Melihat letak geogerafis, Indramayu merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Barat yang berada di wilayah pantai utara Jawa Barat.  Dari arah Bandung,  memasuki Indramayu bisa ditempuh dari arah Cirebon setelah terlebih dahulu melewati Sumedang lalu Majalengka.  Jarak tempuh dengan menggunakan bus biasanya mencapai enam atau tujuh jam, jika lancar. Jika tidak lancar, misalnya  karena macet di daerah Sumedang, Cirebon atau Pantura, maka bisa dipastikan perjalanan  bisa memakan waktu delapan  atau bahkan mungkin sembilan jam. Bagi yang tidak terbiasa bepergian jauh, hal ini akan  terasa cukup menyiksa.

Memasuki Indramayu, selain akan langsung disambut dengan hawa yang panas, kita akan disuguhi oleh patung mangga yang cukup besar.  Bagi  penggemar wisata kuliner, khususnya penggemar buah-buahan, mangga tersebut dikenal dengan nama mangga gedong gincu,  buah mangga yang menjadi oleh-oleh sekaligus kebanggaan khas masyarakat Indramayu.

Keluar dari terminal antar kota, penulis segera menghubungi salah satu kawan. Tak lama kemudian, kawan yang saya maksud, Tori (34) namanya, penggiat LSM SIKLUS,  segera datang dan langsung membawa penulis ke rumahnya yang berada tidak jauh dari terminal tersebut.

Isyu Elit

Sambil menikmati segelas kopi, penulis dan Tori sedikit berdiskusi mengenai beberap isyu yang sedang berkembang di Indramayu. Selain isyu politik, tentang pencalonan gubernur oleh mantan bupati Indramayu, isyu lain yang banyak mendapatkan porsi pendiskusian adalah mengenai isyu lingkungan, khususnya mengenai mangroove dan upaya penyelamatan abrasi di sepanjang pantai di pesisir utara Jawa.

Sementara itu, isyu mengenai keterbukaan informasi yang juga merupakan salah satu tujuan kedatangan penulis ke Indramayu, tidak atau belum mendapatkan porsi perhatian yang banyak. Isyu keterbukaan informasi dipandang tidak lebih dari isyu elit saja.

“Bagi kita di SIKLUS, menyelamatkan pantai-pantai di sepanjang Indramayu tampaknya lebih penting dari sekedar data-data, Mas. Tapi bukan berarti mendorong keterbukaan informasi itu menjadi nomor dua, Mas” begitu kurang lebih ucapan Tori kepada penulis ketika ditanya pendapat mengenai isyu keterbukaan informasi publik.

Namun demikian, Tori, kawan yang baik hati itu bersedia membantu penulis untuk keliiling di Indramayu guna memeriksa sejauh mana keterbukaan informasi pada lembaga-lembaga pemerintahan di Indramayu.

Tidak terasa malam telah begitu larut,  rasa kantuk sudah mulai menyergap. Kami pun segera beranjak menuju tempat tidur masing-masing. Malam pertama di Indramayu, sungguh terasa beda dengan malam-malam di Bandung. Suara nyamuk dan gigitannya yang gatal tak mampu dihindari, namun karena begitu lelah penulis tidak terlalu menghiraukanya. Rasa ngantuk terasa lebih kuat.

Jalur Formal, Payah

Segera setelah segelas kopi panas kami seruput habis, perjalanan yang utama segera dimulai. Instansi pemerintahan yang pertama kami datangi adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Indramayu. Tempatnya tidak terlalu jauh, dalam beberapa menit  kami sudah sampai di lokasi.

Sebelum masuk, kami terlebih dahulu langsung ditanya mengenai siapa dan maksud kedatangan kami. Sebagai pendatang, tentu penulis merasa cukup bahagia. Tanpa basa-basi penulis menceritakan maksud kedatangan penulis yang tidak lebih dari sekedar meminta beberapa data dengan maksud untuk dijadikan sebagai salah satu sumber penelitian.

Persyaratan administrasi segera penulis serahkan lalu dilanjutkan dengan ritual selanjutnya yaitu mengisi buku tamu. Segera setelah menerima surat permohonan dari penulis, terjadi satu hal menarik. Rupa-rupanya terjadi sedikit kesalahpahaman, penerima surat mengganggap bahwa penulis salah dalam mengirimkan surat, karena surat tersebut ternyata ditujukan bukan untuk pejabat yang berwenang, melainkan pejabat lain.

Saya tetap bersikukuh bahwa alamat yang saya tuju betul. Selidik punya selidik, ternyata penyebab kesalahpahaman itu adalah pada alamat tertuju di surat yang penulis buat. Disurat tersebut, tertulis bahwa tujuaanya kepada Pejabat Pengelola Informasi Daerah (PPID) BAPPEDA Idnramayu, menurut pegawai tersebut, tidak ada yang namanya PPID, ada juga bagian kesekretariatan.  Melihat hal tersebut, penulis terpaksa menjelaskan sedikit tentang Undang-Undang Kebebasan Informasi Publik (UU KIP). Setelah sedikit mendengar penjelasan penulis, akhirnya pegawai tersebut mau menerima surat dan berjanji meneruskan kepada yang tertuju di surat.

Namun lagi-lagi terjadi sedikit keanehan, ketika penulis meminta tanda bukti penerimaan surat, pegawai tersebut menolak untuk memberikan tanda bukti penerimaan surat. Dalam pandangan pegawai, daftar hadir yang sayang tandatangani sebelumnya sudah bisa dijadikan sebagai bukti. “ sudahlah tidak usah memakai tanda bukti, anda menandatangai daftar hadir juga sudah menjadi bukti, kog. Silahkan besok saja kesini, mudah-mudahan Bapak sudah pulang” begitu kurang lebih omongan dari pegawai tersebut. Tanpa banyak lagi basa-basi penulis langsung beranjak menuju instansi lain.

Instansi berikutnya yang dituju penulis adalah dinas kesehatan.  Jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor BAPPEDA, dalam sekejap kami sudah sampai di kantor dinas kesehatan. Segera saja penulis menuju kantor resepsionis dan langsung mengutarakan maksud kedatangan penulis.

Sepertinya pegawai tidak terlalu familiar dengan kedatangan orang baru, apalagi setelah penulis menjelaskan maksud, tujuan serta berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),  para pegawai langsung memperlihatkan mimik muka yang terlihat sedikit risih dan agak cukup takut.

“Suratnya sudah kami terima, Mas, nanti akan kami teruskan kepada yang bersangkutan, nanti silahkan dicek lagi aja besok” mendengar pernyataan pegawai tersebut, timbul  pertanyaan iseng, kenapa pegawai tersebut tidak terlihat kebingungan seperti terjadi di kantor BAPPEDA, padahal surat yang dikirim formatnya sama dengan di BAPPEDA?namun demikian penulis  tidak mau berburuk sangka, penulis menganggap pegawai dinkes sedikit lebih pintar daripada pegawai BAPPEDA.

Setelah itu, segera saja penulis meminta tanda bukit penerimaan surat. Beruntung, dalam hal ini penulis ditanggapi dengan cukup baik, pegawai memberikan tanda terima surat walaupun dalam bentuk alakadarnya yang tentu saja tidak layak dilakukan oleh instansi setingkat dinas kesehatan. Surat tanda terimanya hanya dibuat dari selembar kertas yang dilipat lalu diberi tulisan bahwa penulis telah mengirim surat lalu diberi cap stempel dan nomor telefon kantor.

Hari beranjak sore, kami memutuskan untuk segera mengakhiri ikhtiar kami dalam mencari data. Perjalanan kami arahkan menuju sekretariat untuk beristirahat sejenak.

Jalur Informal, Lumayan

Hawa bada isya di Indramayu terasa cukup hangat, berbeda jauh dengan kondisi di Bandung. Selepas melahap makan malam, Tori mengaka penulis untuk berkunjung ke rumah direktur SIKLUS, Madri (40) namanya.  Selain untuk bersilaturahmi, salah satu alasan pentingnya untuk membantu proses pencarian data. Madri, adalah salah satu anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Indramayu. Sebagai anggota KPU beliau kenal dengan beberapa pejabat di beberapa Instansi pemerintahan.”Pak Madri, dia anggota KPU, cukup dikenal sama birokrat-birokrat yang lain, mudah-mudahan bisa membantu” begitu kata Tori kepada penulis.

Jarak dari sekretariat menuju rumah Madri tidak terlalu jauh. Dalam hitungan menit, motor yang kami tumpangi sudah nyampai di depan rumahnya. Kami pun segera masuk. Sambutan yang diberikan tuan rumah begitu hangat. Sambil menikmati suasan malam di Indramayu, kami ngobrol kesana-kemari, termasuk berbicara mengenai keperluan penulis ke Indramayu.

Respon Madri begitu bagus, namun ketika ditanya mengenai akses informasi kepada birokrasi, Madri masih memandang bahwa birokrasi di Indramayu masih memandang bahwa hal tersebut merupakan tabu. Keterbukaan informasi hampir sama posisinya dengan membuka dapur para birokrasi. “ Keterbukaan informasi memang penting, Mas, namun keterbukaan di Indramayu masih menjadi tabu. Wacana tentang keterbukaan informasi masih belum berkembang, dan kayaknya belum begitu penting” begitu ujar Madri kepada penulis.

Mendengar penuturan dari Madri, penulis tidak terlalu kaget. Hal tersebut sangat wajar, isyu tentang keterbukaan informasi memang terasa begitu kuat di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, namun didaerah hal tersebut tidak terjadi. Kampanye dan sosialisasi yang masif belum menjadi faktor pendorong kuat.

Namun demikian, ditengah pesimisme tersebut, Madri bersedia mengantat penulis untuk meminta data yang dibutuhkan sesuai dengan instansinya namu lewat jalur informal, dengan artian tidak melalui surat menyurat tapi langsung mendatangi kekantornya sambil mendiskusikan hal lain. Madri mengajek penulis untuk berkunjung ke instansi terkait keesokan harinya.

Malam terasa begitu cepat, jarum jam sudah menunjuk pada angka dua belas kurang, kamipun segera mengakhiri obrolan malam itu. Penulis dan Tori segera kembali ke sekretariat untuk istirahat.

Pagi hari di Indramyau terasa lebih menyengat, segera saja setelah selesai mandi dan siap pergi, penulis menyeduh segelas kopi hita. Ritual yang sangat sulit untuk ditinggalkan. Sambil menyiapkan beberapa kelengkapan administrasi, tak terasa segelas kopi yang tadi diseduh tingal setengah lagi, dan tanpa disadari juga, Madri sudah berada di depan sekretariat dengan mobilnya.

Tanpa buang waktu, kami segera berangkat menuju kantor BAPPEDA. Dalam beberapa menit kami sudah nyampai dan tanpa buang waktu, Madri langsung menelepon kawanya yang menjadi salah satu petinggi di lembaga tersebut.

Tak lama kemudian, kamipun segera beranjak menuju ruangan dimana kawan Madri tersebut bekerja. Madri langsung memperkenalkan siapa penulis dan untuk keperluan apa penulis berkunjung. Dan tanpa banyak basa-basi pula, kawan Madri tersebut memberikan semua data yang dipunyai untuk di foto copy oleh penulis. Namun sayang, semua data yang diberikan oleh kawan Madri tersebut belum memenuhi semua kebutuhan data yang diberikan. Untuk itu, kawan Madri menyarankan kepada penulis untuk menyampaikan data kepada bidang lain.

Ketika penulis meminta bantuan untuk mempertemukan penulis dengan orang yang mempunyai data lain, kawan Madri tersebut secara halus tidak bersedia karena harus segera pergi ke tempat lain  yang cukup penting. Penulis tidak berani memaksa. Beberapa data yang telah diberikan kawan Madri tersebut saya bawa untuk di fotocopy.

Selepas dari BAPPEDA, pencarian data dilanjutkan ke dinas kesehatan. Jarka antara BAPPEDA dengan DINKES tidak terlalu jauh, dalam sekejap kami sudah sampai di kantor DINKES. Segera saya menuju resepsionis untuk mengkonfirmasi sekaligus meminta data yang dibutuhkan.

Agak berbeda dengan hari sebelumnya, hari itu rsepsionis yang berada di kantor dinas kesehatan agak terlihat ramah. Penulis agak heran. Namun karena waktu yang terbatas, penulis  tidak terlalu menghiraukanya. Penulis langsung dipersilahkan untuk memasuki kantor bagian yang memiliki data tersebut.

Didalam kantor tersebut, penulis dipersilahkan untuk mencari data sesuai dengan yang dibutuhkan. Setelah mencari beberapa menit dan didampingi oleh staff, penulis menemukan beberapa data yang dibutuhkan. Namun sayang semua data yang dibutuhkan oleh penulis  tidak tersedia semuanya, ada beberapa data yang tidak tersedia. Dan ketika dikonfirmasi kepada staff yang berada diruangan itu, semua mengaku jika data tersebut sedang di pinjam oleh intansi lain, entah intansi yang mana.  Tanpa membuang waktu, penulis membawa beberapa dokumen yang ada untuk di foto copy.

Diperjalanan menuju tempat foto copy, penulis mengutarakan keheranan tadi. Mendengar ungkapan penulis, Tori sedikit tertawa sambil mengungkapkan sebuah pengakuan, bahwa staf dinas kesehatan yang menerima surat dari penulis adalah kerabat dekatnya. Sepulang dari mengantar penulis dari dinas kesehatan sehari sebelumnya, Tori langsung mengunjungi rumah staff tersebut sambil menceritakan siapa penulis. “ Sepulang dari memberikan surat di dinas kesehatan saya memang langsung pergi kerumahnya, Mas, minta bantuan agar dipermudah” begitu ungkapan Tori kepada penulis. Dengan pengakuan tersebut, terungkap sudah faktor penyebab kenapa sambutan staff dinas  tersebut berubah drastis. Dengan sedikit tersenyum, penulis mengucapkan terimakasih kepada Tori atas inisiatifnya tersebut. Mendengar omongan penulis,  Tori sedikit tersenyum. Selepas memberikan data untuk di foto copy kamipun segera menjelang ke sekretariat.

Tidak terasa, sepekan lebih penulis berada di Indramayu. Beberapa bagian besar sudut-sudut kota di Indramyau telah dijelajahi, juga beberapa daerah pesisir telah terkunjungi. Walaupun data yang dibutuhkan belum semua didapatkan, namun sebagain besar data telah terkumpul.

Diakhir paruh pertama, petualangan penulis di Indramayu sekait dengan keterbukaan Informasi, tidak salah rupanya jika kemudian penulis mengambil kesimpulan bahwa keterbukaan informasi publik memang sudah menjadi wacana kuat di daerah kota-kota besar, namun di kota-kota kecil seperti Indramayu, keterbukaan itu belum menjadi wacana. Dan entah kapan akan menjadi wacana kuat. Di Indramayu, keterbukaan informasi menjadi mimpi pun belum. Jalan menuju keterbukaan informasi tampaknya masih begitu panjang dan entah akan berujung seperti apa.

Bayangan Kota Bandung dengan kesejukan udara serta beberapa hal lainnya yang menarik segera saja memenuhi kepala penulis.  Penulis sudah tak sabar untuk segera kembali menginjakan kaki di Kota Kembang.

Indramayu, 7-15 Juli 2012

Aang Kusmawan, Guru ekonomi di MA Sukasari Al-Fattah Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Meminati isu keterbukaan informasi dan ekonomi politik