IMG_20151201_003840[1]Sedikit saja penikmat kopi yang mengetahui bahwa sejarah kopi Priangan berawal di Cianjur. Kebanyakan penikmat kopi kekinian menduga sejarah kopi Priangan berawal di wilayah Kabupaten Bandung atau Kabupaten Garut. Hal yang wajar karena produk Kopi yang sekarang lebih banyak beredar di pasaran berasal dari daerah Kabupaten Bandung, Garut dan Sumedang.

Jalan Panjang

Syahdan, pada abad ke 17, sekitar tahun 1706, atau sekitar empat ratus tahun lalu biji kopi menjadi salah satu komoditas perdagangan internasional yang naik daun. Biji kopi masih sangat terbatas sedangkan jumlah peningkat kopi cenderung bertambah.

Keuntungan yang melambung tinggi sudah menggantung di benak kolonial. Nusantara sebagai negara jajahan adalah tempat yang ideal untuk meraup laba dengan segera.

Peluang itu segera di sambut oleh kolonial Belanda yang sedang menancapkan kuku bisnisnya di Nusantara melalu kongsi dagang mereka yang di kenal dengan sebutan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Gubernur Jenderal Van Horn yang waktu itu ditugaskan untuk mengurus VOC mulai membagikan benih kopi yang berasal dari Malabar, India di sepanjang pantai Batavia hingga Cirebon. Namun ekperimen pertama itu gagal total. Benih kopi itu tidak cocok tumbuh di pantai.

Eksperimen yang kedua segera di lakukan. Kali ini penanaman benih kopi sedikit bergeser ke arah selatan Karawang yang tempatnya lebih tingggi serta daerah dataran tinggi Cianjur. Pemilihan Cianjur sebagai tempat penanaman kopi karena pihak VOC sudah mengadakan perjanjian dagang dengan pihak Bupati Cianjur waktu itu yaitu Raden Aria Wiratanu III. Eksperimen kedua ini cukup berhasil. Bupati Cianjur berhasil menyetorkan biji kopi yang cukup memuaskan VOC.

Berawal dari keberhasilan ekperimen kedua ini pihak VOC semakin gencar memproduksi kopi di wilayah Priangan, namun baru terbatas di wilayah Bupati Cianjur. Upaya ini membuahkan hasil manis bagi VOC yang di tandai dengan dibangunnya Gudang Kopi Pertama VOC di Nusantara dan pembangunan pelabuhan untuk pengapalan kopi di tepian Sungai Citarum. Berawal dari kesuksesan ini, monopoli kopi oleh VOC di mulai.

Namun monopoli kopi ini tidak selalu berjalan lancar. Sekitar tahun 1757-1758 penduduk priangan terkena wabah semacam pes. Banyaknya jumlah penduduk yang meninggal menyebabkan berkurangnya jumlah masyarakat yang menanam kopi. Selain karena wabah, banyaknya masyarakat yang melarikan diri ke luar priangan karena tidak kuat dengan sistem penanaman kolonial menyebabkan masyarakat yang menanam kopi menjadi semakin berkurang.

Namun dengan gigih VOC mulai menyelesaikan wabah tersebut dengan memberikan vaksin kepada penduduk pribumi dalam jumlah besar. Upaya ini berhasil. Berbarengan dengan hal tersebut, pihak VOC melakukan pendekatan yang lain kepada pihak bupati untuk mengatasi kepindahan penduduk ke luar priangan. Pendekatan dengan bupati ini membuahkan hasil sesuai harapan. Produksi kopi di priangan bisa berlanjut kembali sesuai dengan perencanaan.

Babak baru produksi kopi priangan di mulai sesaat setelah VOC bangkrut karena adanya perlawanan dari masyarakat dan korupsi yang merajalela sekitar 1799. Pengurusan kopi langsung di tangani oleh pemerintahan Hindia Belanda melalui Daendels.

Tanam paksa menjadi cara yang di pilih oleh Daendels. Untuk mensukseskan misinya tersebut, Daendels mengangkat pejabat setingkat inspektur jenderal yang khusus menangani permasalahan kopi. Dengan kebijakan sistem tanam paksa dan pengawasan oleh inspektur jenderal khusus tersebut Daendels berhasil meningkatkan produksi kopi di Priangan.

Namun, kebijakan tanam paksa ini berakhir ketika Inggris melalui Raffles menjalankan kebijakan sewa tanah. Dengan kebijakan sewa tanah ini petani diberikan kebebasan untuk menanami lahan.

Kebijakan ini sebenarnya tidak seratus persen di dasari oleh buruknya sistem tanam paksa. Secara lebih dalam hal ini sebenarnya di dorong oleh menumpuknya jumlah kopi di gudang-gudang priangan. Oleh karena itu, sebenarnya kebijakan sewa tanah ini adalah kebijakan antara sebelum kopi tersebut habis terjual.

Pada periode ini upaya membuka perkebunan kopi diperluas ke arah Sukabumi dan Bandung. Kebijakan perluasan penanaman kopi ini di pimpin oleh Van Der Capelen, seorang liberalis Belanda yang di utus setelah Belanda berkuasa kembali di Nusantara.

Upaya perluasan ini pada prosesnya bertemu dengan momen penting berupa berakhirnya perang Napoleon yang menyebabkan kenaikan permintaan terhadap produk produk pertanian dari daerah tropis termasuk didalamnya kopi melonjak tinggi. Merespon momentum ini, Belanda kemudian membuat strategi baru yaitu pembukaan kebun kopi dalam skala besar. Pembukaan lahan kebun kopi yang besar ini pada prosesnya mendorong lahirnya masyarakat-masyarakat perkebunan yang tinggal menetap di sekitar perkebunan dan meningkatnya produksi kopi Priangan.

Upaya untuk memperluas penanama kopi ini mencapai momentum yang prestisius pada tahun 1822. Pada tahun tersebut harga kopi melonjak tinggi dan ditengah harga yang melonjak tersebut pemerintah kolonial mampu mensuplai sepertiga kurang kebutuhan kopi tersebut dengan kopi yang berasal dari priangan.

Namun setelah itu, produksi kopi priangan kembali mengalami penurunan yang drastis. Sekitar tahun 1822 warga priangan kembali terkena wabah kolera.Namun hal ini justru mendorong pemerintah kolonial lebih masif untuk menanam kopi dengan mewajibkan semua anggota keluarga di kebun kopi untuk kerja paksa menanam kopi.

Namun, di penghujung abad ke sembilan belas dimana pemikiran liberalisme berkembang pesat, kebijakan tanam paksa tersebut mendapatkan kritikan yang tajam dari kalangan liberalis Belanda. Berdasar kritik tersebut, pemerintah kolonial mulai melakuka diversifikasi produk pertanian. Waktu itu tebu menjadi tanaman yang dipilih selain kopi.

Namun kebijakan itu tak berhasil dengan baik karena di awal abad 19 terjadi pemberontakan yang masif oleh masyarakat kepada pemerintahan kolonial dan bangsawan feodal yang menindas rakyatnya sendiri. Namun perlawanan rakyat ini tidak berhasil membebaskan mereka dari penindasan kolonial.

Pada akhirnya bersamaan dengan naiknya permintaan teh di dunia kejayaan dan sejarah kopi di priangan mulai tergantikan dan tidak tercatat di sejarah dengan kuat. Namun bukan berarti kopi sama sekali musnah dari priangan.

Arus Balik

Pohon-pohon kopi masih tumbuh di atas bumi Priangan namun tidak dalam skala yang besar dan tidak tercatat dengan baik oleh sejarah. Kebun kebun kopi masih di tanam di tanah priangan dalam skala kecil di dataran tinggi priangan. Kopi tidak lebih seperti penumpang kereta api di gerbong paling belakang.

Namun setelah itu, sekitar tahun 1998 ketika pemerintah menggulirkan program Kredit Usaha Tani (KUT) yang pada prakteknya menyebabkan masyarakat beramai-ramai menanami lahan hutan yang pada akhirnya mengalami kegagalan menyebabkan lahan hutan menjadi gundul. Untuk memperbaiki kesalahan tersebut, pemerintah mengajak masyarakat untuk menanami lahan priangan yang gundul tersebut dengan menanam kopi dengan sistem kemitraan. Dan dari sanalah kopi Priangan mulai menuliskan sejarahnya kembali secara perlahan.

Sejarah kopi priangan itu semakin terkuak setelah tahun 2000. Di tahun-tahun tersebut, khususnya di Bandung mulai bermunculan gerai-gerai kopi dari mancanegara yang ternyata di gemari oleh masyarakat Bandung.

Hal tersebut memancing beberapa pengusaha lokal untuk ikut ambil bagian dari bisnis kopi ini dengan membuka gerai kopi sejenis dan memburu kopi-kopi ke pelosok priangan untuk diekspor.

Peluang penjualan kopi Priangan ke luar negeri terbuka lebar karena ternyata lidah masyarakat negara eropa sekarang masih sama dengan lidah para pendahulu mereka yang menyukai kopi Priangan! Dan dari tahun 2000 sampai dengan sekarang sepertinya kopi Priangan sedang memasuki babak baru sejarahnya sendiri.

Melihat sejaran panjang perjalanan kopi priangan dan meneropong perjalanan ke depan sepertinya perjalanan kopi Priangan sedang berada dalam arus balik. Disebut arus balik karena produksi kopi Priangan tidak hanya diproduksi untuk ekspor namun juga di produksi untuk memenuhi kebutuhan kopi bangsa sendiri sehingga kita menjadi masyarakat yang merasakan langsung dampak kesuburan tanah Priangan ini. Tentunya hal ini akan menjadikan petani kopi dapat lebih tersenyum bahagia karena mendapatkan pendapatan yang lebih besar sehingga kehidupanya menjadi lebih sejahtera dari para pendahulunya ketika era kolonial.