Jika tidak ada aral melintang beberapa hari lagi kelulusan peserta didik di SMA/MA akan segera diumumkan. Pada sesaat setelah momen tersebut, biasanya peserta didik merayakan hal tersebut dengan cara yang kurang produktif, yaitu dengan berkonvoi dijalanan, mencat baju seragamnya dan lain sebagainya.

Ditilik dari segi psikologis sebenarnya hal tersebut bisa dikatakan wajar. Salah satu argumen logisnya adalah karena kelulusan peserta didik dianggap sebagai puncak pencapaian dan pencarian peserta didik disekolah selama tiga tahun.

Oleh karena itu, dalam perspektif peserta didik, kelulusan harus dirayakan semeriah mungkin sebagai tanda eksistensi mereka. Tentunya sebagai orang tua atau guru, kitapun pernah mengalami masa-masa seperti itu namun disalurkan dalam bentuk yang berbeda yang lebih positif.

Secara sederhana, sebagai seorang guru penulis melihat bahwa problematika inti dari problematika pasca kelulusan yang sangat berarti adalah semacam pengakuan akan eksistensi mereka setelah berhasil menempuh pendidikan selama tiga tahun disekolah. Ini adalah problematika emosional peserta didik.

Dalam pemikiran seperti diatas, munculnya fenomena peserta didik yang melakukan konvoi dan corat-coret di jalanan, secara tidak langsung memberikan sebuah gambaran bahwa ekpresi emosional mereka belum terwadahi oleh pihak sekolah yang seharusnya mewadahi itu.

Dan memang biasanya sekolah tidak mewadahi bahkan cenderung melarang hal-hal yang berbau dengan coret mencoret serta konvoi dijalana. Dalam konteks sekolah, hal ini merupakan hal yang wajar, karena sekolah di negara kita sangat tidak terbiasa dengan hal-hal yang sifatnya berbau informal seperti yang dilakukan oleh peserta didik.

Oleh karena itu, sekolah lebih terkondisikan untuk menggiring siswa untuk meluapkan ekpresi emosional peserta didik pada hal-hal yang bersifat formal, seperti perpisahan dalam gedung dan memakai pakaian yang tidak biasa. Hal ini jelas tidak salah, namun tidak bisa dijadikan sebagi jaminan bahwa peserta didik tidak akan berkonvoi dan mencorat-coret baju seragamnya.

Hemat penulis, sekolah harus bisa mewadahi bahkan memfasilitasi peserta didik dalam meluapkan ekpresi emosionalnya yang cenderung diluapkan dalam bentuk informal seperti yang penulis sebutkan diatas.

Tentu saja pendekatan yang dilakukan tidak dengan cara formal, namun sebaliknya dengan pendekatan informal. Dalam pendekatan informal ini, sekolah melalui wali kelas di kelas dua belas mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam memfasilitasi ekpresi emosional informal peserta didik.

Menggelar pertemuan-pertemuan informal yang didalamnya melibatkan unsur emosional terhadap peserta didik merupakan hal yang sebaiknya dilakukan.

Hal yang biasanya dilakukan penulis bersama peserta didik ditahun-tahun sebelumnya adalah dengan menggelar acara hiking bareng atau “ngeliwet” bareng dengan peserta didik. Lalu setelah selesai acara tersebut, diakhir wajib dibuka forum curhat dengan peserta didik. Akan sangat bermanfaat jika dalam forum tersebut, guru tidak lagi memposisikan sebagai guru akan tetapi sebagai orang tua atau kakak yang siap mendengarkan cerita peserta didik.

Dan dipaling akhir sebelum pulang, tanpa sepengetahuan peserta didik sebelumnya membawa kain yang cukup lebar dan panjang dan spidol atau kalau perlu pylox. Selanjutnya sejumlah peralatan tersebut diberikan kepada peserta didik untuk di coret sepuasnya. Dan jangan lupa bawalah kain tersebut kesekolah, lalu ditempel di sekolah sebagai bentuk penghargaan bagi peserta didik yang akan segera meningglkan sekolah.

Dengan demikian secara tidak sadar peserta didik telah difasilitasi penyaluran ekpresi emosional informal mereka. Dan pengalaman menulis membuktikan bahwa setelah itu semua peserta didik tidak “turun “ ke jalan dan berbuat ulah.

Aang Kusmawan, Wakil Kepala Madrasah di MA Sukasari Al-Fatah Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung.