Menjadi guru yang berada jauh dari hiruk pikuk kota tentu saja melenceng dari keinginan di awal ketika mulai belajar jauh dari orang tua. Namun demikian, inilah kehidupan. Kenyataan sering kali berbeda dengan keinginan.

Selain sering kali kenyataan berbeda dengan keinginan, sering kali juga kehidupan berlalu lebih cepat dari yang kita bayangkan sebelumnya. Sering kali kita tidak terlalu merasa bahwa kita telah melewati rentang waktu yang cukup panjang. Ada beberapa kawan yang mengatakan hal tersebut adalah sebuah pertanda bahwa kita betah menjalani kehidupan selama ini. Dugaan tersebut bisa jadi betul bisa juga tidak.

Bagi saya sekarang, kenyataan yang berbeda dari keinginan, juga waktu yang bergulir begitu cepat dari yang dibayangkan sebelumnya adalah benar adanya.  Rasanya rentang waktu mulai dari mengenal bangku pendidikan dasar hingga sekarang sudah tidak lagi mengenyam bangku pendidikan formal berlalu begitu cepat.

Tidak terlalu banyak kenangan yang masih tersimpan di memori ketika mengenyam bangku pendidikan dasar kecuali beberapa hal saja. Jalur-jalur yang dilewati ketika pergi dan pulang sekolah merupakan kenangan yang masih terekam kuat di memori otak.

Jalur yang dilewati memang bukan jalur hutan belantara seperti  hutan-hutan di Sulawesi atau Kalimantan. Jalur-jalur yang dilewati tidak lebih dari jalur irigasi di pinggir-pinggir petak sawah para petani.

Di musim penghujan jalur ini lebih menarik di banding ketika musim kemarau. Di musim penghujan sesekali irigasi tersebut bisa dipakai untuk bermain air, bermain perahu-perahuan atau kalau bosan perahu-perahuan biasanya berenang di saluran irigasi tersebut. Tentu saja kegiatan berenang ini bukan kegiatan berenang seperti di kolam renang yang biasa. Tentu saja ini hanya sekedar kegiatan membasahi badan di tengah terik matahari siang hari sepulang sekolah.

Memasuki fase pendidikan menengah (baca : SMP), sama hal nya dengan ketika SD, tidak terlalu banyak kenangan yang masih tersimpan di memori.  Hampir sama dengan kenangan di SD, kenangan melewati jalur irigasi dan petak sawah masih terekam dengan kuat. Hanya saja di fase SMP ini tidak ada acara berenang di jalur-jalur irigasi. Sepertinya waktu itu berenang di saluran irigasi sudah tidak dilakukan oleh orang-orang kebanyakan.

Hanya saja fase-fase ketika melewati jalur berangkat sekolah merupakan fase yang lebih menyenangkan dibanding fase ketika pulang. Biasanya berangkat sekolah selalu berusaha lebih pagi dari yang lain.

Ketika pagi hari di jalur irigasi yang dilewati seringkali di pagi hari banyak ditemukan jamur yang sedap ketika sudah di masak. Lebih pagi berangkat sekolah maka peluang untuk mendapatkan jamur lebih besar dari pada yang lain. Menemukan jamur di pagi hari lalu menyerahkannya kepada ibu untuk di masak sepulang sekolah adalah hal yang sangat membahagiakan waktu itu.

Memasuki fase SMA, adalah fase yang gado-gado. Jalur yang dilewati adalah petak-petak sawah serta jalur-jalur mobil yang penuh debu dan polusi. Seperti halnya fase SD dan SMP tidak terlalu banyak juga memori yang masih tersimpan rapi kecuali beberapa hal saja.

Di pagi buta ketika adzan subuh selesai berkumandang di masjid saya biasanya sudah menyambangi rumah bapak kusir yang sedang menyiapkan kuda dan keretanya untuk berangkat mencari penumpang. Saya adalah penumpang pertama dari kereta kuda mang Ujang. Saya adalah pelanggan setia sekaligus pelanggan generasi terakhir dari kereta kuda Pa Ujang. Disebut pelanggan generasi terakhir karena setelah sekolah saya selesai kereta kuda Pa Ujang sudah tergantikan oleh ojeg.

Selain jalur berangkat, jalur pulang juga menjadi kenangan yang masih tersimpan dengan baik. Jalur pulang, terutama ketika diharuskan masuk sekolah siang hari merupakan fase yang terekam lebih kuat dibanding fase lainnya.

Ketika sekolah siang, artinya pulang sore. Ini artinya saya harus menyusuri petak-petak sawah di sore hari atau malam hari bada magrib. Melewati petak-petak sawah di sore hari yang kemarau merupakan fase-fase yang paling menyenangkan. Menikmati angin sepoi-sepoi di sore hari sambil melihat sekeliling yang dikelilingi oleh gunung-gunung menjadikan perjalanan menuju rumah menjadi ringan dan seringkali tidak terasa.

Namun ketika harus pulang agak sore artinya harus melewati petak-petak sawah di malam hari jalur menjadi agak berat, apalagi jika musim penghujan datang. Angin sepoi-sepoi dan gunung-gunung di sekeliling tidak lagi terlihat. Yang terlihat di depan tidak lebih dari hampran padi yang tidak lagi berwarna hijau namun sudah berwarna hitam.

Jika musim penghujan datang perjalanan menyusuri petak-petak sawah harus dilewati tanpa alas kaki karena takut sepatu kotor sehingga tidak bisa dipakai untuk keesokan hari. Di beberapa pematang sawah biasanya terasa lebih licin dari pematang yang laiinya. Kalau sedang naas, terjerembab ke parit-parit di sisi petak sawah yang penuh air adalah hal biasa. Kalau sudah begitu terpaksa sampai rumah harus segera di cuci dan dikeringkan dengan setrikaan arang cap ayam jago supaya esok siangnya bisa dipakai kembali.

Namun ketika musim kemarau, perjalanan menyusuri petak-petal sawah menjadi lebih menarik, lebih puitis dibanding musim penghujan. Langit di musim kemarau selalu dipenuhi oleh bintang-bintang yang selalu mengerlip tiada henti.

Jika musim kemarau datang sesekali suka berhenti di tengah-tengah sawah lalu mengamati bintang yang berkerlip. Jika beruntung, sesekali merasa melihat bintang jatuh. Jika sudah demikian, biasanya langsung memanjatkan doa karena kata orang-orang doa-doa ketika melihat bintang jatuh akan dikabulkan oleh tuhan. Tanpa berpikir akan dikabulkan atau tidak hal tersebut dilakukan dengan begitu saja.

Namun, Jika sudah datang musim kemarau perjalanan menyusuri petak-petak sawah dengan langit penuh bintang selalu berjalan lambat. Malam yang puitis, terlalu sayang untuk dilewati dengan cepat. Sekitar pukul 20:00 lewat sedikit biasanya baru menginjakan kaki di rumah. Mie rebus pleus cabe dan teh manis panas biasanya sudah menunggu di dapur. Tanpa banyak bicara ibu sudah meyiapkannya.

Fase kuliah sepertinya menjadi fase paling lambat dan berat untuk di jalani. Delapan tahun  menempa diri di salah satu perguruan tinggi keguruan di ujung Bandung Utara menjadi babak berikutnya setelah melewati fase pendidikan dasar dan menengah.

Hanya bermodal surat lulus ujian menempuh perguruan tinggi, doa orang tua dan beberapa rupiah untuk membayar sebagian uang pendaftaran perjalanan melewati bangku kuliah dimulai. Tentu saja dengan bekal seperti itu perjalanan melewati fase pendidikan tinggi tidak akan terlalu mudah untuk dilewati. Namun waktu itu tidak ada pilihan lain yang baik.

Walhasil diawal kuliah tentu saja dengan bekal seperti itu jalan kuliah terasa lebih terjal dibanding orang lain yang juga berkuliah. Jalan yang terjal itu selalu terasa diakhir semester lama dan menjelang semester baru. Uang semesteran tentu saja menjadi momok yang mengerikan. Sepertinya lebih mengerikan dari soal-soal uas yang diberikan dosendosen.

Namun begitulah hidup, betul kata pepatah di mana ada kemauan di sana ada jalan, selalu banyak jalan menuju Roma dan lain-lainya semua itu ternyata terbukti.  Selalu ada celah untuk melewati itu semua.

Bekerja lalu mendapatkan sejumlah uang untuk membayar uang semesteran adalah celah itu. Setelah beberapa bulan bekerja dan sejumlah uang terkumpul maka dengan sendirinya fase paling menakutkan dapat terlampaui walau tidak semulus yang lain.

Setelah itu, kehidupan di pendidikan tinggi tidak semenakutkan di awal. Beberapa rute telah dilewati beberapa kali. Beberapa celah yang bisa dilewati telah diketahui. Jalur yang dilalui menjadi lebih terprediksikan dari pada waktu sebelum-sebelumnya.

Fase kuliah dipendidikan tinggi menjadi semacam titik balik dalam kehidupan. Setelah beberapa celah berhasil di ketahui dan pelajari, kehidupan kampus betulbetul dijalani dengan sepenuh hati. Tanpa bekerja di luar, namun betul-betul berada di dalam kampus. Namun tentu saja tidak melulu berbicara mengenai mata kuliah dan tugastugas yang tentu saja menumpuk. Mata kuliah dan tugas-tugasnya hanya sebagian kecil saja dari bagian-bagian lain di dalam kampus yang tentu saja jauh lebih menarik.

Menjalani kehidupan, menjalani proses kreatif di luar kelas perkuliahan dirasa jauh lebih menarik dibanding perkuliahan di dalam kelas itu sendiri. Waktu itu,  kebebasan berpikir dan berekpresi dirasa lebih berkembang di luar tembok-tembok kelas perkuliahan.

Ruang-ruang di komunitas (baca : organisasi) terasa lebih lapang dibanding ruang kelas itu sendiri. Ruang-ruang komunitas mendorong diri untuk bebas dan luas dalam berpikir, bebas dan lepas dalam berkegiatan. Ruang di komunitas lebih leluasa tanpa batas waktu dan ruang.  Kapanpun mau berteriak, kapanpun mau menulis, kapanpun mau membaca puisi, kapanpun mau menikmati kopi, kapanpun mau keluar boleh dilakukan tanpa banyak berpikir.

Kebebasan dan keleluasan untuk melakukan proses kreatif ini pada akhirnya yang membuat fase di pendidikan tinggi menjadi lebih menarik dibanding fase yang lainya. Fase di pendidikan tinggi di luar bangku perkuliahan yang juga pada akhirnya lebih banyak membentuk karakter emosional, karakter berpikir dan berkegiatan baik ketika di kampus atau ketika menentukan pilihan jalur setelah selesai dari kampus.

Dari balik jendela, dari depan layar komputer jinjing semua fase perjalanan dari mulai pendidikan dasar hingga selesai pendidikan tinggi terbayang dengan jelas. Petak-petak sawah, jalur-jalur irigasi, kerli bintang kemarau, ruangruang di luar bangku perkuliahan dimana proses kreatif berjalan masih tergambar jelas.

Mungkin saja ada orang lain menjalani jalur ini juga. Mungkin juga ini jalur yang lumrah di lalui kebanyak orang. Namun saya sendiri merasa bahwa ini merupakan jalur saya. Ya, jalur sunyi. Jalur yang hanya bisa saya rasakan kesunyianya. Dan sepertinya jalur ini bukan hanya jalur yang dilalui ketika menempuh pendidikan formal saja, namun juga jalur yang akan dilalui untuk menempuh kehidupan di depan.

Di usia mendekati setengah usia normal manusia, sepertinya jalur sunyi ini yang akan menjadi penuntun menuju fase kehidupan berikutnya. Jalur ini memang tidak menawarkan gemerlapan seperti jalur lain yang dilewati kebanyakan orang. Ini jalur saya, jalur tanpa gemerlapan, tanpa hiruk pikuk, tanpa keriuhan di sepanjang jalannya.  Ini bukan sebuah pilihan tapi ini merupakan jalur yang telah disedikan oleh Tuhan untuk saya.

Terimakasih kepada semua kawan yang telah bersedia memberikan doa ataupun tidak sempat atau tidak ingat untuk memberikan doa. Semua kebaikan kalian akan senantiasa menjadi pendorong, penyemangat bagi saya untuk menjalani jalur sunyi ini. Sekali lagi terimakasih sebesar-besarnya.