Lima tahun terakhir ini anak-anak di Kampung Ciseel, sebuah kampung nun jauh di pedalaman hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak kampung biasa.

Sepulang sekolah dan sebelum waktu mengaji datang, mereka berkumpul, bermain dan membaca novel  berjudul Multatuli secara rutin. Mereka semua melakukan aktivitas tersebut di taman bacaan Multatuli. Sebuah taman bacaan yang di rintis dan dikelola oleh Ubaidilah Mukhtar.  Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP), jebolan  IKIP  Bandung, kelahiran Subang.

Tak mudah untuk mencapai Ciseel. Dari terminal terakhir hanya bisa dijangkau dengan ojeg. Infrastruktur yang memadai adalah mimpi panjang yang entah akan kapan tercapai. Hal ini menjadi wajar mengingat secara administrative, Ciseel merupakan salah satu kampung yang berada di Kabupaten Lebak. Salah satu kabupaten di Provinsi Banten yang sepertinya sulit untuk maju.

Jurang cukup terjal terdapat di sisi kiri di sepanjang perjalanan. Bagi para pelancong hal ini mendebarkan. Para pelancong wajib untuk selalu berpegangan kepada tukang ojeg. Selain itu kita juga harus selalu siap siaga untuk loncat dari motor kapanpun, terutama ketika menemukan tanjakan dengan alas batu yang ditempelkan ke tanah.

Namun, hati yang berdebar tersebut akan segera berganti dengan decak kagum ketika sampai di Ciseel. Di tengah  perkampungan di pedalaman kita disuguhi oleh sebuah rumah dengan lantai keramik dan dinding bilik berwarna. Lalu dibawah flapon kita dapat membaca sebuah spanduk ajakan untuk membaca dalam bahasa sunda “Hayu Urang Maca di Taman Bacaan Multatuli”

Hampir semua masyarakat Ciseel bekerja sebagai petani. Namun petani Ciseel berbeda dengan petani di daerah lain yang biasanya memfokuskan pada satu jenis tanaman pertanian saja. Masyarakat Ciseel menanam berbagai jenis tanaman yang disesuaikan dengan apa yang telah di tanam pendahulunya. Masyarakat Ciseel menanam padi, durian, dukuh dan tanaman lainnya. Tidak semua hasil tani di jual. Sebagian digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Sisanya baru di jual ke pasar.

Dengan pola bertani seperti itu, kehidupan masyarakat Ciseel sulit untuk beranjak menjadi lebih maju dari sebelumnya. Namun juga tidak beranjak mundur. Tidak pernah ditemukan kasus kelaparan di Ciseel. Kebutuhan sandang dan pangan masyarakat Ciseel telah terpenuhi dari mengolah alam sekitar.  Dengan pola hidup seperti itu, kehidupan masyarakat Ciseel seperti jalan di tempat, seperti roda yang berputar di tempat yang sama dalam jangka waktu yang panjang.

Masyarakat Ciseel tahu betul bahwa kemampuan membaca, menulis dan menghitung merupakan hal penting. Oleh karena itu, hampir semua orang tua di Ciseel mengirimkan anak-anaknya untuk sekolah. Tujuanya hanya satu agar anak-anak mereka mampu membaca, menulis dan menghitung. Tujuan sekolah tidak lebih dari itu. Pemahaman itu tentu saja tidak datang dengan sendirinya. Pandangan tersebut muncul sebagai efek dari pola kehidupan yang stagnan.

Pendidikan belum dipahami sebagai sebuah proses untuk memanusiakan manusia. Pendidikan belum dipandang sebagai sebuah tempat untuk mengaktualisasikan anak-anak mereka. Pendidikan belum dipandang sebagai sebuah tempat untuk membangun mimpi mengenai masa depan yang cemerlang.

Dengan demikian, masyarakat Ciseel belum memandang pendidikan secara utuh. Pendidikan baru dipahami setengahnya. Pandangan masyarakat Ciseel terhadap pendidikan belum genap! Ada ruang kosong yang masih harus di isi. Dalam konteks sosial seperti Ubaidilah Mukhtar hadir di Ciseel dengan taman bacaan Multatulinya.

Tentu saja mencoba menggenapkan hati masyarakat memang bukan merupakan hal gampang. Tantangannya bukan saja terdapat di benak masyarakat Ciseel saja, namun juga terdapat dalam diri Ubaidilah sendiri.

Awal penugasannya sebagai PNS, Ubai ditugaskan bersama dengan delapan guru. Namun sekarang yang tersisa tinggal tiga orang. Dalam beberapa tahun  lima guru  mutasi ke sekolah lain yang kondisi infratstrukturnya lebih baik dan jaraknya dekat.

Selain itu, jarak yang jauh dengan rumah dan istri merupakan tantangan tersendiri. Rumah dan istri Ubai berada di Depok. Waktu tempuh dari Depok ke Ciseel kurang lebih empat jam. Tentu saja ini bukan jarak yang dekat. Dengan jarak tersebut, Ubai mustahil untuk pulang pergi. Sehingga dalam seminggu otomatis Ubai hanya bercengkrama dengan istrinya tidak lebih dari dua malam.

Sebenarnya jauhnya jarak tersebut dapat sedikit terobati seandainya kondisi jalan berada dalam kondisi baik. Namun sayang sekali, kondisi jalan yang baik menuju ke Ciseel sepertinya baru terwujud dalam mimpi setiap orang di sana. Akhirnya jarak yang jauh ditambah dengan kondisi infrastruktur yang buruk menjadi “pelengkap derita” bagi Ubai.

Selain tantangan dari dalam tentu saja tantangan dari luar juga datang perlahan. Pernah satu kali beberapa orang yang mengatasnamakan Jawara Banten datang dan menginterogasi Ubai dengan cara yang kasar.

Namun tentu saja Ubai menghadapinya dengan tenang. Mereka di ajak berdiskusi dan ngopi. Setelah di telisik ternyata mereka memaksa ingin tahu siapa di balik keberadaan Ubai yang gencar mengajak anak-anak Ciseel untuk giat membaca.

Menjawab hal tersebut tentu saja Ubai menjawab apa adanya. Tidak ada siapa-siapa dan kepentingan apapun di balik gerakannya mengajaka anak-anak Ciseel untuk gemar membaca. Kalaupun ada, dan itu harus dipaksa disebut sebagai kepentingan, maka kepentinganya hanya satau yaitu menjadikan anak-anak Ciseel menjadi lebih pintar membaca yang akan mungkin berdampak terhadap mimpi mereka di masa depannya.

Dalam konteks menggenapkan hati masyarakat Ciseel, tantangan-tantangan tersebut harus selalu di jawab dengan tepat. Semakin tepat jawaban yang diberikan maka semakin kuat usaha Ubai dalam menggenapkan hati masyarakat Ciseel dan dengan demikian ketika usaha yang dilakukan Ubai semakin menguat maka peluang untuk menggenapkan hati masyarakat Ciseel menjadi lebih besar.

Akan tetapi Ubai tetaplah manusia biasa yang kadang kala juga merasakan kebosanan dan kejenuhan dalam menjalankan taman bacaan tersebut. Ketika kejenuhan melanda obat mujarabnya hanya satu saja, yaitu semangat dan  hiruk pikuk anak-anak yang berkegiatan di rumah baca.

Kepada penulis, Ubai menyatakan bahwa senyuman, antusiasme dan minat anak-anak untuk berkegiatan di rumah baca merupakan menjadi motivasi yang paling besar bagi dirinya untuk terus mengelola Taman Bacaan Multatuli.

Selain itu, Ubai menyatakan bahwa apa yang telah, sedang dan akan dilakukanya di Taman Bacaan Multatuli hanya satu dari berbagai rangkain yang seharusnya dilakukan untuk memajukan masyarakat Ciseel.

Diibaratkan sebuah peperangan, maka apa yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh Ubai bukanlah sebuah kemenangan besar atas sebuah peperangan. Jika pun maun diberi nama kemenangan, maka bagi Ubai semua kegiatan yang dilakukanya selama ini baru sebatas kemenangan-kemenangan kecil saja.

Langkah untuk menggenapkan hati masyarakat Ciseel sepertinya masih membentang panjang. Dalam amatan penulis, Ubai memang belum berhasil merubah pandangan masyarakat bahwa fungsi pendidikan itu untuk memanusiakan manusia, menjadikan peserta didik  menjadi dirinya sendiri sesuai potensi yang dimilikinya. Namun, Ubai telah berhasil membuka pandangan pendidikan itu tidak hanya sekedar untuk bisa membaca dan menulis belaka. Ada hal lain di luar hal itu.

Selain senyuman dan antusiasme anak-anak, hal lain yang tidak kalah membahagiakannya adalah ketika mendengar dan menyaksikan alumni-alumni Taman Bacaan Multatuli melanjutkan pendidikan mereka ke tingkat menengah atas.

GambarWalau jumlah alumni Taman Bacaan Multatuli yang melanjutkan ke tingkat menengah atas baru beberapa gelintir saja, tapi setidaknya hal ini menjadi sebuah bukti, sebuah hasil bahwa mereka telah mampu bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi tersebut dengan sekuat tenaga. Tentu saja hal tersebut tidak akan terjadi tanpa adanya bantuan dan dukungan dari orang tua anak-anak tersebut.