Tujuan Pembelajaran Itu Sudah Berubah, Tuan!

Oleh Aang Kusmawan

 Beberapa bulan yang lalu ketika mengerjakan program peningkatan kapasitas guru-guru di kawasan hulu Sungai Citarum, saya diberitahu oleh beberapa kawan bahwa taksonomi tujuan pembelajaran Bloom telah direvisi. Sangat tertarik dengan perubahan tersebut, namun apa dikata, saya tak jua mempelajarinya.

Akhirnya, ketika salah satu kawan meminta bantuan untuk membuat semacam kurikulum pendidikan untuk lembaganya, ketertarikan itu akhirnya muncul kembali. Tanpa ada kawan berdiskusi, saya menggali sendiri tentang revisi taksonomi tujuan pembelajaran tersebut.

Alkisah, di tahun 1956 Benjamin Bloom dan beberapa koleganya yang menjadi suhu utama dalam dunia pendidikan mengeluarkan sebuah buku termashur dengan judul ““The Taxonomy of Educational Objectives, The Classification of Educational Goals, Handbook I: Cognitive Domain”.  Buku tersebut telah menjadi refrensi utama kalangan pendidikan. Telah diterjemahkan kedalam kurang lebih dua puluh bahasa, termasuk Indonesia.

Dari buku tersebut juga, kalangan pendidikan mengenal dan menggunakan istilah taksonomi Bloom yang terdiri dari tiga bagian, yaitu kognitif, apektif dan psikomotor. Pada prosesnya tiga taksonomi Bloom tersebut lebih disering dengan tujuan pembelajaran di sekolah-sekolah formal.

Namin sekitar tahun 2001, buku termashur tersebut di revisi oleh kolega Bloom sendiri. Setelah direvisi, buku tersebut berjudul “A Taxonomy for Learning and Teaching and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives”.

Dari beberapa artikel yang terdapat dalam blog pribadi serta artikel dalam jurnal, saya memahami bahwa telah terjadi perkembangan penterjemahan atas salah satu tujuan belajar, yaitu wilayah kognitif. Dalam revisi yang baru, taksonomi terkait bukan hanya berupa wilayah kognitif, apektf dan psikomotor, akan tetapi ditambah dengan istilah pengetahuan.

Dalam taksonomi edisi terbaru tersebut, defenisi kognitif berbeda dengan defenisi pengetahuan. Menurut versi revisi tersebut, kata kognitif dipahami sebagai kata kerja, sedangkan pengetahuan adalah kata benda. Oleh karena itu, wilayah kognitif harus dipisahkan secara tegas dengan wilayah pengetahuan.

Berdasarkan hal tersebut, revisi taksonomi Bloom tersebut bertambah dengan adanya istilah pengetahuan. Selain itu, kemampuan kognitif pun mengalami penambahan menjadi enam macam kemampuan.

Menurut Taksonomi revisi ini, wilayah pengetahuan yang harus dikuasi oleh peserta didik terdiri dari empat macam pengetahuan. Pertama, pengetahuan faktual. Kedua, konseptual. Ketiga, prosedural. Keempat, metakognitif.

Sedangkan, taksonomi wilayah kognitif perubahanya hanya sedikit saja. Perubahan tersebut terletak pada perubahan susunan taksonomi serta perubahan satu nama kategori. Kategori taksonomi sintesis diganti dengan kata menciptakan (create).

Sepintas, revisian tersebut tampaknya sangat sederhana karena tidak ada perubahan yang signifikan. Namun demikian, bagi saya sebagai seorang guru, hal tersebut sebenarnya merupakan hal penting karena akan sangat berpengaruh terhadap hal lain dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu wajar apabila penulis membayangkan akan banyak buku pembelajaran yang dilandasi oleh revisi tersebut. Penulis membayangkan buku-buku pembelajaran hasil revisi tersebut akan beredar melimpah di pasaran. Namun,  ketika penulis sengaja berjalan-jalan mencari buku dengan revisian tersebut, penulis cukup kecewa. Semua buku masih memakai taksonomi Bloom yang belum direvisi.

Timbul kemudian pertanyaan, apakah penulis buku yang  biasanya para dosen tidak menyari tentang adanya revisi taksonomi Bloom, atau memang tidak memandang penting revisian tersebut? Tujuan pembelajaran itu sudah berubah, Tuan!seharusnya buku-buku yang dibuat memakai landasan revisi taksonomi Bloom tersebut.

Penulis membayangkan bagaiman jauh tertinggalnya mahasiswa-mahasiswa keguruan jika revisi taksonomi Bloom tersebut belum dijadikan sebagai landasan dalam menulis buku pembelajaran. Orang di luar sana sudah pakai yang baru, sementara kita disini masih memakai barang lama!