Dadang Sudarja

Pemberdayaan Ekonomi dan Politik Rakyat Untuk Perjuangan Lingkungan

Sindrom pragmatis akut sedang melanda para aktivis sosial saat ini. Banyak ativis sosial yang menyeberang kejalan politik praktis. Akhirnya,  menemukan aktivis yang masih konsisten dalam garis dan jalan perjuangan di luar jalur politik praktis menjadi sulit.

Namun demikian,  biasanya aktivis yang konsisten tersebut mempunyai berapa ciri. Pertama, jumlahnya tidak terlalu banyak. Kedua, aktivis tersebut tidak atau bahkan jarang tersentuh dan “menyodorkan” dirinya untuk diliput oleh media.  Ketiga, kondisi sosial ekonomi aktivis seperti ini biasanya tidak jauh berbeda  dengan kondisi sosial masyarakat yang dibelanya. Dengan kata lain, biasanya aktivis seperti ini mempunyai penampilan yang sederhana dan bersahaja.

Dalam konteks Jawa Barat atau bahkan nasional, Dadang Sudarja adalah salah satu aktivis yang konsisten dan mempunyai ketiga ciri tersebut. Bagi aktivis yang malang melintang dalam perjuangan lingkungan, nama Dadang Sudarja, atau biasa dipanggil Wa Dadang sudah tidak terdengar asing lagi.

Perjalanan

Sebagai anak yang dilahirkan dari orang tua yang berprofesi sebagai pegawai  perkebunan, keindahan serta sunyinya suasana perkebunan tatar pasundan telah kaffah ia jelajahi.

Dalam konteks tersebut, ada satu massa di mana masa itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan dimasa depannya. Masa itu adalah masa-masa ketika Wa Dadang kecil mendengarkan cerita-cerita pewayangan melalui radio di beberapa perkampungan pegawai perkebunan pada setiap malam di akhir pekan.

Masih terekam dengan kuat bagaimana beratnya menenteng radio  bersama sang ayah dengan menggunakan motor fasilitas perkebunan pada malam hari waktu itu.  Namun, perjalanan menembus perkebunan teh dan karet  di malam hari yang seharusnya terasa menyiksa tersebut dinikmatinya dengan keriangan. Dinginnya suasana perkebunan serta kabut tebal menjadi pengalih perhatian alami yang ampuh dari beratnya beban  tersebut.

Persinggunganya dengan lingkungan tatar pasundan yang indah tidak berhenti sampai di sana. Memasuki masa kuliah, kecintaannya terhadap lingkungan berlanjut dengan bergabung bersama organisasi pencinta alam kampus MAPAK ALAM UNPAS dianggapnya sebagai langkah yang pas.

Namun demikian, dari MAPAK ALAM Wa Dadang mulai mendapatkan sudut pandang yang berbeda dengan pandangan masa kecilnya. Dari sudut pandang pencinta alam, selain keindahan alam tatar pasundan seperti perkebunan teh dan karet,  ternyata ada juga alam yang tidak lagi indah seperti dalam kenangan masa kecilnya.

Gunung-gunung yang gundul, banjir yang terjadi   dimana-mana, gempa yang sering kali terjadi, perubahan alih fungsi lahan  adalah fakta lain mengenai kondisi alam yang tidak selalu indah tersebut. Dari hal inilah  Wa Dadang mulai menyadari betul bahwa alam tempatnya hidup  memang betul-betul sedang bermasalah.

Tanpa melalui proses diskusi yang panjang, Wa Dadang mengambil kesimpulan bahwa letak permasalahan lingkungan sejatinya bukan terletak pada lingkungan itu sendiri.  “ waktu itu saya berkesimpulan bahwa masalah mendasar dari kelesatarian lingkungan adalah kesadaran dari manusia itu sendiri, oleh karena itu yang harus pertama kali dibangun adalah kesadaran dari manusianya itu sendiri” pungkas Wa Dadang.

Berangkat dari pandangan tersebut, Wa Dadang memutuskan untuk bergabung dengan Perhimpunan Penanganan Masalah Kependudukan (PPMK), sebuah asosiasi mahasiswa yang peduli atas permasalahan kemasyarakatan di Jawa Barat yang juga sekaligus organisasi dan anggota pendiri WALHI Jawa Barat.

Selain bergabung dengan PPMK, Untuk semakin mempertajam kemampuanya dalam hal pemberdayaan masyarakat, Wa Dadang kemudian bergabung dengan Bina Swadaya Jakarta.

Beruntung, melalui beberapa koleganya di Bina Swadaya, Wa Dadang berkesempatan untuk lebih memperdalam ilmu pemberdayaan masyarakat. Dengan berbekal pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat yang pernah dijalaninya, Wa Dadang mengambil  S2 konsentrasi bidang pemberdayaan masyarakat di Universitas Atheneo Fhilipina.

Perpaduan Apik

 Sepulang dari Fhilipina, jiwa pemberdayaan masyarakatnya semakin terpanggil. Berbekal konsep serta praktek yang dipunyainya perjuangan pemberdayaan masyarakat dikerjakannya dengan teguh dan sepenuh hati.

Berpandangan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya sekedar membuat masyarakat berdaya secara politik, akan tetapi juga harus berdaya secara ekonomi, kerja-kerja kolaborasi pemberdayaan ekonomi dan politik dilakukan dengan apik.

Dalam pemberdayaan ekonomi, misalnya dengan menggandeng berapa pengusaha lokal dan mancanegara, Wa Dadang banyak mendirikan perusahaan dan koperasi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat kecil. Para pedagang pasar, tukang becak, petani-petani kecil di pelosok merupakan target utama program pemberdayaan yang dikerjakan.

Dalam konteks tersebut, pemberdayaan ekonomi yang dilakukan adalah bagaimana pedagang tersebut bisa terbebas dari jerat bank keliling (baca :rentenir) dan bisa mandiri.

Setelah terbebas dari jeratan bank keliling mereka kemudian diarahkan untuk membuat badan usaha yang bisa menaungi mereka. Membuat koperasi untuk pedagang, petani kecil   dan pengayuh becak tesebut merupakan proses lanjut dari program pemberdayaan yang dilakukan. Dengan pendampingan yang telaten, tidak lebih dari dua tahun pedagang tersebut dapat mandiri terbebas dari bank keliling.

Berbarengan dengan hal tersebut, pemberdayaan politik masyarakat juga dilakukan. Isyu rusaknya lingkungan, baik karena keserakahan manusia atau karena fenomena alam menjadi pendorong utama program pemberdayaan yang dilakukan.

Dalam kurun waktu  dua puluh tahun kebelakang, tidak lebih dari lima yayasan telah berhasil dibangun oleh Wa Dadang. Hampir semua yayasan yang didirikan bergerak dalam upaya penyadaran masyarakat dalam kerangka penanggulangan sebelum dan sesudah bencana alam terjadi. Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah komunitas yang telah mendapatkan manfaat dari yayasan yang telah dibuatnya.

Namun demikan, dalam pandangan Wa Dadang, apa yang dilakukanya selama ini masih jauh dari cita-citanya mengenai tatanan lingkungan yang lebih beradab dan berpihak kepada masyarakat kecil. Ada masalah besar lainnya yang mendesak untuk segera dilakukan oleh para pejuang lingkungan. Masalah tersebut adalah masalah kemandirian organisasi pejuang lingkungan.

“ saya melihat bahwa masalah kemandirian menjadi masalah yang teramat penting untuk segera diselesaikan, jika tidak diselesaikan masalah ini akan sangat menghambat perjuangan lingkungan kedepan” ungkap Wa Dadang dengan Lugas.

Lalu ketika ditanya solusi seperti apakah yang ampuh untuk mengatasi masalah kemandirian tersebut? Dengan intonasi yang cukup jelas wa Dadang menjawab “ untuk kemandirian dan kemajuan perjuangan lingkungan, maka saya berkesimpulan bahwa solusi utamanya adalah perpaduan apik antara pemberdayaan politik dengan pemberdayaan ekonomi, dengan demikian perjuangan untuk pemberdayaan politik bisa tidak mengandalkan pada pihak lain, akan tetapi mengandalkan pada pemberdayaan ekonomi yang dilakukan sendiri” ucapnya, masih dengan intonasi yang jelas.

Ditengah berkembanganya fenomena fragmatis para aktivis yang pada akhirnya mau tidak mau cukup menggangu perjuangan yang dilakukan, jawaban Wa Dadang tersebut cukup menarik untuk dibuktikan. Anda setuju dan tertarik untuk melakukanya?

Aang Kusmawan, Kordinator Serikat Guru Muda (SGM) Bandung, pengajar ekonomi di MA Sukasari Al-Fattah Kecamatan Kertasari  Kabupaten Bandung. Penulis lepas di beberapa media cetak dan media sosial.