Tahun 2007, malam yang muram. Hawa dingin menusuk tajam. Kepulan asap tipis keluar perlahan seiring hembusan napas. Kertasari seperti sedang menyambut tamunya dengan apa adanya.

Lalu, tahun 2009,  sore yang cerah. Cahaya matahari agak kemerahan. Dari kejauhan bukit-bukit terlihat hijau seperti permadani. Dibeberapa sudut kabut tipis terlihat berjalan pelan.

Dan, sekarang di penghujung 2012, di tengah rintik hujan yang tak lama usai, ditengah hawa dingin yang enggan beranjak, Kertasari tak lebih dari sebuah ironi. Ya, sebuah ironi ditengah kondisi bangsa, kondisi masyarakat, kondisi ekonomi dan politik yang sepenuhnya sakit.

Tahun 1911, hampir seratus tahun lebih,  PT London Sumatera, perusahaan partikelir dari  Inggris mulai membuka Kertasari. Seakan tak mau kalah langkah oleh perusahaan partikelir, pemerintah kolonial juga membuka perkebun. Teh dan Kina menjadi komoditas pertama dan unggulan.

Hutan-hutan dibuka, masyarakat-masyarakat pekerja mulai didatangkan dari Garut dan daerah-daerah sekitarnya. Mulailah Kertasari memasuki babak baru. Perekonomian baru, masyarakat dan budaya baru.

Kertasari telah menjadi magnet yang kuat, tidak hanya bagi para pemodal dan kaum-kaum eksodan, tetapi juga telah menjadi magnet bagi kalangan birokrasi. Tak ada yang tahu, bahwa pada tahun 1946, Kertasari, khususnya daerah Talun Santosa pernah dijadikan sebagai kantor pemerintahan Kabupaten Bandung.

Lalu pada tahun 1961, perkebunan Kertasari diambil alih oleh negara. Mulailah terjadi dinamika lain. Pemerintah melalui PTPN VIII mulai ikut campur banyak. Para pemetik teh diangkat menjadi karyawan perkebunan. Kaum eksodan yang tidak masuk kedalam struktur perkebunan membangun kelompoknya sendiri. Membangun komunitas lain di luar perkebunan. Mereka mengembangkan perkampungan di luar komplek-komplek para pemetik teh, administratur dan pejabat administrasi lainnya. Penjajah telah pergi, negara menggantikan posisi penjajah.

Pergantian pemimpin, pergantian pergolakan politik pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap Kertasari. Tahun 1998-2000 ketika era reformasi bergulir. Ketika rejim otoriter Soeharto di pakasa turun, situasi berubah drastis.

Atas nama desakan ekonomi, lahan-lahan teh diserobot warga. Bukit-bukit dimana pohon keras berada, perlahan di babat habis. Siapa yang punya kekuatan, siapa yang punya keberanian lebih, maka dia mendapatkan lahan yang luas. Pemerintah telah alpa waktu itu. Jakarta telah menyebabkan Kertasari berubah seratus delapan puluh derajat.

Mulailah tragedi panjang itu dimulai. Kertasari mulai kembali bertransformasi. Ya, Kertasari mulai bertransformasi menjadi ironi. Lahan-lahan yang dulunya perkebunan teh berubah menjadi lahan-lahan dengan tanaman semusim. Daun-daun kentang, daun-daun kol, juga daun-daun wortel terlihat menghijau dimana-mana, termasuk dilahan-lahan yang mempunyai kemiringan ekstrim.

Namun aneh, tanaman-tanaman semusim itu ternyata tak berpengaruh terhadap banyak orang. Hanya segelintir orang saja yang menikmati itu semua. Yang mempunyai keberanian besar, yang mempunyai modal besar ternyata yang lebih banyak menikmati itu.

Selebihnya, mayoritas masyarakat tidak juga merasakan kesejahteraan itu. Hidupnya tak lebih dari sekedar buruh tani yang papa. Distribusi yang berkeadilan tidak terjadi di Kertasari. Angka Indek Pembangunan Manusia (IPM) Kertasari masih berada dikelompok bawah diantara angka IPM kecamatan lain di Kabupaten Bandung.

Berbarengan dengan masalah ketidak merataan distribusi, masalah lain berkembang pesat. Banjir lumpur, longsor, kekeringan menjadi hal yang lumrah di Kertasari. Ini sebuah ironi yang terang.

Lumpur-lumpur itu mengalir bersama unsur hara dari tanah-tanah tebing yang ditanami tanaman semusim. Longsor dan kekeringan itu terjadi karena air tidak punya lagi tempat untuk berdiam diri. Tanaman tegakan pengikat air dianggap mengganggu tanaman semusim. Lahan-lahan yang seharunya menjadi lahan serapan air, kini telah berubah menjadi lahan tanaman semusim. Kertasari sedang bertransformasi menjadi ironi yang entah berakhir kapan.

Lalu ujug-ujug banyak pahlawan kesiangan datang. Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten juga lembaga-lembaga donor berdatangan tanpa pernah diundang. Mereka menawarkan berbagai aneka obat yang mereka anggap mujarab. Mereka menanggap dirinya sebagai dokter yang membawa panacea untuk Kertasari.

Namun, alih-alih lahan Kertasari menjadi seperti sediakala, lahan-lahan Kertasari malahan bertambah jenuh. Lahan Kertasari mengalami transformasi lain. Lahan Kertasari telah menjadi lahan politis. Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lembaga-lembaga donor berlomba menanami Kertasari.

Minggu ini gubernur menanam, minggu berikutnya bupati menanam, minggu berikutnya menteri menanam. Begitulah Kertasari, beribu pohon ditanam namun tak pernah betul-betul besar. Karena setiap minggu lahan Kertasari ditanami oleh pohon yang berbeda.

Lalu dimana masyarakat lokal? Ya, mereka ada, mereka tak pernah kemana-mana. Namun mereka kebih banyak menjadi penonton, menjadi moderator. Mereka tak pernah betul-betul menjadi pemain dan pemilik arena pertandingan. Mereka lebih banyak berdiri diluar lapangan, berteriak lantang namun tidak pernah betul-betul bisa mengatur ritme permainan.

Hujan belum juga berhenti, hawa dingin tidak juga mulai beranjak. Sementara dedak kopi sudah mulai terlihat didasar gelas. Sampai kapankah Kertasari akan menjadi ironi?ah terlalu sulit untuk bisa menjawabnya.

Heri Parahyangan, Dadan Madani, Khadafi Safari Hadi, Ahmad Fathoni, Agus Nurwendi, Atep Ahmad Syarif, juga anak-anak SD, MI, MTS, MA, SMA masa depan Kertasari adalah milik kalian, kalian punya jawaban itu.

Aang Kusmawan, Guru Ekonomi. Fasilitatir, penulis dan peneliti paruh waktu.