IMG_20150711_161804Sementara di depan terhampar lautan tanpa ombak, di kejauhan terlihat samar-samar jejeran daratan menghampar. Diantara daratan tersebut terlihat dua gunung yang lebih tinggi diantara daratan itu. Itulah gunung Maitara yang menjadi ikon pada uang pecahan seribu rupiah dan satu lagi Gunung Gamalama, gunung yang menjadi ikon Kota Ternate dan Tidore di Provinsi Maluku Utara.

Beberapa saat kemudian dari arah belakang penulis duduk cahaya matahari sore perlahan menyembul.Beberapa sudut bangunan dan dinding beberapa kapal kecil yang sedang membuah sauh terlihat lebih bercahaya.

Sore itu penulis baru saja selesai menyeberang dari Pelabuhan Dufa-Dufa Kota Ternate. Beruntung, waktu itu senja baru saja dimulai. Menikmati senja sembari menunggu adzan magrib berkumandang adalah sebuah pilihan yang sulit untuk di tolak.

Sore itu penulis sedang berada di teluk Jailolo. Sebuah teluk yang berada di wilayah Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara yang terkenal dengan festival laut Jaillolo. Sebuah festival laut yang cukup prestisius.

Di Jailolo, matahari terbenam tidak muncul dari arah depan namun dari belakang laut. Tepatnya dari balik sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Masyarakat setempat menyebut gunung tersebut Gunung Jailolo. Perbedaan posisi tenggelamnya matahari menjadikan teluk ini menjadi salah satu hal menarik untuk dinikmati oleh para wisatawan lokal atau domestik.

Berbarengan dengan matahari senja yang mulai menyembul terlihat beberapa kapal nelayan yang hendak menepi. Kapal nelayan yang baru pulang melaut tersebut jumlahnya tidak lebih dari dua kapal tanpa layar.

Selain kapal nelayan, terlihat juga dua kapal besar yang sedang membuang sauh. Kapal besar tersebut bukanlah kapal penumpang yang hendak membawa penumpang, namun kapal besar tersebut adalah kapal yang mengangkut hasil alam Kabupaten Halmahera Barat ke kota-kota besar lainya di sekitar Maluku seperti Kota Manado, Ambon dan paling jauh hingga ke pulau Jawa.

Beberapa ratus meter dari teluk tersebut terlihat dua deretan panjang tenda-tenda yang dipenuhi oleh kerumunan warga yang hendak membeli kudapan untuk berbuka puasa. Deretan tenda itu merupakan salah satu blok dari Pasar Jailolo yang ramai ketika senja di mulai.

Dari penuturan seorang kawan, di pasar tersebut tersedia berbagai hidangan yang didominasi oleh makanan manis seperti kue cucur, kue serabi, carabikang, dan kue bika ambon serta kue lemang, kudapan dari ketan yang di kukus dengan menggunakan daun pisang yang masih muda serta banyak lagi jenis kuliner lokal.

Sementara itu, masakan yang tersedia mayoritas adalah makanan yang berbahan dasar ikan. Diantara berbagai hidangan tersebut, hidangan yang konon katanya paling di cari adalah ikan cakalang asap. Ikan cakalang asap ini paling banyak di cari karena rasanya yang khas dan bisa di olah dengan sederhana namun cita rasanya juara.

Bagi penulis, air laut yang tenang, kapal yang sedang membuang sauh, nelayan yang pulang melaut serta kerumunan warga di sekitar tenda merupakan senja yang jarang penulis dapatkan di pantai yang lain.
Senja di Jailolo seperti senja yang mampu membuat kita lupa akan kepenatan karena rutinitas setiap hari yang membosankan dan menjadikan kepala terasa berat. Penerbangan dari Jakarta kemudian transit di Menado dan berakhir di Bandara Sultan Baabulah segera sirna senja itu.

Rute Eksotis

Rute menuju Teluk Jailolo cukup mudah diakses dari pulau Jawa. Melalui Bandara Soekarno Hatta kita dapat menggunakan beberapa maskapai penerbangan dengan tujuan akhir Bandara Sultan Baabulah Kota Ternate dan Tidore. Harga tiket pesawat cukup terjangkau oleh semua kalangan. Jika sedang beruntung kita bisa mendapatkan tiket promo dengan harga sepuluh kali lebih murah dari tiket biasanya. Tiket murah tersebut biasanya ditawarkan oleh beberapa maskapai penerbangan partikelir.

Dari Bandara Sutan Baabulah perjalanan dilanjutkan menuju pelabuhan kecil dengan nama pelabuhan Dufa-dufa. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang merupakan pintu masuk ke beberapa daerah di gugusan Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pelabuhan di teluk Jailolo. Dari bandara, pelabuhan ini bisa di tempuh dengan menggunakan taksi yang banyak berjejer di depan bandara.

Sembari menunggu kapal cepat menuju Teluk Jailolo penuh kita dapat menikmati pemandangan laut dan gugusan kepulaun yang mempesona. Dari Pelabuhan dufa-dufa pandangan kita bisa diarahkan pada pemandangan dua buah gunung yang berbentuk seperti kerucut yang tingginya hampir sama. Dua gunung tersebut merupakan ikon gambar yang terdapat di uang pecahan seribu rupiah. Gunung tersebut terdapat di gugusan Pulau Maitara yang masih merupakan gugusan kepulauan Halmahera.

Beruntung, penulis waktu itu bisa menyaksikan pemandangan puncak gunung tersebut dengan kondisi yang berbeda dalam dua waktu yang hampir bersamaan. Kondisi pertama, bagian puncak gunung tersebut tidak di tutupi awan dan dari jauh terlihat beberapa kapal kecil nelayan sedang melaut. Kondisi ini sama persis dengan kondisi pada gambar uang pecahan seribu rupiah. Kondisi ini jelas membuat penulis seakan-akan sedang berada dalam suasana yang begitu damai dan tenang.

Kedua, ketika bagian atas gunung tersebut di tutupi oleh awan namun bagian puncaknya tetap sedikit terlihat. Menikmati pemandangan yang kedua ini kita seperti sedang melihat puncak gunung namun dari atas gunung tersebut. Puncak gunung tersebut terlihat menyembul dari balik awan yang mengepungnya. Bagi penulis, dua kondisi tersebut seakan-akan mengajak untuk menikmati suasana damai dan tenang secara perlahan.

Setelah puas menikmati kedua pandangan tersebut, pemandangan menarik lainnya siap menyambut kita. Perjalanan menyeberangi lautan Maluku adalah penyeberangan yang menarik sekaligus mendebarkan. Perjalanan menyeberang ini menjadi perjalanan yang mendebarkan karena jalur penyebarangan di seluruh gugusan kepulauan Maluku merupakan jalur penyeberangan yang langsung mengarah pada laut lepas yang mengarah langsung ke laut samudera pasifik. Artinya perjalanan sedang berada di jalur dengan gelombang laut yang besar dan sulit di prediksi.

Namun perlu di garis bawahi bahwa gelombang laut yang tidak menentu itu biasanya terjadi menjelang sore saja. Sebelum sore datang gelombang laut biasanya dalam kondisi tenang. Oleh karena itu salah satu hal penting bagi setiap wisatawan yang hendak menyebarang ke gugusan Kepulauan Maluku sebaiknya menyeberang sebelum senja datang.

Beruntung, waktu itu penulis menyebarang sebelum waktu ashar datang dan di dalam kapal terlihat tumpukan pelampung yang terlihat warnanya masih terlihat menyala. Hal ini mengindikasikan bahwa keselamatan menjadi prioritas dalam perahu cepat yang penulis tumpangi. Kekhawatiran itu agak sedikit sirna dari dalam kepala.

Perjalanan menuju Teluk Jailolo mulai di jelang. Baling baling kapal yang disimpan di bagian kapal mulai berputar. Air laut mulai terbelah. Riak airnya mulai bercipratan membasahi bagian luar kapal dan kaca jendela kapal. Beberapa kali cipratan air laut tersebut hinggap di wajah karena kaca jendela di kapal tersebut dibiarkan terbuka oleh penulis. Cipratan air laut tersebut membuat wajah penulis sedikit basah. Cipratan air laut tersebut berbarengan dengan hembusan angin laut samudera yang terasa agak hangat di kulit.

Kapal cepat tersebut membelah laut Maluku selama kurang lebih satu jam. Setelah empat puluh lima menit berlalu, dari kejauhan terlihat beberapa bangunan menjorok ke laut dan deretan pegunungan yang berada di belakang pantai terlihat jelas.Deretan bangunan di sisi pantai tersebut adalah bangunan yang terletak di teluk Jailolo.

Dalam beberapa saat penulis akan segera berlabuh di Pelabuhan Jailolo.
Ketika kaki menginjak kaki di Pelabuhan Jailolo udara panas langsung menyergap. Namun udara panas tersebut bersamaan dengan angin pantai yang menerpa tubuh menjadikan suasana pantai begitu terasa.

Dari jarak beberapa ratus meter sebuah tulisan dengan hurup berwarna merah terlihat jelas. Hurup besar berwarna merah terang itu tersusun menjadi kata “Jailolo City”. Tulisan ini mirif dengan tulisan-tulisan di taman-taman seperti di Kota Bandung. Tulisan di teluk Jailolo ini sangat mungkin di ilhami oleh tulisan-tulisan di taman tersebut karena dilihat dari material, ukuran serta hurup yang digunakan mirif dengan tulisan di taman-taman kota di Bandung.

Penulis segera menggambil posisi di samping tulisan besar tersebut. Angin pantai segera menyergap. Hembusannya menyapa kulit secara perlahan. Gunung di gugusan kepulauan Maitara yang tadi dilihat pas berangkat terlihat agak mengecil namun bentuknya jelas. Namun kali ini di samping Gunung tersebut terlihat Gunung Gamalama berdiri membisu. Kedua gunung tersebut seolah-olah menjadi saksi bisu semua aktivitas di Laut Maluku dan juga di Teluk Jailolo.

Tidak berapa lama matahari senja mulai menyembul di balik bukit di belakang Teluk Jailolo.Perjalanan panjang yang melelahkan perlahan tergantikan oleh senja yang begitu tenang di Teluk Jailolo Tidak ada kata-kata yang muncul selain ucapan sukur dan kagum atas ciptaan Tuhan yang maha hebat tersebut.