Jika anda merasa penat dengan kebisingan dan kesemerawutan kota , maka puncak gunung merupakan obat yang tepat untuk mengatasinya. Cobalah nikmati setiap hembusan anginnya, cobalah lihat lereng-lereng gunung yang terhampar seperti permadani berwarna hijau, cobalah dinginya kabut gunung yang turun perlahan, niscaya perlahan rasa penat itu akan perlahan tergantikan oleh perasaan damai dan lega. Puncak Gunung Wayang bisa menjadi salah satu dari tempat yang di maksud tersebut.

Secara administratif Gunung Wayang berada di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung.  Jika menggunakan kendaraan pribadi tempat ini bisa ditempuh  selama kurang lebih selama empat jam dari pusat Kota Bandung, sedangkan dengan kendaraan umum maka bisa jadi jarak tempuhnya menjadi empat jam. Posisi Gunung Wayang di apit oleh beberapa gunung.  Di sebelah selatan berbatasan dengan Gunung Malabar, sebelah barat berbatasan dengan perbukitan Arjasari, sebelah timur berbatasan dengan Gunung Papandayan dan sebelah utara berbatasan dengan wilayah Majalaya.

Sampai di Kaki Gunung Wayang, terlihat  kebun teh menghampar luas. Sangat menyegarkan. Namun sayang di beberapa sudut, terutama yang berdekatan dengan tempat tinggal penduduk, pohon-pohon teh sudah di ganti dengan tanaman kentang dan wortel yang merupakan tanaman komoditas masyarakat Kertasari. Sejenak pemandangan tersebut mengajak memori penulis untuk mengingat kembali cerita-cerita novel sunda berlatar perkebunan teh yang indah, namun selalu dibenturkan dengan nasib pegawai perkebunan yang tidak pernah beranjak mapan. Dan realita yang ada di novel itu betul-betul dirasakan oleh penulis ketika itu.

Perjalanan dilanjutkan dengan medan yang  menanjak. Bagi pendaki pemula hal ini sangat merepotkan. Napas cepat tersengal dan kakipun tidak bisa melangkah cepat. Setiap lima puluh meter perjalanan terpaksa selalu terhenti untuk istirahat. Akan tetapi rasa lelah tersebut selalu cepat usai ketika pandangan diarahkan jauh ke depan. Semakin tinggi jarak yang ditempuh ternyata pemandangan hijau menghampar semakin terlihat jelas.

Petak-petak palawija terlihat tersusun begitu rapih dengan warna hijau yang seragam. Disebelah timur tampak terlihat hamparan hijau kebun teh seperti pemadani yang terhampar luas, selain itu tampak pula komplek perumahan pegawai perkebunan yang terlihat rapi dan seragam dalam beberapa blok. Rasa penat, bising suara kendaraan telah tergantikan perlahan. Napas yang tersengalpun kembali beranjak normal.

Rute pendakian selanjutnya semakin menanjak, kami akan segera memasuki area hutan Gunung Wayang. Hutan Gunung Wayang merupakan hutan dengan vegetasi yang padat. Jarak antara tanaman yang satu dengan lainnya sangat dekat. Selain itu usia pepohonannya berusia lebih dari dua puluh tahun. Hal ini terlihat dari lumut yang menyelubungi hampir semua kulit pepohonan tersebut.

Selain pohon yang telah uzur, vegetasi lain adalah semak belukar yang didominasi oleh cucuk leuweung (duri hutan) terlihat bergelantungan disetiap dahan pohon. Cucuk leweung ini cukup merepotkan perjalanan kami karena durinya sering kali menancap pada kulit lengan kami. Rasa gatal yang susah hilang akan segera dirasakan ketika cucuk leuweung tersebut menancap di kulit. Apabila rasa gatal sudah menyerang dan tubuh tidak bisa lagi di ajak berdamai, maka isitirahat menjadi hal yang tidak bisa di tunda lagi.

Di tengah vegetasi hutan yang rapat, hamparan hijau kebun teh serta blok-blok perumahan pegawai perkebunan tidak bisa lagi terlihat. Yang bisa kami lihat hanyalah daun-daun serta dahan-dahan pohon yang hijau serta di selubungi lumut yang juga berwarna hijau. Suasana sunyi dan damai sering kali langsung menyergap ketika beristirahat.

Setelah sejenak beristirahat perjalanan dilanjutkan kembali. Belum juga satu langkah ditempuh tiba-tiba dari kejauhan terdengan lantunan adzan dari kampung yang berada jauh dibawah. Langkah kamipun segera dihentikan untuk mendengarkan adzan tersebut. Suasana tiba-tiba menjadi sangat hening, kami semua tidak sedikitpun mengeluarkan kata-kata. Ketika itu, penulis sendiri merasakan bahwa manusia memang betul-betul tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan. Seringkali kita menyombongkan diri dan takabur dengan apa yang telah kita lakukan dan dapatkan. Ditengah hutan yang lebat, suara adzan begitu syahdu.

Adzan pun telah selesai, perjalanan segera berlanjut. Hutan dengan vegetasi yang rapat masih harus kami lalui. Langkah terasa semakin berat. Rute jalan rupanya semakin menanjak. Di kanan kiri tampak beberapa jenis jamur tumbuh setinggi sendok makan. Selain jamur, lumut-lumut yang berwarna hijau tua tampak menyelimuti hampir setiap pohon yang kami lalui. Semakin menanjak udara terasa semakin sejuk. Akan tetapi tetap saja rasa lelah selalu cepat menderu. Kembali semua harus berhenti sejenak untuk beristirahat. Perbekalan makanan ringan yang dibeli dari warung di perkampungan di bawah belum juga kami sentuh, hanya air putih saja yang dari tadi kami nikmati. Air minum menjadi menu utama ketika itu.

Rute perjalanan kembali semakin menanjak. Tapi vegetasinya tidak terlalu rapat. Kali ini ada semilir angin yang perlahan menyapa kulit kami. Di tengah kondisi tubuh yang sedang dibanjiri keringat dingin, hembusan angin tersebut cukup menyegarkan juga mebuat kami lebih dingin kami tetap melangkah

Angin masih tetap berhembus ketika kami melanjutkan langkah kaki kami, akan tetapi bukan hanya hembusan angin saja yang menyapa kulit. Dari atas kepala kami cahaya matahari yang tidak terlalu terik menyapa dengan begitu hangat. Apakah kita sudah sampai di puncak Gunung Wayang? Begitu pertanyaan penulis kepada diri sendiri.

Belum juga pertanyaan itu terjawab, Irman salah satu anggota OSIS yang selalu berada di depan berterika kepada kami ” kita sudah sampai, ini puncak Gunung Wayang Pak”. Mendengar suara itu kamipun bergegas menghampiri Irman, dan betul saja apa yang dikatakan Irman. Kami sekarang berada pas di puncak Gunung Wayang. Dan sungguh aneh tiba-tiba seluruh rasa lelah yang sejak tadi mendera, dalam sejenak hilang entah kemana. Rasa lelah yang mendera tersebut perlahan tergantikan oleh rasa takjub melihat pemandangan yang terbentang luas sejauh mata memandang.

Di perut gunung Malabar terlihat hamparan hijau kebun teh tampak seperti permadani hijau yang di hiasi oleh kabut-kabut tipis berwarna putih awan, dan yang lebih menariknya lagi, kabut tipis tersebut perlahan menghampiri setiap petak kebuh teh secara bergiliran. Jadilah semua hamparan kebun teh tersebut dilewati oleh kabut tipis tersebut tanpa kecuali. Selain kabut tipis, pemandangan yang tak kalah menarik, di perut gunung Malabar terlihat seperti ada selang-selang kecil berwarna putih yan menempel di tanah.

Setelah dilihat lebih jelas ternyata selang-selang tersebut merupakan selang-selang yang berisi gas alam yang berasal dari perut bukit. Selang-selang tersebut mengalir dari dalam bukit menuju tempat pengolahan gas alam di kaki gunung Malabar. PT Star energy merupakan perusahaan tempat dimana gas alam tersebut di olah menjadi energi. Dari kejauhan tampat asap putih selalu mengalun keluar dari kurang lebih lima cerobong besar. Terus terang saja, hal ini membuat kami enggan segera beranjak dari tempat ini.

Sejenak setelah melihat pemandangan tersebut, pandangan kami arahkan kesebelah timur. Kali ini bukan hamparan teh yang kami lihat, melainkan jejeran pegunungan yang berada di wilayah Garut selatan. Kami tidak tahu persis seluruh nama gunung yang berjejer tersebut, kami hanya mengetahui pasti satu nama gunung yaitu Papandayan. Gunung ini menjadi populer di mata kami karena memang gunung tersebut juga mempunyai pemandangan yang indah, dan juga konon katanya di puncak Gunung Papandayan tumbuh bunga Edelweis yang tak pernah layu itu.

Sebenarnya, dari puncak Gunung Wayang jejeran gunung tersebut tidak terlalu istimewa, hanya saja deretan puncak gunung tersebut diselimuti oleh kabut tipis yang bergerak perlahan. Dan sebenarnya gerak kabut yang menyelimuti deretan puncak gunung secara perlahan tersebut yang menjadikan pemandangan tersebut menjadi istimewa. Melihat kabut tipis yang perlahan menyelimuti deretan puncak gunung tersebut yang membawa kesan tersendiri bagi kami. Suasana damai yang dari tadi kami rasakan menjadi semakin damai tatkala melihat pemandangan tersebut.

Kami segera membuka perbekalan yang dari tadi tidak tersentuh. Dua bungkus roti, enam buah jeruk serta setengah kilogram kurma segera saja kami lahap, dan tidak dalam jangka waktu lama makanan tersebut telah ludes. Beberapa dari rombongan segera beranjak mengambil tempat yang nyaman untuk sekedar merebahkan diri dan menikmati nyiur angin pegunungan. Tapi penulis sendiri tak mau melewatkan suasana damai ini dengan tertidur. Penulis lebih menulis memetik gitar dan menyanyikan beberapa lagu yang penulis hapal.

Petikan senar gitar, nyanyian sumbang serta semilir angin yang berhembus menjadi suasana yang tidak akan pernah penulis lupakan. Ditengah suasan tersebut hati penulis bergumam ” dan di Puncak Gunung Wayang damai pun bersemi dengan begitu indah”.  Pengalaman ini akan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan oleh penulis. Di tengah kepungan kebisingan serta Penulis akan selalu merindukan situasi seperti itu.

Aang Kusmawan, guru ekonomi di MA Sukasari Kec Kertasari Kabupaten Bandung