Tentu saja saya tidak akan lupa dengan hari-hari tiga tahun ke belakang. Hari-hari dimana kalian datang di pagi yang masih berkabut dengan memakai seragam putih biru, caping petani serta karung goni dan papan nama dari kertas karton itu. Itulah hari ketika kalian memulai memasuki kehidupan yang baru sebagai siswa Madrasah Aliyah (MA) Sukasari.

Saya yakin kalian belum lupa dengan masa orientasi yang melelahkan, menegangkan, menyebalkan atau bahkan menyedihkan waktu itu. Selama kurang lebih seminggu di setiap pagi buta kalian sudah harus sudah ada dilapangan sekolah, berbaris rapi, dibentak oleh senior karena tidak disiplin dan tidak membawa “pesanan”

Lalu kalian menerima berbagai materi yang mungkin juga tak menarik waktu itu. Teori kepemimpinan, keorganisasian, retorika persidangan serta materi-materimateri lainya yang tentu saja saya yakin kalian tidak terlalu tertarik. Lalu tentu saja ketidaktertarikan  atas teori itu semakin menjadi tatkala diakhir masa orientasi  materi itu harus diulang di sepanjang siang yang terik, di tiaptiap pos di sepanjang aliran sungai di Kertasari.

Dan puncak ketidak tertarikan itu terjadi di Situ Cisanti. Di sana kalian di caci maki, di bentak oleh senior  dan tentu saja waktu itu saya yang paling bengis tentunya. Saya tahu betapa sebal dan kesalnya kalian kepada senior, kepada saya juga kepada dewan guru yang lain.

Belum juga usai kekesalan  akan masa orientasi, lalu kalian harus mengikuti lagi masa-masa penggodokan, pembentukan sebagai pemimpin. Waktunya memang tidak panjang. Namun sepertinya itu hari yang berat.

Seperti biasa, kalian menerima materi yang tidak terlalu menariK. Lalu harus mengulang materi tersebut di setiap pos di malam yang dingin dan gelap. Lalu kalian semua duduk seperti di persidangan. Ada beberapa kawan kalian yang tidak disiplin tiba-tiba disidang oleh senior. Tuntutannya berat, kalau dia tidak mampu membela dan dibela oleh kalian maka dia tidak akan diluluskan latihan. Dia harus mengikuti latihan tersebut tahun depan bersama adikadik tingkat. Betapa memalukan itu.

Lalu kalian membela sebisanya. Melawan senior kalian dengan argumen sekenanya. Kalian perlihatkan solidaritas kepada sesama kawan. Lalu tibatiba adzan subuh datang tanpa  diharapkkan. Siang usai, kawan kalian tentu saja ada yang lulus dan lulus bersyarat yang sampai dengan sekarang syarat itu sepertinya belum jua dipenuhi.

Lalu tanpa terasa, kalian tibatiba telah kelas sebelas. Itu artinya telah menjadi senior dan harus menjadi panitia masa orientasi bagi calon adikadik. Tanpa saya tanya siap atau tidak siap lalu kalian terlihat senang gembira menjadi panitia, menjadi senior bagi calon adik tingkat baru.

Tapi masa orientasi waktu itu jelas lebih berat dari masa orientasi sebelumnya. Kalian menjadi panitia masa orientasi di bulan Ramadhan, bulan dimana  hawa nafsu dan rasa lapar harus dikendalikan dengan baik. Tentu saja itu tantangan yang tidak mudah.

Dan betul saja, kalian sepertinya menghadapi tantangan yang berat. Diantara kalian banyak yang patah semangat. Hampir kalah oleh situasi dan calon adikadik tingkat yang sepertinya jauh lebih kuat.

Saya masih ingat ketika kalian sepertinya sedang berada di kondisi yang paling sulit. Kalian mau menyerah, mengakhiri masa orientasi malam itu. Namun tentu saja keinginan tersebut tidak betulbetul serius.

Di subuh hari sebelum waktu sahur datang kalian semua sudah terbangun. Memanaskan nasi dan memasak lauk pauk untuk sahur. Saya tahu kalian dan calon adikadik kalian menyantap makanan sahur bukan karena lapar namun sekedar mengganjal perut agar tidak masuk angin ketika berpuasa esok hari. Lalu kalian bergegas pergi ke masjid menunggu waktu subuh datang. Dengan segala keterbatasan dan sisasiswa tenaga, tanpa saya duga kalian mampu menyelesaikan masa orientasi yang berat itu.

Ujian, penempaan dan masa pembentukan belum usai sampai disana. Tidak terasa kalian sudah berada di kelas dua belas, kelas terakhir  di masa-masa aliyah. Lalu kalian harus berangkat menuju kampungkampung yang jauh dari rumah. Lebih terpencil dari rumah kalian yang sudah terpencil.

Kalian harus berada di kampung tanpa sinyal dan tanpa dikunjungi sebelumnya. Itulah masa penempaan terakhir  di aliyah. Tentu saja kalian tidak akan lupa dengan kegiatan itu. Ya, tentu saja kegiatan itu adalah Praktek Dakwah Lapangan (PDL).

Sebulan lebih kalian berada di kampung-kampung dimana untuk mendapatkan sinyal  harus menyimpan handphone kalian diatas pintu. Di sana kalian tinggal di rumahrumah masyarakat sekitar. Di sana kalian mengajar mengaji anak-anak kecil, mengajak mereka bermain di petakpetak kebun teh, melatih mereka bernyanyi, joget.

Tentu saja saya sangat terharu ketika mendengar cerita  tentang pa RW, RT, tuan rumah yang kalian tingali menangis tersedu ketika  berpamitan untuk mengakhiri program PDL.

Keharuan itu semakin terasa tatkala menatap mata anakanak kecil yang kalian latih menyanyi, joget dan bermain di petakpetak kebun teh itu. Dari sorot mata anakanak itu saya merasakan kesedihan di mata mereka ketika bersalaman, berpamitan dengan mereka. Tidak ada satupun anakanak itu yang tidak mencium tangan. Tentu saja  keharuan itu semakin terasa.

Dan tentu saja kalian tidak akan pernah lupa dengan malam ini, malam ketika kalian sedang melaksanakan latihan terakhir upacara adat untuk acara perpisahan  esok hari.  Malam mini tentu saja mungkin malam terakhir kalian menjadi siswa dengan seragam putih abu.

Tibatiba saya berpikiran begini. Apa yang kalian dapatkan selama tiga tahun di sekolah tentu saja hanya satu titik dari berbagai macam ilmu yang dibutuhkan untuk meneruskan kehidupan. Tentu saja itu jauh lebih cukup.

Di luar sana, di luar dindingdinding sekolah, di kebunkebun kol, kentang, wortel masih tersedia banyak ilmu yang harus dipelajari sebagai bekal hidup kedepan. Teruslah belajar tanpa pernah mengenal kata cukup akan sebuah ilmu. Teruslah merasa haus akan ilmu untuk bekal kalian menjalani hidup.

Jalan kalian tentu saja masih panjang, kawan. Tapi sesekali, tengoklah kami di sini di sekolah tempat dimana kalian pernah berhenti  sejenak lalu menjalani kehidupan yang sebenarnya.

Sesekali tengoklah saya, tengoklah kami, lalu ajak saya, kami, untuk menikmati segelas kopi, cimol, atau gorengan bersamasama seperti yang seringkali kita lakukan ketika sedang jenuh dengan materi belajar di kelas tempo hari. Mari kita nikmati kopi dan cimol itu bersamasama sambil berbicara tentang masa depan yang kalian citacitakan. Dan kelak tolong tambahkan cerita mengenai pengalaman kalian dalam menjalani kehidupan di luar sekolah.