Hingar bingar pelaksanaan program sertifikasi guru telah menjadi catatan penting bagi tingkat kesejahteraan guru. Dengan adanya program sertifikasi, tingkat kesejahteraan guru tidak lagi hanya sekedar impian, akan tetapi menjadi kenyataan. Ini berarti, guru telah berada dalam suatu posisi yang nyaman. Dengan demikian guru bisa melaksanakan tugas profesinya dengan maksimal. Tentu saja, harapannya hal ini akan berimbas pada kemajuan kualitas pengajaran di kelas sekaligus kemajuan peserta didik.

Akan tetapi, di tengah euforia pelaksanaan sertifikasi guru tersebut muncul sebuah pertanyaan, lalu apa lagi yang bisa dilakukan oleh guru setelah kesejahteraanya tercapai? Apakah guru-guru cukup menjadi seorang profesional dengan mencetak anak didik secara maksimal? Apakah pekerjaan guru selesai ketika mereka berhasil mengembangkan model serta modul pembelajaran saja? Sebagai seorang guru, penulis meyakini bahwa masih banyak hal lain yang bisa dan mungkin mendesak untuk dilakukan. Salah satunya adalah dengan menjadi seorang intelektual publik.

Seorang intelektual publik memberikan seluruh kemampuan intelektual yang dimilikinya untuk pengembangan masyarakat. Semangat dasar dari seorang intelektual publik adalah semangat transformatif secara luas dan peningkatan kualitas pengetahuan individu yang tentu saja akan berimbas pada kualitas ilmu pengetahuan itu sendiri.

Munculnya wacana intelektual publik secara mendasar dilatarbelakangi oleh beberapa hal: pertama, kejenuhan intelektual. Kedua, kebutuhan intelektual itu sendiri akan publikasi dan apresiasi atas kepakaran yang dimilikinya. Kejenuhan yang dialami oleh kalangan intelektual bisa diartikan sebagai kejenuhan akan ruang yang selama ini ditempatinya. Seperti diketahui bersama, bahwa selama ini kita hanya mengenal kalangan intelektual adalah kalangan akademisi di menara gading yang bernama universitas. Pada prosesnya keberadaan mereka yang lebih banyak bergulat dengan postulat di ruang-ruang akademis telah mengantarkan mereka pada suatu titik jenuh, yang pada akhirnya mendesak kalangan intelektual untuk mencari ruang baru selain ruang-ruang kelas serta lembaran-lembaran jurnal ilmiah.

Bermula dari kejenuhan yang dilatarbelakangi oleh keterbatasan ruang dalam berpraktek dan mempublikasikan karyanya, maka kebutuhan ruang praktek dan publikasi menjadi kebutuhan mendesak lainya. Membuka ruang dan bentuk apresiasi lain untuk menyalurkan kepakaran yang dimilikinya menjadi pekerjaan lain dan mendesak dari kalangan intelektual sendiri.

Berawal dari sini juga, kemudian banyak kita jumpai kalangan intelektual (baca: akademisi) yang bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), menulis buku-buku ilmiah popular dengan bahasa yang menarik dan dimengerti oleh masyarakat. Pada intinya, keinginan intelektual “menara gading” untuk menjadi intelektual publik adalah keinginan untuk mengembangkan pengetahuan secara luas dan berkualitas juga bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Kehausan untuk selalu memperdalam pengetahuan menjadi hal yang laik ditiru dan diteladani oleh semua kalangan. Tidak terkecuali oleh guru.

Akan tetapi seperti kita ketahui secara bersama, untuk menjadi seorang intelektual publik bukanlah hal yang mudah. Sampai dengan sekarang, kondisi guru masih berada dalam beberapa keterbatasan, terutama dalam pembentukan tradisi-tradisi intelektual.

Harus disadari secara seksama bahwa tradisi intelektual (baca: ilmiah) dikalangan guru masih lemah. Hal ini ini bisa di Indikasikan dari produktifitas guru itu sendiri. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh guru masihlah sangat minim, begitu juga dengan publikasi ilmiah guru di berbagai jurnal. Di tambah lagi dengan kebiasaan dan pandangan klasik bahwa yang “berhak’ dan sekaligus memegang otoritas menulis di jurnal-jurnal ilmiah adalah intelektual yang berdiam diri di kampus seperti para dosen dan guru besar yang telah dikenal kepakarannya. Guru-guru hanya cukup mempublikasikan karyanya lewat buku ajar, modul serta model pembelajaranya di sekolah.

Indikasi lain dari lemahnya produktiftas guru adalah intensitas dalam menyumbangkan pemikiranya untuk masyarakat luas dalam bentuk tulisan. Contoh kecil, misalnya menulis untuk rubrik opini di koran. Dalam pengamatan penulis, masih sangat sedikit guru yang “berani” mempublikasikan pemikiranya di media-media cetak yang ada. Rubrik opini di Koran-koran masih banyak diisi oleh kalangan-kalangan akademisi yang berasal dari lingkungan kampus. Seperti dosen-dosen dan guru besar.

Pada prakteknya, produktifitas guru yang lemah ini diperparah dengan cara pikir lama, yaitu untuk mengejar kepentingan pragmatis berupa kenaikan pangkat. Sudah menjadi rahasia umum jika kebanyakan penelitian dan penulisan karya ilmiah lainya lebih banyak dilatarbelakangi oleh kepentingan para guru untuk menaikan pangkat. Ketika tidak ada iming-iming kenaikan pangkat maka penelitian dan pembuatan karya ilmiah lainya urung dilakukan.

Selain itu, tradisi-tradisi intelektual lainya seperti tradisi membaca, berdiskusi dan merefleksikan atas akumulasi pengetahuan yang didapatkan oleh para guru menjadi hal yang memerlukan perhatian lebih. Sebagai seorang guru, penulis masih melihat bahwa tradisi-tradisi akademis seperti itu masih sangat lemah.

Dengan demikian, ada dua tantangan besar yang harus segera di jawab oleh guru: pertama, merubah pola pikir secara mendasar agar tidak melulu berorientasi pragmatis akan tetapi lebih berorientasi strategis adiluhung, yaitu peningkatan kualitas ilmu pengetahuan. Kedua, memperkuat tradisi-tradisi intelektual lainnya seperti tradisi membaca, berdiskusi dan refleksi atas akumulasi ilmu pengetahuan yang didapatkan.

Ketika kedua tantangan itu telah terjawab, maka disanalah posisi guru berada dalam posisi yang lebih dari sekedar seorang guru biasa. Akan tetapi ketika seorang guru telah mempunyai pola pikir strategis, yaitu terus menerus mengembangkan pengetahuan tanpa harus di dorong oleh kepentingan pragmatis dan terus menerus membaca, berdiskusi dan merefleksikan akumulasi pengetahuanya maka disanalah seorang guru berada pada satu langkah sebelum menjadi intelektual publik.

Ketika tradisi-tradisi intelektual tersebut sudah terbentuk kemudian ditransformasikan secara luas kepada masyarakat, maka pada tahap itulah seorang guru telah menjadi seorang intelektual publik sejati. Seorang guru yang telah menjadi intelektual publik tidak hanya menjadi milik sekolah dan peserta didiknya akan tetapi juga telah menjadi milik masyarakat umum.

Akan tetapi, pada akhirnya, semua akan kembali kepada diri seorang guru itu sendiri. Pertanyaanya adalah, tertarikah anda (baca: guru) untuk menjadi bagian penting dari perkembangan pengetahuan dengan menjadi intelektual publik? Saya mau, anda?

Aang Kusmawan Guru di Madrasah Aliyah Sukasari, Majalaya Kabupaten Bandung. Bergiat di Sarekat Guru Muda Indonesia (SGMI) sebagai kepala departemen riset dan informasi.