Suwadma

Oleh Aang Kusmawan

Lima belas tahun yang lalu, jarak dari Cililin menuju Buah batu terasa begitu lama dan jauh. Pertama kali melewati hamparan sawah, lalu naik kotrima jurusan Cililin –Cileunyi yang tak pernah keliatan menarik. Itu juga dengan catatan, jika sedang mujur maka tak harus menunggu lama dan langsung mendapatkan tempat duduk. Jika sedang tak mujur, terpaksan harus menunggu lama dan tidak mendapatkan tempat duduk, menggelantung saja di tengah-tengah penumpang lain yang juga berdiri dengan berbagai bau dan rupa. “ Menjadi tarjan ala Kotrima” salah seorang kawan lama menyebut mereka yang bergelantungan di kotrima yang penuh sesak.

Lima tahun yang lalu, jarak dari Buah Batu menuju Kertasari, salah satu kecamatan paling ujung di wilayah selatan Kabupaten Bandung juga terasa begitu lama dan jauh. Dari Buah batu harus terlebih dahulu naik angkutan umum menuju Bale Endah. Jaraknya sebenarnya tidak begitu jauh, namun jika sedang tidak beruntung, jarak tersebut terasa begitu lama. Ya, penyebab utama perjalanan itu terasa lama apalagi kalau bukan macet! Kemacetan begitu parah pada jam makan siang dan pulang kantor.

Perjalanan menuju Kertasari masih jauh. Dari Bale Endah, masih harus menggunakan angkutan umum menuju Ciparay. Dari sini jalan biasanya lancar dengan memakan waktu satu jam. Namun, lagi-lagi pada waktu tertentu jalan seringkali terhambat. Yang paling sering adalah terhambat karena perbaikan jalan di beberapa ruas. Sistem buka tutup yang kadang kala tidak konsisten dalam waktu menjadikan perjalanan terasa begitu menjengkelkan.

Perjuangan belum berhenti. Perjalanan dari Ciparay menuju Kertasari selalu menjadi perjuangan tersendiri. Lima tahun yang lalu, sering kali lama waktu tempuh hampir sama dengan waktu ngetem, atau waktu menungu penumpang penuh. Atau bahkan tak jarang, waktu ngetem lebih lama dari waktu tempuh.

Ini karena angkutan rakyat yang tersedia adalah mobil sisa-sisa jaman belanda yang lebih dikenal dengan sebutan Wagon, aatau orang sunda lebih suka menyebutnya dengan sebutan Wahon. Ukuran Wahon berbeda dengan ukuran angkutan umum yang sekarang ada. Kapasitas normal penumpang Wahon empat belas penumpang. Namun dengan alasan harga BBM yang mahal, kapasitas normalnya bisa menjadi enam belas orang atau lebih. Dengan catatan jumlah tersebut belum termasuk barang bawaan penumpang yang bisa dikemas dalam kardus-kardus mie rebus atau rokok.

Alhasil, lama perjalanan dari Buah-batu menuju Kertasari setara dengan perjalanan Bandung-Jakarta dengan menggunakan mobil trafel-trafel yang akhir-akhir ini menjamur. Itu baru waktu, belum dihitung dengan “penderitaan” berdesak-desakan dengan penumpang dan tumpukan kardus mie rebus atau rokok.

Perjalanan menjadi sedikit menyenangkan apabila kebetulan duduk bersebelahan dengan perempuan muda yang biasanya baru pulang dari kota atau berkuliah. Bisa sedikit bercerita atau sekedar bertukar nama dan berita. Selain itu, hal lai yang cukup menghibur adalah pemandangan disepanjang jalan yang begitu hijau.

Namun sekarang, perjalanan dari Cililin menuju Buah batu tidak selama itu. Tidak juga harus berdesak-desakan atau menjadi tarjan. Perjalanan dari Cililin menuju Buah Batu cukup dengan dua jam saja. Begitu juga perjalanan dari Buah Batu menuju Kertasari tidak lagi sama dengan jarak Bandung-Jakarta. Tidak ada lagi istilah ngetem, atau berdesak-desakan dengan perempuan muda atau dengan tumpukan kardus mie rebus dan rokok. Perjalanann Buah-batu menuju Kertasari cukup dua jam saja atau lebih sedikit. Perjalanan dua jam lebih sedikit terjadi jika berhenti dulu titengah jalan antara Ciparay menuju Kertasari, ya berhenti untuk sekedar menikmati segelas kopi sambil menikmati pemandangan kabut tipis yang menuruni bukit-bukit secara perlahan.

***
Suwadma, ya namanya hanya Suwadma tidak lebih. Jika ditelisik, nama Suwadma, mengacu pada nama kakek, nenek, buyut orang-orang Sunda yang hidup pada abad 17-19. Nama Suwadma, sejaman dengan nama-nama seperti Sumarta, Madhapi, Kasjani, Sujai, Iroh, Arniyah, Arna, Jamna, Kariyoh, Juariyah atau Nasah. Untuk jaman sekarang, nama-nama tersebut sudah tidak lagi digunakan. Nama-nama tersebut sudah tergantikan oleh Mega, Maya, Reni, Rina, Angel, Michele, Jonathan. Namun bagiku, nama-nama seperti Suwadma, Madhapi, dan lainnya tidak mesti hilang ditelan zaman. Nama-nama itu harus tetap hidup, setidaknya untuk menjaga ingatan akan leluhur kita. Supaya kita tidak menjadi orang-orang yang amnesia terhadap sejarah para leluhur.

Namun demikian, nama Suwadma bukan diberikan oleh saya sendiri. Namun diberikan oleh salah seorang kawan mengajar ketika menikmati pagi dan segelas kopi sebelum mengajar beberapa bulan yang lalu. Nama Suwadma mengacu pada seorang anak yang bandel namun cerdas dan cekatan. Begitu kawan saya itu ditanya, nama apa yang cocok buat motor tua buatan tahun 1996, langsung saja di jawab dengan nama Suwadma.

Suwadma, hanya motor tua tahun 1996. Suwadma merupakan motor terbaik dijamannya. Mesinya bandel, bensinnya irit dan sparepartnya mudah di cari. Hampir cocok dengan sparepart motor lain. Suwadma dibeli satu tahun lalu dengan cara mencicil selama tiga kali dari salah seorang kawan mengajar di Kertasari. Uang untuk mencicil bukan diambil dari honor mengajar, tapi diambil dari honor-honor menjadi fasilitator pada projek jangka pendek di beberapa LSM yang dibagi dua dengan biaya menjalani hidup.

Kata kawan saya, motor ini bagus. Cocok untuk perjalanan mendaki gunung lewati lembah seperti perjalanan dari Kertasari. Motor ini mempunyai mesin yang masih bagus, walaupun beberapa aksesoris dan beberapa elemen vital lainya mesti diperbaiki. Lampu yang mulai redup, cat yang mulai luntur, step belakang yang sudah mau copot dan pelk yang sudah berkarat dan sedikit berlubang.

Namun demikian, Suwadma tidak pernah betul-betul begitu merepotkan. Penyakit permanennya tidak terlalu berat, permasalahan pada busi nya saja yang sering kali tidak pernah bertahan lama. Ini hal wajar karena memang Suwadma sudah tidak lagi muda. Selebihnya, Suwadma tidak pernah dibengkel. Pemeliharaan rutin selalu menjadi prioritas. Service, ganti oli selalu menjadi utama.

Begitulah Suwadma, hari demi hari menjadi berbeda. Perjalanan dari kota ke desa dari desa ke Gunung menjadi lebih berbeda dan lebih sebentar. Suwadma, telah menjadi semacam persenyawaan dengan yang mpunya. Suwadma bukan hanya ikatan antara manusia denan seongok besi tua, tetapi sebuah ikatan batin antara dua orang kawan dalam mengarungi setiap rute kehidupan. Akhirnya, salam kenal dari Suwadma untuk semua kawan!jalan-jalan lain akan segera terjelajahi dengan penuh suka cita dan canda tawa.DSCF2892