Laki-laki paruh baya dengan kemeja warna putih menutupi pinggang, berlengan panjang  dan berkacamata itu baru saja menyalakan sebatang rokok kretek. Rokok tersebut diambil dari bungkusnya yang tersimpan dalam saku celana panjang berwarna gading. Malam itu, ia seperti tergesa menikmati sebatang rokok kretek yang baru dinyalakannya itu.

Benar saja, belum juga habis separuh batang rokok itu dihisap, salah seorang dari kumpulan mempersilahkan ia  untuk berdiri. Ia berdiri di depan orang-orang yang dari tadi duduk rapih di atas kursi sebelah kolam ikan lele yang dibuat dari terpal.

Ia segera beranjak meninggalkan kumpulan. Dengan berdiri membelakangi beberapa alat musik, ia melontarkan kata sambutan dengan riang gembira dan nampak akrab sekali dengan semua yang hadir pada malam itu.

Tanpa Gitar

 Ya, malam minggu di tanggal 28 Desember 2013 itu adalah malam peluncuran sepuluh album  lelaki itu. Laki-laki itu adalah Mukti-Mukti, pemusik balada Kota Bandung. Malam itu, Mukti-Mukti hendak meluncurkan sepuluh albumnya secara bersamaan. Namun, sepengetahuan penulis, baru kali ini Mukti-Mukti selalu meluncurkan albumnya sepuluh secara bersamaan. Biasanya satu album saja yang biasa diluncurkan pada satu konser.

Selain itu, dipanggung tempat menyimpan deretan alat musik tidak terlihat satu alat musik (baca: gitar) yang biasanya di mainkan Mukti-Mukti ketika bermusik. Tidak ada penjelasan yang begitu terang mengenai hal itu. Hanya saja, dalam sambutan singkat sebelum peluncuran itu, Mukti-Mukti berkata bahwa peluncuran album itu sebenarnya sudah direncanakan sebelumnya namun sempat tertunda karena sakit yang dideritanya.

Ketika terbaring di rumah sakit, Mukti-Mukti bertekad sesudah pulang dari rumah sakit rencana peluncuran sepuluh album itu harus segera direalisasikan. Dan malam itu, merupakan malam dimana Mukti-Mukti merealisasikan tekadnya tersebut.

Bertempat di halaman belakang sekretariat Konfederasi Pergerakan Indonesia (KPRI) di daerah Cikutra Bandung diselenggarakan konser sederhana peluncuran sepuluh album Mukti-Mukti. Dalam album tersebut, peran Mukti-Mukti adalah penyanyi sekaligus penggubah lirik saja. Penulis lirik dari lagu tersebut adalah sahabat Mukti-Mukti dari berbagai kalangan.

Dari kalangan aktivis tercatat ada Fazrul Rakhman, calon presiden independen, Juandi Rewang aktivis 98, Dadang Sudarja, aktivis lingkungan senior. Sementara itu, dari kalangan penyair ada Matdon, pengasuh Majelis Sastra Bandung, Ratna Ayu Budiarti serta beberapa kawan dekat lainya seperti Mateu, Ajeng Kesuma serta beberapa lagu yang dihasilkan dari beberapa workshop menulis lagi yang di fasilitasi oleh Mukti-Mukti.

Malam itu, sepuluh album tersebut diluncurkan dalam tempo waktu kurang dari dua jam. Peluncuran album yang relatif cepat. Tidak semua lagu dalam album dinyanyikan, tetapi hanya perwakilan dari masing-masing album. Bagi penulis, waktu kurang dari dua jam terasa kurang karena terbiasa menyaksikan konser Mukti-Mukti sebelumnya yang biasanya lebih lama dari penyelenggaraan konser tersebut.

Namun, tak ada penjelasan mengenai hal itu. Penulis hanya sebatas menerka. Kemungkinan besar karena Mukti-Mukti sepertinya belum sembuh betul dari sakitnya yang terdengar sering kambuh.

Karena masih penasaran dengan setiap lagu dalam album, sepulang dari konser tersebut, dari komputer jinjing penulis kembali mendengarkan satu persatu lagu dari setiap album yang dibagikan gratis kepada pengunjung.

Kesimpulannya, lagu-lagu tersebut tetap enak didengar, namun terasa sedikit kurang. Seperti sedang menikmati kopi kurang gula. Selidik punya selidik, ternyata  petikan gitar dalam album tersebut terlalu sedikit.  Tidak semua album diiringi oleh gitar. Kebanyakan album diiringi oleh piano.

Namun demikian, aroma nostalgik dan romantic dalam setiap lagu terasa begitu kuat. Walau tanpa gitar lagu-lagu tersebut berhasil membawa penulis masuk dalam suasana lagu tersebut. Menarik!

Nyanyi Revolusi

 Bagi penulis, konser malam tersebut bukanlah konser pertama kali, juga bukan pertama kali penulis mendengarkan lagu Mukti-Mukti. Dalam ingatan penulis, konser tersebut adalah konser  ke empat yang disaksikan oleh penulis langsung.

Itu untuk konser saja, sementara untuk penampilan lainnya seperti tampil di acara-acara penggalangan dana serta acara lainnya yang kebetulan penulis ikuti tentu saja sudah lupa entah penampilan keberapa.

Masih teringat kuat dalam ingatan penulis, pertama kali bersentuhan dengan lagu Mukti-Mukti adalah ketika awal-awal memasuki kehidupan di Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan Universitas Pendidikan Indonesia (UKSK UPI) sekitara tahun tahun 2005.

Waktu itu, penulis tidak sengaja menemukan kepingan VCD yang dijilidnya ada tulisan “Revolusi” dengan latar wajah hitam putih yang tidak terlalu jelas. Penulis lalu membukanya, ternyata didalamnya ada beberapa judul yang salah satu judul lagunya adalah” Revolusi”.Namun sayang,  judul-judul lagu lainnya penulis lupa.

Judul “Revolusi” tersebut masih teringat kuat sampai sekarang. Alasannya karena judul tersebut mudah dibaca dan memang terkesan heroik. Cocok dengan suasana penulis ketika memasuki fase awal hiruk pikuk dunia aktivisme kampus di UKSK UPI waktu itu.

Benar saja, ketika penulis memutar kepingan VCD tersebut di komputer milik kakak tingkat, lagu tersebut memang heroik. “ Esok Pagi, Revolusi” itu beberapa kata yang paling suka penulis dengar.  Kata-kata itu terasa begitu heroik waktu itu.

Kata-kata itu menjadi semacam penyemangat menjalani kehidupan aktivisme di UKSK UPI. Dalam pikiran penulis, lagu ini mempunyai “ daya hipnotis” yang setara dengan film tentang perjuangan aktivis pengorganisasian rakyata di Amazon dalam film Burning Seasoan, yaitu Chico Mendez yang berjuang mengorganisir rakyat Amazon sampai akhir hayatnya itu.

Bagi penulis sendiri, lagu “ Revolusi” dan film “Burning Season” telah menjadi candu. Tak pernah bosan untuk menonton dan mendengarkan lagu dan film tersebut sampai dengan sekarang.

Lagu dengan judul revolusi itu ternyata juga disukai oleh kawan-kawan yang lain di UKSK UPI (baca: senior), sehingga lagu “Revolusi” itu menjadi semacam lagu penyemangat ketika proses penempaan awal di UKSK.

Dalam Setiap pelatihan, kursus, serta diskusi-diskusi kecil lagu “Revolusi” selalu mendapatkan tempat tersendiri. Kami biasanya bersama-sama menyanyikan lagu itu segera setelah lagu darah juang selesai dikumandangkan.

Penulis sendiri sempat penasaran  dengan cara bagaimana kepingan VCD tersebut bisa “nyangsang” di UKSK. Belakangan diketahui bahwa VCD tersebut merupakan pemberian dari salah satu generasi pendiri UKSK diawal, yaitu Isa Barmawi Susetra dari jurusan seni musik UPI.

Konon katanya, kepingan VCD itu disebut-sebut sebagai hadiah kepada anggota sebagai penyemangat dalam berkegiatan. Juga, belakangan diketahui bahwa Isya Barmawi tidak lain adalah adik kandung dari Mukti-Mukti, pengarang plus penyanyi lagu “Revolusi “ itu. Ahh, dunia memang kadang-kadang terasa sempit. Ternyata, di luar nyanyi “Revolusi” dan UKSK ada ikatan lain yang lebih emosional.

Di Luar Revolusi

 Namun sepertinya, nyanyian “Revolusi” adalah judul lagu diantara segudang judul lagu lainnya. Belakangan ini ketika sudah keluar dari kampus dan menyaksikan beberapa konser serta mendengar beberapa lagu lainnya, baik dari video unggahan di media sosialnya Mukti-Mukti serta sekitar seratusan lagu yang diberikannya melalui flash disk tempo hari, ternyata Mukti-Mukti mempunyai banyak judul lagu lain yang tak kalah menarik.

Bagi penulis sendiri, judul lagu di luar nyanyi revolusi juga memiliki kesan dan pesan yang tak kalah dalam dengan nyanyian revolusi serta lagu lainya yang dalam bahasa penulis syarat dengan unsur gerakan sosial.

Dalam sepengetahuan penulis, untuk sekedar menyebut judul lagu ada beberapa lagu tentang Ibu dengan tiga judul berbeda. Pertama, dengan judul Ibu. Kedua, Duka Ibunda. Ketiga,  Rindu Ibu.

Selain tentang ibu, ada satu lagu yang beraroma nostalgik yang selalu dinyanyikan Mukti-Mukti dalam beberapa tahun dengan latar musik berbeda. Judul lagu itu adalah “Surat Kepada D”. Sepengatehuan penulis, lagu itu dinyanyikan dan dipasang ulang selama kurang lebih empat kali, yaitu pada tahun 2001, 1993, 1997, 2002.

Penulis sendiri tidak tahu kenapa lagu dengan tema ibu bisa muncul dalam tiga lagu serta lagu nostalgik buat “D” tersebut bisa diseting ulang sebanyak empat kali. Lagu tersebut sepertinya mempunyai nilai atau bahkan pesan tersendiri yang begitu dalam bagi Mukti-Mukti.

Namun demikian, bagi penulis sendiri kehadiran lagu-lagu dengan tema di luar “Revolusi” seperti yang disebutkan diatas telah berhasil menginterupsi pikiran penulis tentang fungsi dari musik itu sendiri.

Bagi penulis, diawal mendengar nyanyi “Revolusi”, peran seni termasuk didalamnya musik dan film adalah untuk sebuah gerakan sosial semata. Peran musik dalam gerakan sosial, adalah sama dengan novel-novelnya Maxim Gorky yang mampu menggerakan kekuatan masa untuk perubahan.Ya, sebagai motor gerakan perubahan sosial hanya itu.

Namun, setelah mendengar dan menikmati deretan musik Mukti-Mukti, ternyata peran seni tidak sesempit itu.  Lebih dari itu, musik juga berperan untuk hal lain diluar “Revolusi” sekaligus juga musik itu sendiri tidak melulu tentang cinta seperti yang dinyanyikan oleh sederet band kontemporer.

Sepertinya, bagi Mukti-Mukti musik adalah media untuk menjadikan manusia lebih manusiawi. Cara yang Mukti-Mukti gunakan adalah dengan menyanyi, menyanyi dan menyanyi tanpa memaksakan bahwa pendengarnya akan mengakui dan merasakan bahwa dirinya menjadi lebih manusiawi.

Akhirnya, dengan musik Mukti-Mukti memberikan pelajaran sekaligus menginterupsi penulis, atau bahkan mungkin orang lain bahwa peran musik tidak hanya untuk “Revolusi” dan “Cinta” melulu, tetapi lebih jauh musik adalah untuk “Revolusi” dan hal lain di luar “ Revolusi”.

Namun demikian, hal tersebut sebatas pernyataan sekaligus dugaan sederhana dari penulis yang awam dengan teori dan kritik musik. Dugaan itu hanya sekedar refleksi kecil penulis mengenai musik, khususnya musik yang dibuat dan dinyanyikan oleh Mukti-Mukti.

Ah, sangat mungkin interpretasi penulis salah besar. Namun itulah yang dirasakan penulis dari tiga tiga fragmen : Tanpa gitar, Nyanyi Revolusi dan Di Luar Revolusi .