pramuniaga untuk dapat menjual barang dagangannya.

Menurutnya, pada awalnya semua itu  terasa canggung, karena belum terbiasa dan masih mempunyai hubungan dengan ustadz. Namun setelah beberapa minggu rasa canggung tersebut perlahan menghilang seiring dengan berakhirnya hubungan dengan ustadznya ketika dipesantren.

Euis mulai akrab dengan kota dan mulai lupa dengan pasal-pasal dalam kitab-kitab kuning serta nadhoman yang di hapal tempo hari. Bait-bait nadhoman tersebut mulai berganti dengan jadwal kerja yang padat, lampu lampu kota yang terang, deru mesin mobil.Denyut nadi kota semakin terasa ketika di sela-sela waktu lenggang diajak oleh temannya untuk menjadi model beberapa produk otomotif dan kecantikan.

Euis, dalam denyut nadi kota tidak lagi mampu mengingat bait bait nadhoman dan pasal-pasal dalam kitab kuning. Semua itu tinggal kenangan. Tidak ada jalan memutar bagi Euis untuk kembali mengingat hapalan nadhoman dan pasal pasal dalam kitab kuning atau untuk sekedar mengingat kembali kenangan manis bersama sang ustadz. Dalam bayangan Euis, hanya terbayang bagaimana caranya agar bisa menjalani kehidupan di kota dan mengumpulkan rupiah demi rupiah sebelum jodohnya datang menjemput.

Tentu saja apa yang dilakukan oleh Euis bukanlah sebuah kenistaan atau kesalahan seorang gadis desa. Euis hanya sekedar menjalani hidup yang selalu penuh dengan pertanyaan yang sulit untuk di jawab.

Euis, dalam kondisi kekinian menjadi semacam interupsi atas kondisi yang terjadi. Dalam kacamata yang lain, yaitu kacamata ekonomi hal ini menjadi interupsi atas gembar-gembor pemerintahan yang menyatakan bahwa kondisi perekonomian berada dalam kondisi yang baik dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

Dalam hati penulis bergumam, Jika memang peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut disertai dengan pemerataan tentu saja Euis akan lebih memilih untuk tetap tinggal di kampung dan terus mengaji, menghapal nadhoman dan pasal-pasal dalam setiap kitab kuning yang dipelajari di pesantren nun jauh di pelosok desa tempo hari dari pada berangkat ke kota. Dalam gumaman yang lain, Euis adalah korban pembangunan bukan korban kota yang penuh tipu daya!