Cerita pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) identik dengan penolakan rakyat disekitarnya. Namun tidak dengan pembangunan PLTA Cisokan. Tidak ada cerita penolakan rakyat yang mengemuka. Masyarakat di sekitar Sungai Cisokan, sungai yang menjadi sumber aliran air utama PLTA tersebut menerima proyek tanpa banyak bicara.
Jikapun di media masa terdengar berita sumir mengenai pembangunan PLTA Cisokan, beritanya tak lebih dari keterlambatan, ketidaksesuaian jumlah perhitungan ganti rugi serta kesalahan dalam penghitungan.

Tanpa Mimpi

Mengacu pada peta proyek, Sungai Cisokan hanya sungai kecil yang membelah Kabupaten Bandung Barat dan Cianjur. Bangunan utama PLTA Cisokan meliputi tiga desa di Kecamatan Rongga yaitu Desa Cicadas, Sukaresmi dan Bojong Salam Kabupaten Bandung Barat dan satu desa di Kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur yaitu Desa Karang Nunggal.

Warga terkena proyek (WTP) yang terpaksa harus pindah berjumlah kurang lebih 702 Kepala Keluarga (KK). Atau hampir setara dengan ukuran KK untuk empat atau lima Rukun Warga (RW). Dari jumlah tersebut kurang lebih delapan persen yang berada di Kabupaten Cianjur sisanya berasal dari Kabupaten Bandung Barat.

Dari jumlah tersebut, sembilan puluh sembilan persen bekerja di sektor pertanian. Kebanyakan dari mereka adalah buruh tani serabutan. Mereka hanya bekerja jika ada yang meminta. Sementara itu, mereka yang bekerja sebagai petani juga bukan petani besar. Mereka hanya petani gurem yang hasil produksi pertaniannya hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri.

Menjadi buruh tani dan petani gurem bukanlah pilihan terbaik hidup masyarakat di sekitar Sungai Cisokan. Menjadi buruh tani dan petani kecil adalah pilihan yang terpaksa diambil karena memang kondisi alam memaksa mereka berada dalam kondisi seperti itu.

Mayoritas lahan di sekitar Sungai Cisokan tidak dimiliki oleh masyarakat, namun lahan milik negara yang di garap oleh Perhutani, PTPN VIII dan lahan carik milik desa. Lahan yang dimiliki masyarakat jumlahnya tidak lebih dari sepuluh persen.

Masyarakat bisa menggunakan lahan Perhutani untuk bertani dengan sistem bagi hasil atau sewa namun jumlahnya terbatas karena hanya lahan Perhutani yang berada di dataran rendah yang bisa di sewa. Sementara itu, tidak ada masyarakat yang menggarap lahan PTPN karena dilarang.

Lahan carik boleh digunakan masyarakat untuk bertani dengan sistem sewa pertahun. Namun tidak semua masyarakat bisa menyewa lahan carik karena lahan carik tersebut banyak di sewa oleh segelintir orang yang mempunyai hubungan sejarah yang kuat dengan asal usul kelahiran kampung.

Kondisi tersebut setali tiga uang dengan kondisi yang lainnya. Untuk sektor pendidikan misalnya, di Dusun Cipiring Desa Cicadas Kecamatan Rongga, anak-anaknya harus menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) kelas 4-6 ke Kabupaten Cianjur. Bangunan pendidikan di dusun tersebut hanya mampu menampung murid dari kelas 1-3. Itupun dengan catatan bahwa bangunan sekolah untuk menampung kelas 1-3 tidak layak. Hanya terdiri dari tiga ruang kelas dengan dinding triplek, atap asbes dan jendela tanpa kaca di beberapa kelas.

Semenyara itu, untuk menempuh pendidikan setingkat SMP-SMA mereka seratus persen menempuhnya di Kabupaten Cianjur. Namun hampir dipastikan tidak ada satupun warganya yang menempuh pendidikan SMA dan SMP. Dari pada sekolah dengan jarak jauh dan biaya besar mereka lebih baik langsung ikut orang tuanya ke sawah atau menjadi buruh serabutan.

Kondisi kesehatan setali tiga uang dengan kondisi pendidikan. Untuk mendapatkan fasilitas kesehatan masyarakat harus menempuhnya ke Kabupaten Cianjur. Dengan jalang terjal dan jauh biaya kesehatan menjadi sama mahalnya dengan biaya pendidikan.

Begitu juga dengan ihwal mengenai peran pemerintah. Bagi masyarakat di sekitar Sungai Cisokan keberadaan pemerintah posisinya hampir sama dengan tukang kredit. Pemerintah hadir setahun sekali ketika menagih pajak kepada masyarakat dan ketika masyarakat mengurus permasalahan administrasi. Pemerintah hadir lima tahun sekali ketika terjadi pemilihan bupati, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden.

Selain mengenai kehadiran pemerintah yang alfa, kehadiran berbagai program yang di gagas dari pusat pun tidak hadir tanpa alasan yang jelas. Berbagai fasilitas pendidikan, infrastruktur murni bukan berasal dari program tersebut. Untuk melaksanakan pembangunan swadaya masyarakat yang alakadarnya menjadi penopang utama..

Pada prosesnya, warga menerima kondisi kemiskinan absolut tersebut sebagai bagian dari takdir hidup yang harus dijalaninya dengan penuh syukur. Tidak sedikitpun mereka menyalahkan banyak pihak termasuk pemerintah sekalipun.

Mereka tidak terlalu risau dengan masa depan mereka seperti apa. Membayangkan masa depan yang lebih baik tidak lebih dari sekedar mimpi di siang bolong belaka. Mereka tidak mau merasa sakit hati dengan impian mereka mengenai masa depan. Dari pada memimpikan masa depan yang sulit di capai mereka lebih memilih untuk tidak bermimpi sama sekali.

Keajaiban

Ditengah kondisi tersebut, tiba-tiba Perusahaan Listrik Negara (PLN) datang hendak membangun PLTA di daerah tempat mereka bertani, tempat mereka menjalankan kehidupan sehari-hari.

PLN membawa sejuta harapan bagi masyarakat. Jika masyarakat merelakan lahan tempat mereka bertani dan rumah tinggal di jual mereka menawarkan harga sepuluh kali lipat dari harga tanah biasanya. Selain itu masih ada tawaran lain dalam bentuk barang dan rupiah yang jumlahnya tentu saja menggiurkan masyarakat.

Dengan latar belakang kondisi kemiskinan yang absolut, tanpa mimpi yang besar ke depan, tawaran untuk menukar tempat mereka bertani dan tinggal dengan besaran nilai rupiah yang sedemikian besar menjadi tawaran yang sulit untuk di tolak.

Selain itu, faktor lain yang menjadi pendorong warga menerima program pembangunan itu tanpa banyak cerita ada kehadiran uga dari para orang tua terdahulu di salah satu desa. Uga tersebut mengatakan bahwa di masa depan sebagian Desa Bojong Salam akan terendam tapi mereka tidak harus beranjak terlalu jauh dari daerah asal mereka.

Bagi mereka nilai rupiah yang besar yang diterima hasil pertukaran dengan lahan tempat mereka bertani dan menjalankan kehidupan sehari-hari adalah sebuah keajaiban. Lahan tempat tinggal serta lahan pertanian mereka adalah lahan warisan turun temurun dari orang tuanya. Mereka hanya meneruskan apa yang menjadi kebiasan dari para orang tuanya terdahulu. Mereka tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun atas tanah yang mereka pakai untuk rumah dan bertani.

Sekarang proses pembayaran ganti rugi atas lahan tempat tinggal dan lahan pertanian sudah hampir selesai. Hampir semua masyarakat telah mendapatkan uang yang jumlahnya sangat besar. Pembangunan fisik PLTA akan segera dilakukan. Masyarakat harus bergegas meninggalkan lahan pertanian dan tempat tinggal mereka.

Namun pada kenyataanya masyarakat masih bimbang harus pergi kemana. Jika mereka pergi terlalu jauh dari tempat tinggalnya biaya yang dikelurkan dan juga harga tanah di tempat lain telah meningkat jauh lebih tinggi dari harga biasanya. Nominal uang yang terimanya akan habis hanya untuk membeli lahan tempat tinggal saja. Jika itu dilakukan mereka tentu saja tidak menikmati secara langsung uang ganti rugi tersebut.

Akhirnya pilihan yang paling realistis bagi mereka adalah tidak beranjak jauh dari lokasi lahan dan rumah tempat tinggal mereka sebelumnya. Kebanyakan dari mereka hanya sedikit bergeser dari lokasinya yang dulu. Mereka masih tetap berada di wilayah aliran Sungai Cisokan sampai akhir hayat. Mereka seperti sedang menunggu keajaiban lain yang datang bersama aliran Sungai Cisokan di suatu hari nanti.

Sungai Cisokan

Sungai Cisokan