Kawan saya dulu seorang genius dan brilian. Masa kuliahnya singkat. Lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sangat memuaskan. Lahir dan besar di pesisir pantai utara Garut. Beruntung dia telah bekerja menjadi seorang guru di salah satu yayasan pendidikan yang cukup terkenal.

Di kota hidupnya sejahtera. Kadang kala, untuk sekadar bernostalgia dan melepas kepenatan, ia pulang ke kampung halamannya. Selebihnya ia hidup dan beraktivitas di kota. Cap sebagai kaum urban telah melekat kuat. Tentunya kisah kawan saya yang satu itu, hanyalah salah satu dari sekian ribu kisah lainnya yang serupa.

Ke depan dipastikan, orang-orang semacam kawan saya itu akan terus bertambah. Kota akan kebanjiran kaum intelektual, dan di desa paceklik. Ketimpangan adalah sebuah kepastian. Sistem pendidikan bertanggung jawab atas hal ini. Sejatinya, pendidikan adalah alat dan sistem yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan.

Oleh sebab itu, pendidikan akan bergantung kepada siapa yang menggunakan alat tersebut. Seperti apa dia memandang pendidikan menjadi faktor determinan mengenai peran dan fungsi pendidikan. Pendeknya, paradigma pendidikan seperti apa yang dianut akan berpengaruh terhadap hasil dari tujuan yang diinginkan.

Mengenai paradigma pendidikan, Roem Toepati Masang, tokoh pendidikan kritis membaginya dalam tiga bagian besar, pertama, paradigma pendidikan konservatif. Kedua, paradigma pendidikan liberal. Ketiga, paradigma pendidikan kritis. Paradigma pendidikan konservatif memandang bahwa individu tidak mempunyai daya. Semua hal telah diatur oleh tuhan. Pendidikan dipandang sebagi sebuah usaha pelengkap saja. Kesejahteraan, kekayaan bisa dicapai secara bergiliran. Paradigma pendidikan seperti ini banyak digunakan oleh kalangan gereja dahulu. Kontradiksi menjadi hal yang paling tidak di inginkan. Harmoni menjadi tujun utama.

Paradigma pendidikan liberal mengakui bahwa masyarakat mempunyai banyak masalah. Tapi kesemua masalah yang muncul di masyarakat sama sekali tidak behubungan dengan pendidikan. Pendidikan mempunyai masalahnya sendiri. Bagi kaum liberal, masalah pendidikan bisa diselesaikan secara terpisah dengan masalah-masalah ekonomi, politik dan sosial. Oleh sebab itu, memaksimalkan sistem yang ada untuk mencapai tujuan merupakan jalan yang ditempuh.

Dengan kata lain, paradigma pendidikan ini cenderung sejalan dengan sistem yang ada. Perbaikan secara kosmetis serta reformatif menjadi ciri utamanya. Paradigma pendidikan kritis bertolak belakang dengan kedua paradigma yang disebutkan di awal. Masalah yang terjadi di sektor pendidikan tidak bisa lepas dari masalah di sektor ekonomi, politik dan sosial.

Oleh sebab itu, pendidikan bertugas memperbaiki sistem yang terbukti tidak menguntungkan masyarakat. Menciptakan ruang-ruang penyadaran secara kritis menjadi hal penting bagi penganut paradigma ini. Jika paradigma pendidikan liberal cenderung sejalan dengan sistem yang sedang berlaku, paradigma pendidikan kritis bertolak belakang. Dekonstrukionisme Menjadi Cirinya. Menilik pada praktek, aroma pendidikan liberal melekat pada di lingkungan pendidikan dasar dan menengah.

Perbaikan pendidikan dengan modernisasi fasilitas seperti penambahan unit komputer, unit sekolah, jaringan internet, memperbaiki rasio antara guru, murid dan fasilitas, serta yang terakhir adalah peningkatan profesionalisme pendidik merupakan contoh nyata. Perubahan kurikulum terjadi dengan cepat. Di lingkungan pendidikan tinggi, aroma liberal tidak terlalu kentara. Praktek liberal di pendidikan tinggi lebih terlihat pada kebebasan perguruan tinggi untuk membuat desain kurikulum secara mandiri.

Selain itu, aroma liberal lainnya adalah pada acuan normatif serta referensi ilmiah perguruan tinggi kita yang mayoritas masih menginduk pada referensi kultur ilmiah negara-negara barat yang notabene memang merupakan induk paham liberal. Referensi ilmiah yang dimaksud berupa standar-standar keberhasilan pendidikan, karya-karya ilmiah, buku-buku, serta penelitian-peneletian ilmiah. Referensi ilmiah dari negara-negara barat menjadi referensi utama dibandingkan referensi dari negeri sendiri.

Alhasil, pendidikan kita telah banyak menghasilkan sarjana-sarjana berwatak liberal. Tidak sedikit lulusan mempunyai prestasi gemilang yang dibuktikan dengan prestasi kuantitatif yang memukau. Setelah keluar dari lembaga pendidikan, bagi mereka yang mempunyai prestasi kuantitaif gemilang serta mempunyai nasib baik banyak mengisi lowongan-lowongan pekerjaan yang sudah disediakan oleh perusahaan-perusahaan asing yang ada di dalam negeri, atau bahkan yang berada di luar negeri. Bagi yang tidak beruntung, menjadi pengangguran atau rela dibayar sedaanya merupakan nasib yang harus diterima.

Dalam konteks seperti ini, kawan saya yang disebutkan di awal merupakan salah satu lulusan yang berhasil dan mempunyai nasib baik. Bagi yang beruntung, mobilitas vertikal telah terjadi. Keberhasilan dan kesejahteraan tidak terbantahkan lagi. Ia akan terlena dengan limpahan materi yang telah didapatkan. Bagi yang gagal, frustrasi, dan kegelisahan sosial adalah hal yang selalu menghantui. Jikalau kawan saya merupakan bagian dari yang gagal ini, niscaya dia akan di hadapkan pada dua dilema.

Pertama, dia akan segan untuk kembali ke kampung halaman karena belum mendapatkan pekerjaan. Kedua, jika dia berada terus di kota, tentunya hal ini akan semakin menambah beban hidup orang tua yang sudah sabar membiayai pendidikannya. Hal ini akan bertambah dilematis ketika memang di kampung tidak tersedia lapangan kerja yang tidak sesuai dengan kompetensi yang dia miliki. Akhirnya ia terjebak pada kebingungan untuk melangkah.

Paradigma pendidikan liberal telah menghasilkan generasi pasif yang “lupa” pulang. Sementara di lain pihak negara kita telah berada dalam keterpurukan yang amat sangat. Kerusakan sumber daya alam yang sedemikian parah, banjir, longsor, pembalakan hutan, penambangan minyak, penambangan emas. Semua telah terjadi dalam jangka waktu lama.

Berbarengan dengan itu semua, angka kemiskinan masih tinggi, desa-desa masih menjadi wilayah yang konsentrasi kemiskinannya tinggi. Dan parahnya lagi, angka pengangguran intelektual juga tinggi. Jika paradigma pendidikan liberal masih dirasa relevan, niscaya kita tinggal menunggu meledaknya bom waktu yang dihasilkan oleh sistem pendidikan yang di jalani. Sejujurnya, saya tidak lagi merasa relevan dengan paradigma pendidikan liberal.

* Aang Kusmawan, Staf Penelitian dan Pengembangan Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) UPI Bandung.

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 1 Agustus 2009