Bagi orang kebanyakan, kemapanan material adalah hal ideal yang diimpikan. Biasanya, jalan untuk mencapai kemapanan itu terbuka segera setelah terlebih dahulu meloloskan dirinya dari lembaga pendidikan tinggi (baca: kampus).

Pada prakteknya, kemapanan material itu biasanya didapatkan dari pendapatan menjadi pekerja kantoran, atau mungkin menjadi pebisnis amatiran dengan seribu keberuntungan diantara berbagai kegagalan dan keberhasilan.

Keinginan untuk mencapai kemapanan memang hal wajar. Rasa-rasanya jarang ditemukan orang yang tidak memimpikan kemapanan dalam hidupnya. Semua orang ingin mapan. Semua orang pasti menginginkan mempunyai keluarga bahagia yang serba berkecukupan.

Siapa yang tidak ingin mempunyai istri yang shalehah, pandai mengurus rumah tangga, pandai memasak, pandai merawat suami dan anak. Siapa yang tidak ingin mempunyai tempat tinggal permanen dengan, pekerjaaan dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya masing-masing?

Pertanyaan-pertanyaan seperti tersebutlah yang terngiang ditelinga lima tahun lalu ketika menjalani kehidupan tingkat akhir dikampus. Semua orang pasti memimpikan kenyamanan dalam menjadi kehidupan setelah keluar dari kampus

Namun demikian, ditengah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kemapanan tersebut, terbersit sebuah pertanyaan yang datang tiba-tiba entah dari mana. Pertanyaanya kurang lebih seperti ini, apakah kemapanan itu sebuah tujuan hidup?apakah memang saya menginginkan kemapanan pribadi dan keluarga?itukah yang menjadi tujuan hidup?

Bagi kebanyakan orang mungkin jawabanya adalah, ya. Tapi, sekali lagi betulkah itu yang di cari? Bagi penulis, tujuan hidup itu tidak pernah tuntas terdefinisikan secara tuntas. Tujuan hidup merupakan sebuah proyek tanpa mengenal akhir.
***

Lima tahun yang lalu tepatnya dipenghujung Desember, Kampus tidak lebih dari sekedar lahan yang penuh dengan kesunyian. Suasana hiruk pikuk kampus tidak lagi menarik. Kampus sepertinya hampir sama dengan kota yang telah lama ditinggal oleh para penduduknya dalam jangka waktu lama. Kena wabah penyakitkah orang-orang di kota tersebut? entahlah. Kampus tidak lebih dari sekedar kota mati.

Jalan terbaik adalah segera bergegas pergi dari kota mati (baca:kampus). Hijrah menuju kota lain yang mempunyai denyut nadi kehidupan. Kembali membangun asa, kembali membangun mimpi.

Memutuskan menjadi seorang guru di daerah yang jauh dari hiruk pikuk kota adalah hal menarik dari pada menjadi guru ditengah hiruk pikuk kota yang penuh dengan keriuhan, polusi udara serta kegilaan-kegilaan yang sering kali nyaris membuat otak menjadi kurang waras.

Kertasari, ya di sana sebuah kecamatan di jejeran dataran tinggi Bandung Selatan adalah tempat ideal untuk membangun asa dan mimpi yang baru. Sebuah kecamatan diperbatasan kabupaten Bandung dan Garut. Tempat Sungai Citarum berhulu. Tempat dimana kabut tipis sering kali turun perlahan, juga hamparan hijau kebun teh dan palawija terlihat jelas.

Mengajar di tempat yang jauh dari kota sungguh sangat menarik sekaligus menantang. Menarik karena di sana bahan-bahan belajar begitu melimpah. Buku-buk teks dan pegangan yang biasa dipakai bisa ditinggalkan dalam beberapa waktu.

Mengajak anak dengan menjadikan lingkungan sekitar sebagai bahan belajar sungguh sangat menarik dibanding harus menyuruh mereka belajar dengan menggunakan buku teks dan pegangan yang ada. Selain itu, sebagai anak yang dibesarkan ditengah-tengah sumber daya alam yang subur dan melimpah, belajar dari apa yang mereka lihat dan rasakan adalah hal yang akan menjadikan belajar menjadi berkesan.

Di sini hubungan antara guru dengan murid tak dibatasi oleh tembok-tembok sekolah. Disini belajar bukan hanya permasalahan bagaimana guru mengajar sehingga murid bisa menguasai materi pelajaran. Di sini sekolah selain sebagai tempat belajar, juga adalah tempat berbagi semua bahagia juga duka. Di sini murid dan guru saling bercerita. Tidak hanya sekedar bercerita mengenai pelajaran akan tetapi mengenai semua hal di luar pelajaran, apapaun itu.

Di sini, ruang-ruang luas di luar kelas seperti puncak-puncak bukit kebun teh, kebun palawija, curug dibalik kabut dan kebun palawija menjadi tempat yang jauh lebih menarik dibanding ruang kelas itu sendiri. Disana, biasanya bukan hanya berbicara mengenai materi pelajaran yang cukup membosankan, tetapi juga biasanya berbicara mengenai harapan, kekhawatiran juga berbagai ketakutan. Ketakutan mengenai masa depan juga masa-masa sekarang.

Di sini juga kemerdekaan dalam berpikir begitu dihargai. Tidak ada kata tidak untuk ide-ide yang berkembang selama itu ditujukan untuk kemajuan sekolah. Sungguh, keterbukaan dalam menerima setiap ide untuk kemajuan, baik sekolah atau luar sekolah adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa.

Hari-hari demi hari dengan kemerdekaan berpikir dan serta proses pembelajaran tanpa terasa bergulir begitu cepat. Entah berapa musim yang telah terlewati, entah beberapa kali curug dan puncak bukit teh serta kebun-kebun palawija telah menjadi saksi. Semuanya terasa mengalir begitu cepat.
***
Namun tentu saja, menjadi seorang guru dengan pekerjaan mengajar saja bukan hal yang begitu baik, terutama untuk perkembangan otak. Perlu ruang lain di luar ruang kelas dan di luar kebun palawija, kebun teh. Ruang tersebut adalah ruang yang bisa menunjukan kenyataan lain di luar tembok sekolah.

Pada prosesnya ruang tersebut adalah ruang dimana kebebasan berpikir menjadi yang diutamakan. Ruang tersebut adalah ruang-ruang kelompok masyarakat sipil (baca:LSM). Di LSM ruang-ruang keterbukaan terbuka lebar, perbedaan pendapat bukan hal tabu.

Namun tentu saja ruang tersebut tidak ada diantara kebun teh dan kebun palawija. Ruang tersebut berada jauh dari kesunyian desa. Ruang tersebut ada di kota yang penuh dengan hiruk pikuk dan kebisingan juga lengkap dengan berbagai kegilaanya.
Ruang-ruang dimana keterbukaan dan kemerdekaan ide sangat lah penting bagi seorang guru. Di sana dia akan menemukan hal baru yang tentu saja akan banyak berpengaruh terhadap sudut pandang si guru itu sendiri, terutama dalam mengajar.

Dengan sudut pandang yang berasal dari ruang masyarakat sipil, guru selalu punya hal baru sekaligus pembanding atas sudut pandangnya dalam mengajar. Dengan demikian pola pikirnya tidak akan hanya terpaku pada buku-buku teks atau kurikulum yang telah disediakan oleh Negara. Namun jauh dari itu, bertambahnya sudut pandang akan berpeluang besar membawa perubahan dan inovasi dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian, seorang pendidik akan terhindar dari penyakit akut berupa kejumudan dalam proses berpikir. Jujur, bagi penulis, kejumudan dalam proses berpikir adalah hal yang paling menakutkan diantara ketakutan-ketakutan lain dalam menjalani kehidupan.

Tentu saja ini bukan hal mudah. Ruang kebebasan berpikir di masyarakat sipil itu tidak ada di desa. Ruang itu baru tersedia di kota, dimana hiruk pikuk, kebisingan serta kegilaan menyatu padu. Apa boleh buat, dari pada mengalami kejumudan dalam berpikir, menjalani kehidupan diantara kota dan desa adalah pilihan yang tersedia. Tidak ada lagi pilihan yang tersedia.

Dengan demikian, dengan hidup di dua alam cakrawala berpikir terus terbuka dan terus terperbaharui. Kejumudan dalam proses berpikir bisa dihindari, setidaknya untuk masa sekarang dan beberapa tahun kedepan.
***
Desember lima tahun yang lalu ada desember yang basah, begitupula dengan Desember sekarang. Sama-sama desember yang basah juga begitu dingin. Namun di desember sekarang, perbedaanya adalah pada jalur yang di jalani.

Jalur sekarang adalah jalur antara kesunyian pedesaan dengan jalur keriuhan serta kegilaan kota-kota. Jalur ini memang tidak menawarkan kemapanan hidup. Jalur ini hanya menawarkan kebebasan berpikir dan jalur anti kejumudan.

Ya, jalur yang sedang dijalani sekarang adalah jalur yang jauh dari jalur ideal seperti yang diinginkan oleh orang lain. Jalur ini adalah jalur sunyi. Jalur sunyi diantara keriuhan, kegilaan kota serta kesunyian desa. Tampaknya ini adalah jalur yang disediakan tuhan untuk dijalani dengan senang hati dan riang gembira tanpa harus merisaukan masa depan akan menjadi seperti apa.