Jatuh Bangun  Pendidikan Sukasari

Oleh Aang Kusmawan

Diawal Januari 2013, sedang terjadi peralihan cuaca dari musim hujan ke musim kemarau. Angin bertiup kencang. Hujan datang tak beraturan. Di sebuah ruangan kecil, kantor Madrasah Aliyah (MA) Sukasari, tempat biasa berdiskusi, terlihat kaca-kaca mulai berembun. Pemandangan dibalik kaca tidak lagi terlihat jelas. Terhalangi oleh embun yang menempel di kaca.

Waktu terasa berjalan cepat. Tahun 2007 tahun dimana mulai mengenal Kertasari,  adalah tahun dengan penuh gairah mahasiswa. Lalu tahun 2009 adalah tahun krisis dimana masa studi di kampus perlahan habis. Dan sekarang tahun 2013, adalah tahun dimana gairah mahasiswa telah berganti dengan gairah seorang pengajar dan masa krisis studi telah terlampaui.

Tidak terasa, sore itu adalah satu sore ditahun keempat penulis mencoba belajar menjadi pengajar di MA Sukasari Kecamatan Kertasari.  Dan tahun keenam dari pertama kali mulai mengenal dan menginjakan kaki di Kertasari.

***

Akhir tahun 2007. Musim hujan sedang dalam puncaknya.  Di siang hari sesudah melaksanakan ritual mimbar demokrasi, semacam kegiatan orasi dan baca-baca puisi di depan Gedung Pentagon Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), hand phone terasa bergetar. Rupanya, Juandi seorang kawan di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Bandung mengirimkan sebuah pesan singkat.

“Bung, telah terjadi longsor di Desa Cikembang Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Itu hulu sungai Citarum, hari kemarin telah terjadi longsor. Beberapa rumah masyarakat disana tertimpa longsor. Barangkali, bung dan kawan-kawan bung di mau membantu mereka” begitu isi pesan pendek dari Juandi.

Tak terbersit sedikitpun bahwa longsor tersebut akan menjadi pembuka cerita perjalanan di Kertasari. Waktu itu yang membuat Kertasari cukup menarik adalah kondisi lingkungan yang cukup menarik. Pemandangan alamnya sangat indah. Sejauh mata memandang semuanya berwarnan hijau. Apalagi jika melihat ke arah bukit. Pemandanganya membuar mata kita enggan beranjak. Kabut selalu terlihat merayap di atas pohon-pohon teh dan pohon-pohon lain. Dan pada akhirnya, keindahan pemandangan tersebut membuat Kertasari tidak mudah untuk dilupakan. Kertasari selau berada dipikiran. Dan akhirnya keindahan alam Kertasari telah menjadi pembuka cerita sekaligus menyebabkan saya kembali datang ke Kertasari.

Lalu di pertengahan Juni 2009, suasana kampus sudah tidak lagi menarik. Kertasari dirasa jauh lebih menarik. Seusai merampungkan seminar proposal skripsi, langkah selanjutnya diarahkan menuju Kertasari. Mengajar sambil membereskan skripsi dirasa jauh lebih menarik dan menantang dibandingkan menghabiskan satu semester hanya untuk menyelesaikan skripsi sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana.

Dadan Ramdan, dia alumni jurusan fisika UPI. Dia adalah kawan Juandi di LSM sekaligus senior organisasi di kampus. Pada tahun 2009, dia sudah tiga tahun mengajar di Sukasari.  Dia bolak-balik Bandung-Kertasari. Dia hidup di dua alam, yaitu alam kotan dan desa. Tiga hari dalam seminggu dia mengajar di Sukasari.

Segera saja ketertarikan mengenai Kertasari disampaikan. Bak gayung bersambut, Dadan pun mengajak penulis untuk berdiskusi lebih lanjut. Disatu malam di sekitar Buah batu penulis masih ingat kuat pernyataaan yang menarik dari Dadan. “ mengajar di gunung, itu bukan perkara gampang, bung. Kau harus siap menderita, kau harus militan. Tidak ada yang ditawarkan oleh sekolah di gunung. Tidak ada honor yang besar. Tapi disana kau akan banyak menemukan hal menantang. Kau akan menemukan sumur tanpa dasar di Sukasari” begitu ungkapan Dadan kepada penulis beberapa tahun lalu.

Mendengar ungkapan Dadan tersebut, niat untuk belajar mengajar semakin menguat. Justru hal seperti ini yang dicari. Menjawab semua tantangan pengajaran di gunung adalah jauh lebih menarik dari menjawab tantang dikota. Kondisi pendidikan di desa dengan berbagai keterbatasan dirasa lebih menarik dibandingkan dengan berbagai kelebihan dan kelengkapan fasilitas yang ada di kota. Selain itu, keinginan untuk membuktikan ada  tidaknya “sumur tanpa dasar” di Sukasari adalah hal lain yang membuat semakin tertarik mencoba mengajar di Sukasari.

Lalu sesudah itu, awal Juli 2009 menjadi waktu yang bersejarah. Cerita baru sekaligus babak baru baru saja dimulai. Menjadi guru di Kertasari, di pegunungan Bandung selatan  segera dijalani.

Waktu itu, gairah dan semangat terasa begitu besar. Semua referensi untuk mengajar segera dikumpulkan dari berbagai sumber. Beberapa buku penting mulai dibeli. Dan tentu saja, bahan-bahan ajar serta perangkat administrasi mengajar ketika mengajar disemester sebelumnya dikumpulkan dan disimpan dengan rapi untuk bekal mengajar  Petualangan untuk mencari “sumur tanpa dasar”  baru saja dimulai.

***

Lima puluh tiga tahun kebelakang, tepatnya tahun 1961, H Asep masih ingat betul bahwa kakeknya, yaitu H Oyo Sukarya adalah orang yang sering dibicarakan masyarakat di Kertasari.  H Oyo adalah satu dari tiga orang petani paling kaya di Kertasari. Tanahnya tersebar luas bukan hanya di Kertasari, akan tetapi juga di daerah Pacet dan sekitarnya.

Sebagai petani, dia tidak hanya menanam tanaman palawija, akan tetapi juga menanam padi di daerah Pacet. Padi ini kemudian diolah sendiri oleh H Oyo lalu kemudian dijadikan sebagai konsumsi bagi keluarganya sendiri dan dan lebih dari sepuluh pekerjanya di kebun. Padi yang ditanam hampir semuanya dipakai sendiri. Jarang ada yang dijual keluar.

H Oyo mempunyai perhatian yang lebih terhadap pengembangan kehidupan agama. Hal ini juga yang kemudian mendasari H Oyo mendirikan madrasah diniyah di Sukasari. Atau dulu cukup disebut dengan istilah pengajian. Dan konon katanya, madrasah diniyah ini merupakan madrasah diniyah generasi pertama di Cibereum dan dianggap sebagai madrasah diniyah pelopor di Cibereum.

H Oyo mempunyai tiga anak dari tiga kali menikah. Pertama, adalah H Oman Abdurohman. Kedua, H Kosasih. Ketiga, Udin Samsudin. Pada prosesnya ketiga saudarat tersebut lebih dikenal sebagai tiga serangkai Sukasari yang cukup dikenal dan disegani karena kemampuannya masing-masing.

Karena menaruh perhatian lebih terhadap pengembangan islam di Sukasari, H Oyo mengirimkan H Oman abdurahman menuntut ilmu agama ke Tasik. Beberapa alasan mengirimkan H Oman ke Tasik karena merupakan tempat luluhur istri H Oyo. Selain itu, Tasik merupakan kota yang terkenal dengan pendidikan agamanya yang kuat. Dikirimlah H Oman Abdurohman ke Tasik selama lebih dari lima tahun. Dalam pikiran H Asep, maksud utama mengirimkan H Oman agar kelak  dapat mengembangkan islam di Sukasari.

Hampir lima tahun lebih H Oman menuntut ilmu di Tasik. Datang waktunya untuk segera kembali pulang ke Sukasari. Di Sukasari telah disediakan madrasah Diniyah dengan murid yang cukup banyak.Namun H Oman tidak hanya sekedar mengajar madrasah Diniyah akan tetapi juga mengajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) Buah Batu.

Berawal dari sana H Oman yang baru keluar dari pesantren mulai terbuka pandangannya. Mulai terbersit keinginan dibenaknya untuk mendirikan lembaga pendidikan di Sukasari. Berawal dari sana H Oman kemudian membanguan komunikasi yang intens dengan Bapanya H Oyo juga kedua adiknya tentang maksud dan cita-citanya mendirikan lembaga pendidikan agama di Sukasari.

Jauh hari sebelum H Oman menamatkan pendidikannya di Tasik, di daerah Neglasari, kampung tetangga Sukasari yang masih berada dalam wilayah desa Cibereum didirikan Pendidikan Guru Agama (PGA).  PGA ini didirikan atas kerja sama tokoh masyarakat lokal, yaitu H Sallam dengan salah satu pesantren besar di daerah Maruyung,  Kecamatan tetangga Kertasari, yaitu pesantren Baitul Arqom yang dipimpin oleh KH Ali Imron.

Namun sesudah kepulangan H Oman ke Sukasari, PGA tersebut mengalami stagnasi. Siswanya mulai meninggalkan PGA tersebut dan pengurus PGA tersebut mulai meninggalkannya secara perlahan. Sederhananya PGA tersebut diambang kebangkrutan.

Bak gayung bersambut, H Oman dan dua saudara lainnya berkumpul bersama H Oyo. Tujuan rembug tersebut yaitu hendak menyelamatkan PGA tersebut dan membawanya ke Sukasari sekaligus menghidupkan dan mengembangkan kembali PGA tersebut.

Melihat antusiasme ketiga anaknya tersebut dan didorong oleh niat yang kuat untuk mengembangkan pendidikan islam di Sukasari, H Oyo kemudian menyepakati untuk mendirikan PGA di Sukasari. Komunikasi mulai dibangun dengan  KH Ali Imron. H Oyo mulai mengurus surat wakaf tanah untuk dijadikan sebagai tempat pendirian PGA.

KH Ali Imron sepakat untuk memindahkan kelas jauh PGA di Neglasari ke Sukasari. Berdirilah PGA di Sukasari di atas tanah wakaf dari H Oyo Sukaryo. Secara resmi kelas jauh PGA Baitul Arqom di Sukasari berdiri pada tahun 1974, atau kurang lebih tiga puluh sembilan tahun silam.

Berawal dari sanalah sejarah lembaga pendidikan formal Sukasari di mulai. Ketiga serangkai mulai terlibat intensif dalam proses belajar mengajar.  Siswa-siswa mulai berdatangan dari berbagai kampung di desa-desa yang ada di Kertasari. Begitu juga guru-guru mulai didatangkan dari Bandung, dari Cianjur dan daerah lainnya. Guru-guru ini sengaja didatangkan dari daerah jauh karena memang PGA Sukasari mempunyai tenaga pendidik yang terbatas. Selain tiga serangkai tersebut, yang menjadi tenaga pengajar dari Kertasari tidak lebih dari tiga orang. Kebanyakan tenaga pendidik di Sukasari berasal dari luar.

Agar guru-guru dari jauh betah mengajar di Sukasari, H Oyo memberikan perhatian yang cukup kepada para guru tersebut. Kebutuhan tempat tinggal dan makan sehari-hari dipenuhi oleh H Oyo.

Setiap hari dapur H Oyo tidak pernah berhenti ngebul. Aktivitas utama di pagi hari adalah menanak nasi untuk makan guru-guru PGA menjelang siang. Waktu itu menanak nasi masih menggunakan cara yang sederhana. Namun waktu itu nasi yang dihidangkan sangat khas, karena masih menggunakan dulang sebagai tempat menyimpan nasi. Dulang adalah semacam tempat nasi yang terbuat dari kayu yang dibentuk menyerupai bakul nasi.

Kegiatan menyediakan makan siang untuk guru-guru ini sebenarnya sangat sederhana. Lauk untuk makan para guru tidak pernah khusus atau membuat lauk yang mahal. Lauk untuk makan cenderung seadanya. Asin yang di goreng, sambel dari cabai hijau, atau perkedel kentang dan minumnya adalah teh tawar panas, yang daun tehnya merupakan hasil rajangan sendiri menjadi menu utama setiap hari. Jika sedang ada rizki dan biasanya ketika hari raya tiba, menu makan berganti dengan daging.

Namun kegiatan seperti ini menjadi berkesan, karena ketika makan terjadi interaksi yang hangat antara guru dan keluarga. Sekat-sekat antara guru dengan pemilik yayasan dan keluarga meluber dalam acara jamuan makan siang tersebut. Demikianlah, di Sukasari suasana kekeluargaaan begitu terasa waktu di waktu-waktu itu.

Namun suasana di Sukasari tak selamanya demikian. Ujug-ujug pemerintah mengeluarkan aturan baru. PGA tidak lagi berlaku. PGA digantikan oleh model lain, yaitu Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Maka pada tahun 1982, ketiga serangkai dan H Oyo berkumpul untuk menyikapi perubahan tersebut. Hasil rembugan sepakat untuk mengikuti model tersebut. Seluruh persiapan segera di urus.

Syarat utama pendirian MA dan MTs adalah harus berbadan hukum yayasan. Oleh karena itu mau tidak mau harus membuat badan hukum. Lalu pada tahun 1982, melalui notaris Apit Wijaya yang berkedudukan di Bandung di Sukasari telah berdiri satu Yayasan dengan nama Yayasan Kesejahteraan Sosial Karya Bakti (YKSKB) Sukasari Desa Cibereum Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung.

H Oyo menjadi nakhoda pertama YKSKB. Ketiga serangkai menjadi pengurus inti. Namun pada waktu itu yayasan baru sebatas formalitas belum berjalan dengan maksimal. Konsentrasi pekerjaan masih diarahkan untuk pengembangan MA dan MTs.

H Oman diberi mandat untuk menjadi kepala MA dan MTs Sukasari.  Guru-guru yang mengajar di MA dan MTS adalah guru-guru yang dulunya mengajar di PGA. Hampir semua guru PGA mengajar di MA dan MTS. Murid muridnya adalah murid-murid PGA. Murid yang  baru saja menempuh PGA selama satu tahun di masukan ke MTS dan yang sudah menempuh tiga tahun dimasukan ke MA.

Jumlah murid MA dan MTS waktu itu tidak sebanyak sekarang. Jika di gabung, jumlah murid MA dan MTS waktu itu tidak lebih dari seratus orang. Gedung sekolah pun jauh lebih baik sekarang. Gedung MA dan MTs waktu itu adalah gedung sekolah dengan dinding bilik dan lantai tanah. Namun ada kesamaan antara dulu dan sekarang, yaitu papan tulis. Dari dulu dan sekarang papan tulis masih menjadi alat bantu utama dalam mengajar.

Tahun 1980-1990 adalah  adalah tahun penuh krisis dan ujian bagi lembaga pendidikan Sukasari. Pada tahun-tahun tersebut lembaga pendidikan di sekitar Sukasari dan luar Kertasari berkembang seperti cendawan di musim hujan.

Mau tidak mau ini sangat berpengaruh terhadap minat anak dalam bersekolah. Selain itu, diantara tahun-tahun tersebut adalah tahun peralihan dalam dunia pendidikan sekaligus tahun peralihan generasi kepengurusan yayasan dan lembaga pendidikan.

Tahun 1986 ujian itu mulai menerpa Sukasari. H Kosasih menjadi pegawai negeri di departemen agama, sama dengan H Oman. Namun H Oman ditugaskan sebagai guru di PGA, dan H Kosasih ditugaskan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kertasari. Ketiga-tiganya mempunyai pekerjaan dengan kesibukannya masing-masing.

Akan tetapi rasa kebermilikan mereka terhadap lembaga pendidikan dan yayasan begitu tinggi. Setelah masa peralihan awal berlalu, jabatan kepala MA dan MTs tidak lagi dijabat rangkap oleh H Oman, namun mulai dibagi dengan H Kosasih. H Oman mengepalai MTs dan H Kosasih mengepalai MA. Adapaun Udin Samsudin tidak ikut campur, karena waktu itu sudah punya kesibukan di SD Sukasari.

Setahun kemudian, H Kosasih diharuskan meneruskan kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana. Tidak ada banyak pilihan yang tersedia. Kuliah di UNJANI kampus Bandung adalah pilihan terbaik dari beberapa pilihan yang tersedia. Semenjak itu konsentrasi H Kosasih terpecah. Selain mengurusi pekerjaan di KUA juga mengurusi  tugas kuliah. Akibat logis dari hal ini, sekolah untuk sementara waktu kurang mendapatkan perhatian.

Begitu pula dengan H Oman, ujug-ujug mendapatkan mutasi ke kantor departemen agama kabupaten. Mutasi itu tidak dapat ditolak. Akhirnya hampir sama dengan H Kosasih, konsentrasi mulai terbelah. Sekolah kurang mendapatka perhatian.

Pada prakteknya hal ini, menyebabkan Guru-guru Sukasari, baik di MTS maupun di MA secara perlahan mulai mengundurkan diri dan guru yang ada jarang hadir kekelas. Akibatnya jumlah peminat siswa ke MTs dan MA menurun drastis. Sukasari berada diambang kebangkrutan.

Ada berbagai alasan kenapa guru-guru itu mengundurkan diri. Pertama, karena mereka ada yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) ditempat lain. Kedua, karena sudah tidak lagi nyaman dengan gaya kepemimpinan masing-masing unit. Ketiga, ada yang memilih untuk keluar menjadi guru dan melanjutkan perjalanan hidupnya dengan memilih pekerjaan selain guru.

Pilihan terakhir ini diambil karena memang tingkat kesejahteraan guru-guru waktu itu sangatlah minim. Untuk memenuhi kebutuhan beras keluarga saja belum cukup. Sedangkan mereka yang jarang hadir kekelas adalah guru-guru yang sama memiliki kesibukan lain, seperti mengurusi pertanian miliknya serta menjadi pemuka agama di masyarakat.

Masa-masa itu adalah masa paling berat sekaigus mengesankan bagi guru-guru. Masih teringat kuat dalam benak Ade Komaludin waktu itu. Guru-guru tidak hadir hampir semuanya. Sementara kehadiran siswa cukup tinggi. Ade Komaludin waktu itu bukanlah guru, dia hanya seorang Tata Usaha (TU). Namun apa boleh buat, anak-anak harus belajar walaupun sedikit.

Dia mendatangi setiap kelas. Dari mulai kelas satu MTs sampai dengan kelas tiga MA. Semuanya diberi tugas mencatat. Dibeberapa kelas dia menerangkan sekemampuanya dan sepengetahuannya. Kondisi seperti ini berjalan kurang dari satu tahun. Masa-masa itu menjadi masa tersulit bagi Sukasari dan masa paling penuh perjuangan bagi semua yang tersisa disekolah.

Namun puncak krisis itu terjadi sesudah tahun 1990. Pada tahun tersebut, pendiri yayasan sekaligus pembimbing dari tiga serangkai dipanggil oleh yang kuasa. Setelah itu ,tahun 1994, ketika H Kosasih sudah menyelesaikan kuliah dan berkonsentrasi kembali mengurus sekolah, tiba-tiba H Kosasih dipanggil oleh yang kuasa.

Ujian bagi Sukasari belum berakhir. Dua tahun sesudah H Kosasih  meninggal, tepatnya di tahun 1996, H Oman terserang penyakit strooke. Fisiknya mulai tak berfungsi dengan baik. Pengelolaan sekolah, khususnya MTs tidak berjalan dengan maksimal. Keadaan ini semakin diperparah dengan meninggalnya Udin Samsudin di tahun 1997.

Sepeninggalnya tiga serangkai kondisi Sukasari betul-betul mengalami krisis. Regenerasi kepemimpinan tidak bisa dilanjutkan segera. Generasi-generasi berikutnya tidak bisa langsung mengisi kekosongan. Selisih usia dan kemampuan yang terlampau jauh menjadi faktor penghambatnya. Sekolah dikelola oleh guru-guru dan staff TU yang masih tersisa dan dikelola dengan seadanya. Yang penting siswa belajar itu prinsip utama pengelolaan sekolah diwaktu itu.

Waktu itu, H Asep sebagai putra tertua dari H Oman abdurahman bingung bukan kepalang. Kuliahnya di UIN sedang dalam fase terakhir. Anak-anak dari H Kosasih dan Udin Samsudin belum juga ada yang dewasa untuk mengisi posisi pemimpin yang kosong.

Namun akhirnya yayasan dan lembaga harus diselematkan. Pimpinan yang kosong harus diisi. Sambil menyelesaikan kuliah, H Asep didaulat untuk menjadi ketua yayasan sekaligus membenahi MA dan MTS.

Tak lama kemudian, H Asep lulus kuliah. Tak ada pilihan lain baginya selain mengurus dan mengembangkan yayasan dan unit pendidikan. Tapi dengan berbagai keterbatasan akhirnya mengembangkan unit pendidikan adalah lebih utama dan mendesak dibandingkan dengan mengembangkan yayasan secara khusus.

Namun lagi-lagi dengan berbagai keterbatasan dan melihat kondisi realitas yang ada, kedua unit itu tidak mungkin dikembangkan keduanya. Akhirnya MTS adalah unit pendidikan yang dipilih untuk dibangun.

Adapun MA, tidak dikembangkan di Sukasari namun untuk sementara waktu dikembangkan di daerah Cikembang melalui yayasan Al-Fatah yang dimiliki oleh kolega dekat dari  H Oyo sekaligus keluarga dari istri H Asep yaitu H Ibad Badriyah.

Salah satu alasan penting pemindahan tersebut adalah karena jumlah siswa yang bersekolah di MA sangat sedikit. Jumlah keseluruhannya tidak lebih dari dua puluh orang. Tentu saja pengeluaran akan lebih besar dari pemasukan, karena salah satu sumber pemasukan utama adalah dari Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) yang jumlahnya sangat terbatas. Selain itu, pada waktu tersebut sumber pemasukan lain nyaris tidak ada.

Honor guru betul-betul mengandalkan dari SPP siswa. Sumber honor lain seperti penghasilan kebun tidak bisa lagi diberikan. Kebun H Oyo telah diwaris-wariskan kepada anak-anaknya. Sawah telah dijual kepada orang lain. Begitupun hasil kebun tidak lagi terlalu signfikan dan tidak berada dalam satu pengaturan.

Namun keinginan manusia seringkali beda dengan takdir tuhan. Ketika tengah membangun dan mengembangkan MTs, H Asep diangkat menjadi PNS di SMP Pangalengan. Mau tidak mau, jabatan sebagai kepala sekolah harus ditanggalkan karena bertentangan dengan aturan kedinasan.

Tampuk kepemimpinan sekolah diberikan kepada orang lain. Asep Ajat seorang guru dari Pacet didaukat untuk menjadi kepala sekolah.  Asep Ajat, walaupun dia bukanlah keluarga yayasan tapi dia dipandang cakap untuk menjadi kepala sekolah. Itulah salah salah satu alasan kenapa Asep Ajat diangkat sebagai kepala sekolah.

Asep ajat memimpin dengan cukup baik. Manajemen keuangan mulai dibenahi. Manajamen pengajaran mulai dibenahi. Akhirnya kepemimpinan Asep Ajat berbuah cukup manis. Jumlah siswa MTs kembali bertambah. Dinamika disekolah mulai berjalan normal. Namun demikian, Asep Ajat tidak lama menjadi kepala sekolah. Dia harus meninggalkan Sukasari

Akhirnya, yayasan memberikan tugas kepada Ahmad Asari untuk menjadi kepala sekolah selanjutnya. Ahmad Asari adalah guru MTs yang berasal dari Pamengpeuk Garut. Ahmad adalah istri dari Iis, adik pertama dari H Asep.

Pada fase ini, kondisi Sukasari perlahan mulai bangkit. Siswa kembali bertambah. Guru-guru kembali berdatangan. Fasilitas sekolah mulai dibangun. Sekolah dengan dinding bilik dan lantai tanah mulai diperbaiki. Pada periode ini, guru-guru yang berasal dari jauh jumlahnya mulai berkurang. Guru-guru mulai diganti oleh guru-guru yang berasal dari masyarakat setempat dan keluarga yayasan.

Roda kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan harus dijalankan. Generasi ketiga Yayasan Kesejahteraan Sosial Karya Bakti (YKSKB) telah siap. Ahmad Fathoni, putra tertua dari H Kosasih telah memasuki fase akhir kuliah. Tampuk kepala sekolah diserahkan kepada Ahmad Fathoni di tahun 2007.

Tahun 1992, berbarengan dengan krisis yang melanda, sedikit pengembangan pendidikan masih bisa dilakukan. Atas dukungan dari pihak yayasan, Raudlatu Athfal (RA) mulai didirikan. Cita-cita besarnya selain memajukan pendidikan anak usia dini, namun juga untuk menyiapkan calon-calon siswa bagi MI dikemudian hari.

Atas dasar landasan pemikiran tersebut, tahun 1999, tujuh belas tahun dari pendirian MA/MTS, H Asep dan istrinya H Ibad Badriyah berinisiatif mengembangkan Madrasah Ibtidaiyah. Salah satu alasan kuat pendirian MI tersebut untuk memberikan masukan bagi siswa-siswi MTs kelak. Lulusan dari MI akan diarahkan untuk menjadi siswa-siswi di MTs, lalu siswa MTs akan diarahkan masuk ke MA.

Namun demikian, inisiatif itu tidak terlalu disambut dengan baik. Pasalnya di dekat MA dan MTs jauh-jauh hari telah berdiri SD Sukasari yang pernah di pimpin oleh Udin Samsudin. Sebagain besar keluarga dan pengurus yayasan menolak ide itu.

Namun apa boleh buat, ketidak setujuan tetap ketidak setujuan dan keinginan tetap keinginan. Pada tahun 1999 kelas pertama MI mulai dilaksanakan. Muridnya hanya delapan orang. Satu orang adalah anak paling besar dari H Asep. Selebihnya adalah anak-anak dari pekerja H Asep di kebun. Guru-gurunya adalah lulusan MA Sukasari yang sedang melanjutkan kuliah. Kepala sekolahnya adalah H Ibad, istri H Asep. Secara perlajan MI mulai dibangun dan dikembangkan.

Tahun 2013, lima puluh tiga tahun dari mulai pendidikan diniyah mulai didirikan di Sukasari. Tiga puluh satu tahun dari mulai akta yayasan di buat serta pendirian MA dan MTs. Dua puluh satu tahun dari pendirian RA. Empat belas tahun sejak pendirian MI. Lembaga pendidikan Sukasari telah berada di fase selanjutnya. Krisis dan transformasi sudah terlampaui. Generasi ketiga sedang berada di puncak kepemimpinan.

Seratus dua puluh murid MA, empat ratus lebih murid MTs, enam puluh murid RA,  empat puluh murid PAUD, tujuh belas ruang kelas, Tiga ruang kantor guru, satu mesjid besar menjadi modal utama lembaga pendidikan di Sukasari.

Lima puluh tenaga pengajar tengah menjalalankan aktivitas pendidikan di Sukasari. Tidak ada yang tahu kapan akan kembali mengalami krisis dan transformasi kembali. Semua tengah menjalankan tugasnya masing-masing, dan generasi keempat sedang disiapkan dengan cukup matang.