Buruh Perkebunan Teh Kertasari.

Menjadi Buruh Perkebunan Sepanjang Hayat

Oleh Aang Kusmawan

 

Jarum jam penulis menunjuk pada angka sepuluh, pagi. Komplek perumahan didepan penulis terasa sunyi. Tidak ada lalu lalang anak-anak yang bermain atau orang tua yang berkumpul. Suasana makin terasa sunyi, tatkala dari beberapa jendela rumah keluar asap tipis. Kemungkinan besar asap tipis tersebut berasal dari tungku penduduk. Dugaan itu semakin kuat  dengan banyaknya tumpukan kayu bakar di sebelah rumah pada penduduk.

Pagi itu, penulis baru saja sampai di Desa Neglawangi Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Desa Neglawangi merupakan desa terakhir di Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan desa-desa di Kabupaten Garut. Penduduk desa Neglawangi hampir seluruhnya bekerja sebagai buruh perkebunan. Semua komplek perumahan di Desa Neglawangi dikelilingi oleh perkebunan teh. Ada yang menjadi buruh pemetik, pemelihara mesin-mesin pengolah teh, atau juga bagian pengolahan daun dan pucuk teh

Di Neglawangi, penulis hendak menjumpai salah satu kawan lama. Enjang, nama yang cukup sederhana. Kawan yang satu ini penulis kenal di forum diskusi beberapa tahun kebelakang. Sarjana pendidikan jebolan STKIP Siliwangi Kota Cimahi ini tidak bekerja diperkebunan, namun bekerja sebagai Naib, atau bahasa sundanya Lebe. Orang yang suka mencatat pernikahan, atau menikahkan.

Kesederhanaan

Mencari rumah Enjang cukup sulit. Penduduk jarang yang ada dirumah. Namun, akhirnya bisa juga menemukan rumah Enjang setelah bertanya kepada salah satu warga yang rumahnya dijadikan warung. Rupa-rupanya penduduk tersebut tidak bekerja diperkebunan, namun membantu menyediakan barang-barang yang dibutuhkan penduduk. 

Tidak lebih dari dua gang dan satu belokan dilalui, rumah Enjang sudah bisa ditemukan Keadaan rumah terasa sepi seperti rumah yang lain. Penulis segera mengucapkan salam, namun tidak segera menadapatkan jawaban. Baru pada itungan ketiga, ucapan salam penulis baru terbalas. Pintu rumah terbuka, terlihat Enjang keluar rumah dan segera menyambut kami dan segera mempersilahkan penulis untuk masuk.

Gambar

Segera setelah penulis duduk berkumpul bersama-sama, ibu Enjang dan istrinya membawa satu poci air teh yang asapnya masih terlihat mengepul dan sepiring pengganan, atau penulis lebih mengenalnya dengan nama bala-bala. Sejenis makanan yang dibuat dari campuran terigu, irisan kol, wortel yang digoreng garing. Segera saja penulis menikmati hidangan yang disuguhkan tuan rumah. Menyeruput teh buatan penduduk dan bala-bala di suasana perkebunan yang dingin terasa mantaps. Kenikmatan itu ternyata tidak harus mahal rupanya.

Sambil menikmati teh panas dan bala-bala saya mencoba menggali lebih dalam tentang ritme kehidupan diperkebunan dimasa sekarang dan masa-masa sebelumnya.

Dari penuturan ibu Enjang, diketahui bahwa ternyata hampir semua penduduk yang berada di Neglawangi bukanlah asli negawangi. Hampir semua adalah keturunan para pendatang yang kebanyakan berasal dari Garut selatan dan daerah lainnya. Jadi sebenarnya masyarakat Neglawangi adalah masyarakat keturunan Garut.

Tidak diketahui secara pasti kapan migrasi tersebut terjadi, namun bisa dipastikan bahwa migrasi tersebut dimulai ketika perkebunan teh Kertasari mulai dibuka oleh Belanda. Namun dari dulu pertama kali dibuka, posisinya penduduk migrasi tersebut tidak pernah beranjak jauh. Hanya sebagai buruh perkebunan. Jabatan agak tinggi seperti level administratur dijabat oleh orang lain. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena memang penduduk yang bekerja sebagai buruh perkebunan tidak dianggap cakap. Tarap pendidikan yang rendah menjadi faktor penyebab utamanya.

Derita Turun Temurun

Selain itu, masih berdasar penuturan Ibu Enjang, pekerjaan menjadi buruh perkebunan ternyata merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun. Dari pengakuan Ibu Enjang, diketahui bahwa beliau adalah turunan keempat dari para leluluhurnya yang dulu bekerja menjadi buruh perkebunan. Bisa dipastikan bahwa generasi sebelum generasi keempat keluarga ibu Enjang masih merupakan buruh perkebunan, hal tersebut mengacu  pada  sejarah tanam paksa yang dimulai sekitar tahun 1800an.

Menambahkan hal tersebut, Bapa Enjang, mengatakan bahwa sebenarnya menjadi buruh perkebunan bukanlah pilihan yang terbaik. Namun buruh perkebunan tak pernah dihadapkan pada pilihan yang lebih baik.

Dalam hal memilih pendidikan misalnya, untuk sekedar melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTP, penduduk desa Neglawangi harus bersekolah ke desa tetangga, yaitu desa Santosa. SLTP satu-satunya yang paling dekat dan juga paling murah. Harap dicatat, bahwa jarak dari Desa Neglawangi ke Desa Santosa, khususnya letak sekolah bukanlah jarak yang dekat. Jika ditempuh dengan jalan kaki bisa sampai dua jam lebih. Dan ketika menggunakan motorpun waktu tempunya tidak terlalu jauh beda, karena kondisi infrastrukturnya yang sangat buruk.

Gambar

Kondisi tersebut sedikit lebih baik dibandingkan dengan lokasi SMA. Lokasi paling dekat SMA terletak di Desa Cibereum  dan Kecamatan Pangalengan. Jarak keduanya sama jauh dan membutuhkan banyak biaya. Biaya sekolah ke Cibereum jauh lebih mahal dibandingkan dengan ke Pangalengan. Lagi-lahi hal ini terjadi karena buruknya infrastruktur.

Walhasil, akibat kondisi seperti ini, masyarakat Desa Neglawangi tidak punya pilihan yang banyak untuk meningkatkan kapasitas mereka. Menerima warisan orang tua berupa pekerjaan menjadi buruh  perkebunan merupakan pilihan yang tidak bisa ditolak. Tidak ada pilihan yang lebih layak selain menjadi buruh perkebunan.

Kalaulah nasib buruh tani Desa Neglawangi disebut penderitaan, maka penderitaan mereka belum selesai sampai disana. Berdasarkan pengakuan Enjang sendiri, kondisi pabrik perkebunan itu ternyata sangat berpengaruh terhadap perbaikan taraf ekonomi masyarakat Neglawangi. Kondisi pabrik yang dimaksud adalah berupa tingkat keuntungan yang didapatkan oleh pabrik.

Masih terekam kuat dalam ingatan Bapak Enjang, bahwa kondisi buruh  dahulu tidak separah sekarang. Kondisi jalan masih cukup bagus, kondisi rumah masih cukup bagus. Namun sekarang kondisi jalan semakin buruk, juga kondisi rumah semakin buruk.

Menurut penyelusuran Bapa Enjang, Dalam dua puluh tahun terakhir ini belum ada upaya perbaikan jalan dan perbaikan perumahan oleh pihak pabrik., hal ini terjadi karena tingkat keuntungan pabrik dalam dua puluh tahun ini mengalami penurunan. Menurunnya tingkat keuntungan ini pada akhirnya menyebabkan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan buruh pabrik terutama kondisi infrastruktur jalan dan perumahan menjadi hal yang sulit diwujudkan.

Namun menurunnya keuntungan pabrik hanya salah satu saja, salah satu faktor lainnya adalah kenaikan harga bahan pokok yang cepat. Menurut Bu Enjang sebenarnya, kenaikan harga barang ini tidak akan terlalu bermasalah jika diikuti dengan kenaikan pendapatan. Namun diperkebunan, pendapatan buruh perkebunan sangat dipengaruhi oleh banyakya jumlah daun yang dipetik serta harga daun yang dipetik tersebut. Sementara itu, masih berdasarkan penuturan Bu  Enjang, bahwa harga petik daun teh sangat sulit sekali untuk naik. Kalaupun mengalami kenaikan, jumlah kenaikannya selalu kecil dibandingkan kenaikan harga bahan pokok. Akhirnya, masyarakat tidak bisa berbuat banyak. Sudah mampu memenuhi kebutuhan pokok saja sudah bagus.

Didalam kehidupan masyarakat Neglawangi, tidak ada yang menjamin bahwa generasi kedepan tidak akan menjadi buruh perkebunan. Selama kondisi perekonomian masih memburuk, pendidikan sulit dijangkau, maka menjadi buruh perkebunan adalah pilihan yang paling logis dibandingkan dengan harus bermigrasi kedaerah lain dengan mencari pekerjaan yang lain. Melihat ritme kehidupan di Neglawangi, rasa-rasanya julukan menjadi buruh sepanjang hayat cocok sekali diberikan kepada buruh perkebunan di Neglawangi.

Melihat hal demikian, tiba-tiba penulis terpancing mengajukan beberapa pertanyaan. Dimana posisi pemerintah? Di mana letak-letak keberhasilan desentralisasi, otonomi daerah dan birokrasi yang sering didengung-dengungkan oleh mereka yang ada di kota itu? Rasa-rasanya di Neglawangi semua itu omong belaka. Berganti wacana, berganti presiden, berganti bupati, berganti camat, berganti kepala desa semuanya terasa sama. Alih-alih beralih menuju kondisi yang lebih baik, di Neglawangi malah sebaliknya.

 

Aang Kusmawan. Guru Ekonomi. Fasilitator, Peneliti,  dan Penulis paruh Waktu.