Uluwatu, Pesona Alam dan Budaya Pulau Dewata Yang Memukau
Oleh Aang Kusmawan

Pernahkah anda menikmati sensasi suasana matahari terbenam sambil menikmati sajian kesenian dari daerah setempat berbarengan?. Anda ingin menikmatinya? Coba datang ke Pure Luhur Uluwatu di Bali. Serangkaian pemandangan matahari tenggelam dan seepisode tari kecak akan senantiasa menunggu untuk kita nikmati secara bersamaan.

Keindahan

Memasuki gerbang Pure Luhur Uluwatu, hawa panas segera menyergap. Bagi penulis yang berasal dari daerah sejuk, hawa tersebut langsung memancing keringat mengucur. Di Uluwatu, hawa panas akan selalu menyergap setiap mereka yang datang. Hal ini terjadi karenaUluwatu berbatasan langsung dengan laut lepas dan juga berada di ujung tebing batu karang setinggi sembilan puluh meter yang berhadapan langsung dengan laut lepas Samudra Hindia.

Sebelum memasuki daerah Pure, setiap pengunjung diwajibkan memakai kain adat yang berwarna kuning dan unggu. Kain tersebut digunakan untuk menutupi bagian tubuh sampai dibawah lutut. Hal ini berlaku untuk semua wisatawan dan semua jenis kelamin. Berdasarkan penuturan penjaga Pure, hal ini dimaksudkan untuk menjaga tatakrama dan kesucian Pure Uluwatu yang memang dikenal sebagai salah satu Pure dari tujuh Pure yang disakralkan oleh masyarakat Bali.

Tidak lebih dari seratus meter setelah gerbang, dengan jalan yang menurun kita segera memasuki halaman depan bawah Pure Uluwatu. Disebut halaman depan bawah karena memang untuk mencapai pintu Pure Uluwatu kita harus menaiki kurang lebih seratus meter anak tangga.
Bagi wisatawan yang bermasalah dengan kelebihan berat badan, tentu saja hal ini membuat mereka agak tersiksa. Keringat akan bercucuran dengan deras dan tentu saja badan akan cukup basah ketika sampai di dalam komplek Pure Uluwatu.

Namun kelelahan itu akan segera sirna setelah kita sampai di daerah belakang Pure. Disana mata kita akan segera tertuju pada hamparan laut biru yang begitu luas. Tebing batu karang yang dihiasai pepohonan dengan daun rindang. Desiran angin dari daun-daun pohon yang tumbuh disekitar, juga perahu-perahu yang bergerak pelan di luasnya lautan. Semuanya menyatu di Pure Uluwatu.Serangkain pemandangan dan situasi macam itu yang membuat Pure Uluwatu berbeda dengan tempat wisata lain, baik yang berada di Bali ataupun di tempat lain, semisal Jawa.

Menikmati serangkaian pemandangan yang mempesona seperti itu, rasa damai segera lindap. Ditambah dengan desiran angin, membuat penulis betah berlama-lama disana. Suasana dan pesona Uluwatu begitu membius setiap pengunjungnya.

Perpaduan

Jarum jam menunjuk pada angka 18.00, salah satu kawan mengajak penulis untuk menikmati Uluwatu dari sudut lain dan dengan cara yang lain. Penulis diajak untuk menikmati Uluwatu sambil menikmati tarian khas Bali, yaitu tari Kecak.

Penulis diajak untuk memasuki sebuah tempat pertunjukan. Tempat pertunjukan itu berbentuk lingkaran. Setengah dari lingkaran tersebut diisi oleh tempat duduk melingkar yang bertingkat. Dari bangku tersebut kita bisa melihat laut dan langit dengan leluasa.

Pertunjukan segera dimulai. Tujuh puluh orang laki-laki dengan sarung motif kotak-kotak merah hitam selutut memasuki dan membentuk lingkaran di lapangan. Mereka berkumpul dan menjulurkan tangan kedepan dengan kompak. Ditengah tarian tersebut terdengar suara “cak,cak,cak,cak” secara berbarengan dan dengan ritme yang teratur.

Sore itu, para penari membawakan lakon Rama dan Sinta. Ceritanya sama persis dengan cerita di daearah lain. Namun yang membedakan dengan pertunjukan lain adalah suasana dan lata panggungnya saja.

Pada adegan Rahwana murka karena Dewi Sinta di bawa oleh Hanoman, tiba-tiba dari kejauhan pemandangan matahari terbenam atau lebih akrab disebut sunset mulai terlihat jelas. Mula-mula cahaya terang dari atas laut luas terlihat begitu menyilaukan mata. Sontak saja pemandangan ini membuat konsentrasi penonton sedikit teralihkan. Segera saja parapengunjung mengabadikan momen tersebut. Lensa kamera segera diarahkan pada puncak sunset tersebut.

Namun, puncak sunset tersebut tidak berlangsung lama.Tidak lebih dari dua menit saja. Setelah itu, matahari betul-betul terbenam. Cahaya yang menyilaukan itu perlahan mulai mengecil lalu kemudian sirna sama sekali.

Beruntung, didepan penulis terdapat umbul-umbul yang berhadapan langsung dengan sunset tersebut. Jadi, penulis menyaksikan sunset dengan cara unik dari balik kain umbul-umbul. Mula-mula cahaya matahari tersebut melebihi lebar umbul-umbul tersebut. Lalu secara perlahan ukurannya mengecil. Cahaya matahari tersebut menjadi lingkaran kecil ditengah umbul-umbul tersebut. Lalu selang berapa waktu, cahaya kecil itu betul-betul menghilang dari balik kain umbul-umbul tersebut.

Berbarengan dengan cahaya matahari memuncak sampai akhirnya betul-betul tenggelam di balik kain umbul-umbul dan diatas laut lepas, pertunjukan terus berlangsung. Suara “cak, cak, cak” terus mengiringi pertunjukan sekaligus juga mengiringi para pengunjung menikmati cahaya matahari tenggelam.

Setelah pertunjukan usai, penulis bergegas meninggalkan tempat pertunjukan dengan melewati jalan yang sama ketika berangkat. Namun, di langit samudra yang redup terlihat pancaraan waran kuning keemasan. Rupa-rupanya itu adalah pancaran matahari yang tadi tenggelam.
Walaupun mataharinya sudah tenggelam, rupanya cahayanya masih enggan untuk betul-betul tenggelam. Segera saja, penulis dan pengunjung lain mengabadikan pemandangan ini dengan mengambil beberapa jepretan dari kameranya masing-masing. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan. Sulit untuka menemukan pesona alam seperti ini didaerah lain.

Ingin rasanya menyaksikan pancaran matahari terbenam itu benar-benar hilang dari laut luas. Namun apa boleh buat, waktu sudah menujukan pukul sembilan belas lebih. Kaki harus segera dilangkahkan menuju parkiran. Waktu pulang harus segera dijelang. Petualangan berlanjut ketempat lain.

Atas dasar serangkaian pesona tersebut, rasa-rasanya tidak salah jika Bali menjadi tempat wisata paling diminati orang-orang. Di sini selalu tersedia berbagai pemandangan yang tak mudah lekang oleh waktu dan mudah terlupakan.

DSCF1542DSCF1605DSCF1549
Dan di Uluwatu, perpaduan antara keindahan bukit karang, matahari tenggelam dan pertunjukan tari kecak telah menjadi perpaduan yang sulit ditemukan didaerah lain. Ingin rasanya penulis mengulangi kenikmatan perpaduan tersebut. Anda, kapan mau mencoba?