Dari tanggal 23-25 Juni 2008,  penulis berkesempatan melakukan kegiatan Pekan Pengabdian Pada Masyarakat (p3m). Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengamalan mahasiswa  akan tri dharma perguruan tinggi, yaitu melakukan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini berlangsung di Desa Mekar Wangi kecamatan Lembang Kabupaten Bandung barat.

Jika melihat posisi geogerafis,  desa Mekarwangi merupakan desa yang berada di daerah dataran tinggi bandung utara. Tepatnya di sebelah atas setelah wilayah Puncrut. Sebagai daerah yang berada di dataran tinggi yang tentunya sangat strategis untuk banyak hal. Sudah menjadi hal yang wajar apabila daerah tersebut menjadi daerah tujuan banyak orang. Tidak terkecuali daerah mekar wangi, di daerah mekar wangi banyak berdiri bangunan-banguna berupa vila-vila yang cukup mentereng dan elit. Hampir di setiap belokan terdapat vila-vila yang cukup megah. Selain vila, bangunan-bangunan lain yang terdapat di daerah Mekar wangi adalah komplek perumahan.

Melihat pada letak  geogerafis seperti di atas, maka mata pencahariaan yang sesuai bagi masyarakat desa Mekar Wangi adalah bertani. Tetapi sesudah  melihat realita di lapangan, ternyata hal itu tidak terbukti. Masih berdasarkan data dari kepala desa,  mata pencahariaan masyarakat desa Mekar wangi adalah sebagai karyawan biasa di kota Bandung dan sebagian lagi berpropesi sebagai tukang ojeg.  Tetapi Jika melihat perkembangan satu tahun kebelakang, kecenderungan jumlah tukang ojeg di daerah mekar wangi mengalami penambahan dari pada jumlah masyarakat yang bekerja sebagai karyawan atau mata pencahariaan yang lain.

Sedangkan jika melihat pada komposisi penduduk, desa mekar wangi merupakan desa yang di kepung oleh masyarakat pendatang. Dari ujung utara yang berbatasan dengan  ibu kota kecamatan Lembang sampai dengan ujung selatan yang berbatasan dengan kota madya Bandung hampir di penuhi oleh masyarakat pendatang. Jika di prosentasikan maka hampir 30 persen masyarakat desa mekar wangi merupakan masyarakat pendatang, dan 70 persen adala masyarakat asli yang bermata pencahariaan sebagai karyawan biasa dan  kebanyakan tukang ojeg.

Yang menarik untuk di telaah lebih dalam adalah mengenai kecenderungan bertambahnya jumlah penduduk yang berprofesi sebagi  tukang ojeg. Hal ini menjadi menarik karena pekerjaan akan berkaitan dengan pendapatan, dan pendapatan tentunya akan berkaitan dengan angka kemiskinan. Indikasinya, semakin banyak tukang ojeg, maka angka kemiskinan akan cenderung bertambah. Hal ini dimungkinkan karena pendapatan tukang ojeg sangat sulit untuk bisa mencukupi kehidupan sehari-hari keluarga secara makimal. Apalagi jika melihat pada perkembangan populasi masyarakat. Di desa mekar wangi misalnya, sejak satu tahun terakhir ini  penambahan populasi penduduk tidaklah terlalu besar, berlawanan dengan  populasi  tukang ojeg yang  cenderung bertambah. Pertanyaanya siapa yang akan menjadi penumpang dari ojeg tersebut. Ada perkembangan rasio yang tidak proporsional di situ sehingga angka kemiskinan bisa terprediksikan bertambah.

Selama berinteraksi dengan warga, penulis mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang menjadi penyebab utama terjadinya kecenderungan bertambahnya jumlah penduduk yang  berprofesi sebagai tukang  ojeg di desa mekar wangi. Intinya, berdasarkan persepsi warga, kenderungan bertambahnya jumlah tukang ojeg di desa mekar wangi disebabkan  oleh  ketidak berdayaan warga dalam mengolah tanah (agraria) yang ada. Sehingga akhirnya, warga lebih memilih untuk menjual lahan mereka dari pada harus mengolahnya.

Ada dua ketidak berdayaan warga dalam hal mengolah tanah. Pertama adalah ketidak berdayaan dalam wilayah finansial. Kedua adalah ketidak berdayaan dalam hal kapasitas pengetahuan dalam mengolah dan memanfaatkan tanah. Ketidak berdayaan secara finansial di sini adalah ketidak mampuan masyarakat dalam membeli kebutuhan-kebutuhan untuk melakukan kegiatan pertanian. Berdasar kesaksian warga, mereka sangat kesulitan untuk membeli pupuk beserta obat-obat penunjang lainya seperti obat anti hama dan lain-lain. Di tambah lagi dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akhir-akhir ini, hal itu sangat menambah ketidak mampuan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian. Di lain pihak, harga-harga jual hasil pertanian tidak seimbang dengan pengeluaran pembelian pupuk dan obat-obatan. Oleh karena itu, mayoritas masyarakat desa mekar wangi lebih memilih untuk tidak lagi bertani. Mereka  kemudian menjual tanah mereka kepada orang-orang yang memang berkepentingan. Hasil penjualan tanah tersebut akhirnya di gunakan untuk membeli motor dan kemudian di jadikan sebagai motor ojeg

Ketidak berdayaaan pengetahuan dalam mengolah dan memanfaatkan tanah, menjadi penguat alasan masyarakat untuk kemudian beralih pekerjaan menjadi tukang ojeg. Kemampuan untuk mengolah dan memanfaatkan lahan pun lebih banyak berdasarkan hasil dari mulut kemulut antara masyarakat saja di bandingkan hasil pengetahuan masyarakat di lapangan secara langsung. Kalaupun ada pembinaan dan penyuluhan dari pemerintah, hal itu lebih banyak hanya formalitas saja. Tidak menjawab permasalahan sebenarnya.

Ketidak mampuan masyarakat desa mekar wangi dalam mengolah dan memanfaatkan lahan merupakan hal yang wajar. Hal ini di sebabkan karena tingkat pendidikan di desa mekar wangi pun masih sangat rendah. Walaupun angka-angka partisipasi sekolah dasar sudah tinggi, tetapi angka-angka melanjutkan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi masihlah sangat minim. Dari 70 persen jumlah masyarakat pribumi, sangat sulit sekali mencari siswa-siswi dari tingkat menengah atas apalagi untuk mencari mahasiswa yang jumlahnya lebih sedikit dari siswa sekolah menengah atas yang memang sudah sedikit. Terbatasnya jumlah masyarakat yang terdidik pada akhirnya telah mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam mengolah dan memanfaatkan lahan secara lebih baik. Sehingga masyarakat akhirnya lebih banyak berpikiran secara sempit dan pragmatis di bandingkan untuk berpikir secara strategis jangka panjang dalam menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Kedepan bukan tidak mungkin jika angka kemiskinan masyarakat desa Mekar wangi akan bertambah banyak.

Bagi masyarakat yang berada di pedesaan, seperti halnya desa mekar wangi ketidak berdayaan secara finansial dan ketidak berdayaan dalam  kapasitas pengolahan lahan merupakan masalah yang  sangat mengancam,  karena basis kehidupan  mereka adalah  berasal dari tanah. Ketika mereka meninggalkan tanah sebagai sumber penghidupan, jelas hal itu merupakan hal yang sangat sulit dan berat.  Karena ketika masyarakat yang memang agraris harus berpindah ke sektor lain,  masyarakat harus beradaftasi secara besar-besaran. Sedangkan,  bekal dan modal untuk melakukan proses adaptasi berupa pendidikan masih sangatlah kecil dan sedikit

Di sini, kepala desa sebagai pemegang kebijakan dan pemegang amanah dari masyarakat di tuntut  berpikir dan bekerja keras untuk mencari solusi atas permasalahan ketidak berdayaan agraria tersebut. Berbagai jalan dan solusi dari segala penjuru angin haruslah di usahakan dan di realisasikan oleh masyarakat dan kepala desa. Mungkin ini hanya saran sederhana saja, mungkin akan lebih berguna jika pemerintah desa mampu mengajak penduduk pendatang untuk ikut serta memberikan kontribusi, baik secara materiil ataupun gagasan pemikiran dalam upaya-upaya mengatasi ketidak berdayaan agraria masyarakat desa.