Tidak terlalu banyak para petualang yang tertarik untuk mencoba jalan lain menuju Gunung Papandayan Kabupaten Garut yang terkenal itu. Padahal jalan tersebut menawarkan keindahan serta tantangan yang tak kalah dengan jalan biasa. Jalan tersebut adalah jalan papandayan melewati Kertasari Kabupaten Bandung. Penulis lebih senang menyebutnya sebagai jalan belakang menuju Papandayan.

Jalan Belakang

Saya lebih senang menyebutnya dengan jalan belakang, karena memang secara umum Kecamatan Kertasari adalah Kecamatan yang berada di belakang Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, tempat dimana Gunung Papandayan tercatat secara administratif.

Bagi para wisatawan yang asing dengan nama Kertasari, jangan terlalu khawatir. Dilihat dari letak geografis, Kecamatan Kertasari adalah Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. Kecamatan yang dikenal dengan perkebunan teh Malabar, susu murni dan karamel serta Situ Cileuncanya. Atau sederhananya, Kertasari adalah kecamatan yang berada tepat di belakang Kecamatan Pangalengan.

Jarak dari Pangalengan ke Kertasari tidak lebih dari dua jam menggunakan motor. Sebenarnya perjalanan bisa lebih sebentar, namun buruknya kondisi jalan menyebabkan perjalan menjadi lebih lama. Tidak ada kendaraan umum dengan roda empat menuju Kertasari. Oleh karena itu perjalanan harus ditempuh dengan ojeg langsung menuju Desa Neglawangi, Desa terakhir di Kecamatan Kertasari yang berbatasan langsung dengan desa di wilayah Garut.

Selain melalui Pangalengan, jalur lainnya adalah melewati terminal Ciparay, Kecamatan di kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Majalaya. Bagi wisatawan yang ingin mencoba jalur ini, perjalanan bisa dimulai dari terminal kecil Ciparay Kabupaten Bandung. Dari terminal tersebut perjalanan dilanjutkan menuju Desa Cibereum Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Dari desa Cibereum perjalanan dilanjutkan dengan tujuan Desa Neglawangi Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung.

Sama seperti rute dari Pangalengan, kondisi jalannya buruk dan tidak ada angkutan umum beroda empat menuju Neglawangi. Oleh karena itu, kita harus menggunakan ojeg untuk mencapai desa Neglawangi. Perlu waktu dua jam kurang untuk mencapai Neglawangi dengan menggunakan motor.

Sesampainya di Neglawangi, petualangan yang sebenarnya baru akan dimulai. Tidak ada angkutan umum, baik roda dua ataupun roda empat yang bisa mengantarkan kita menuju kawah Papandayan. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih tiga sampai empat jam. Waktu tiga jam bisa ditempuh jika kita berjalan bergegas. Jika perjalanan tidak bergegas, dipastikan puncak akan dicapai pada jam keempat atau bahkan mungkin lebih.

Menembus Batas

Penulis lebih senang menyebut perjalanan menuju Papandayan melalui Kertasari yang dimulai dari Desa Neglawangi sebagai perjalanan menembus batas. Disebut menembus batas, karena memang perjalanan dari Kertasari menuju Papandayan adalah perjalanan melintasi batas-batas Kabupaten Garut dan Bandung.

Bagi penulis, petualangan menembus batas itu baru terasa ketika langkah pertama diayunkan meninggalkan Neglawangi. Tidak lebih dari seratus meter, mata penulis telah dimanjakan oleh pemandangan hamparan hijau dahan-dahan teh perkebunan Neglawangi. Tidak terlalu jauh, terlihat para pemetik teh begitu trampil memetik teh lalu memasukanya kedalam keranjang yang digendong dengan setia sepanjang hari oleh para pemetik teh tersebut. Bagi penulis yang bukan berasal dari daerah dataran rendah, hal tersebut begitu menarik, begitu indah dan cukup bersahaja.

Sementara itu, dari kejauhan terlihat kabut tipis menyelimuti beberapa puncak gunung. Puncak Gunung Puntang, Gunung Kendeng dan tentu saja Gunung Papandayan itu sendiri. Entah kenapa, melihat dan menikmati suasana tersebut, rasanya kesunyian dan kedamaian itu menyergap perlahan.

Kesunyian dan kedamaian itu semakin terasa tatkala perjalanan dilanjutkan dengan membelah petak-petak kebun teh yang menghampar hijau. Tidak ada suara bising kendaraan atatu suara bising apapun, kecuali desiran angin melalui daun-daun kayu putih serta beberapa pepohon yang namanya tidak penulis ketahui.

Rute perkebunan teh dari Neglawangi menuju Papandayan didominasi oleh jalan setapak berbatu yang menanjak. Oleh karena itu semakin jauh perjalanan, maka bisa dipastikan kita semakin berada diketinggian dari tempat sebelumnya. Hal tersebut penulis rasakan ketika perjalanan sudah mencapai salah satu bukit kebun teh. Ketika pandangan diarahkan kebelakang, terlihat kabut itu berganti menyelimuti tempat pertama kali berangkat. Neglawangi terlihat diselimuti kabut tipis dan Gunung Papandayan, khususnya puncaknya terlihat begitu jelas. Suasana telah berubah cukup drastis.

Selepas perkebunan teh, puncak Papandayan terlihat begitu jelas, tanpa kabut. Rute perjalanan tidak lagi menanjak, dan didominasi oleh perkebunan palawija dan tebing-tebing batu vertikal. Cukup berbeda dengan rute sebelumnya, walau tetap sama berjalan di jalan setapak berbatu.

Namun perjalanan disetapak berbatu tersebut tidak berlangsung lama. Alas jalan mulai berganti dengan tanah keras dan cadas, dan tidak lama berjalan, perjalanan sampai pada jalan sempit dihimpit oleh tebing tanah.

Dan kejutan akhirnya dijumpai ketika tebing tanah sempit tersebut selesai dilewati. Kawah Papandayan serta asap kawah langsung terlihat menghampar luas didepan mata. Ketakjuban segera lindap dalam dada. Kawah belerang dan desir angin disalah satu puncak Papandayan segera menjadi penawar lelah yang mujarab.

Namun, perjalanan menembus batas baru saja mencapai salah satu titik pemberhentian dari beberapa titik pemberhentian. Kurang lebih dua tempat disekitar Papandayan yang wajib diinjak di daerah Papandayan.

Gambar

Setelah menyantap perbekalan, perjalanan dilanjutkan menuju tempat lain yang tak kalah menari. Ya, tempat tersebut adalah area hutan mati. Area ini disebut hutan mati karena area tersebut sebenarnya merupakan area yang ditanami oleh pohon perdu, namun beberapa waktu kebelakang terkena tiupan asap panas kawah Papandayan. Pepohonan tersebut langsung mati, dahan-dahannya menghitam, tapi tetap berdiri kokoh. Nah, pohon-pohon mati berwarna hitam yang menghampar luas ini menjadi pemandangan menarik. Apalagi ketika pohon-pohon tersebut diselubungi oleh kabut tipis. Seperti betul-betul berada di perkampungan yang ditinggalkan penghuninya. Sejenak mengambil gambar di area hutan mati menjadi hal yang tampanya tak bisa ditolak.

Gambar

Namun perjalanan belum mencapai titik paling akhir. Titik akhirnya adalah pondok saladah yang disekitarnya ditumbuhi oleh bunga abadi, bunga Edelweis. Untuk mencapai pondok saladah dari area hutan mati, perjalanan mau tidak mau harus membelah hutan mati tersebut karena pondok saladah berada tepat dibelakangnya.

Perjalanan menuju pondok saladah tidak berlangsung lama. Tidak lebih dari lima belas menit. Area hutan mati telah terlampaui. Sedikit agak menanjak dan memasuki semak perdu, tiba-tiba didepan mata sudah terlihat hamparan hijau dan gundukan hijau dibawah dan putih diatas. Rupa-rupanya perjalan telah memasuki pondok saladah, gundukan putih hijau tersebut adalah bunga edelweis yang tumbuh bebas.

Melihat Edelweis menghampar luas, penulis tidak sabar untuk menghampirinya. Melihat, mencium bau edelweis serta mengambil gambar edelweis tentu saja menjadi hal yang tidak bisa ditolak. Ini adalah pengalaman langka yang mungkin tidak akan terlupakan seumur hidup dan tidak semua orang bisa merasakan pengalaman menarik ini.

Gambar

Tidak terasa, secara perlahan semua rasa lelah dan “rincug” dikaki rasanya hilang setelah berada di tengah-tengah hamparan Edelweis. Perjalanan menembus batas yang sangat berharga, menarik dan tentu saja tidak semua orang bisa merasakannya. Ingin rasanya bermalam di tengah-tengah edelweis, namun apa daya perbekalan tidak ditujukan untuk bertenda. Perjalanan pulang segera di jelang. Tak sabar rasanya ingin membagikan pengalaman menembus batas ini kepada semua kawan-kawan dan khalayak ramai.

Pengalaman mencoba jalan lain ke Papandayan ternyata lebih menarik dari yang dibayangkan penulis. Kalian tertarik mencoba?saya tertarik untuk melakukan perjalanan keduakalinya.—-

Aang Kusmawan, Guru Ekonomi, Fasilitator, Peneliti dan Penulis paruh waktu. Menyukai aktivitas bersama alam. Hiking, kemping dan menerabas alam.

Gambar