Ketika akan mengajar beberapa waktu lalu, telepon genggam penulis bergetar. Rupa-rupanya ada pesan pendek masuk. Ketika dibuka ternyata pesan pendek itu berasal dari salah seorang murid di kelas yang hendak penulis ajar. Isinya juga cukup pendek, murid tersebut berpesan bahwa dirinya tidak bisa masuk pada hari itu. Alasannya karena dia sakit.

Ketika hendak melanjutkan mengajar di kelas lain, telepon penulis kembali bergetar. Rupanya ada pesan pendek yang kembali masuk. Isinya tidak jauh beda dengan pesan pendek sebelumnya. Siswa tersebut minta ijin tidak masuk karena ada kepentingan keluarga.Sesaat, penulis tidak terlalu menghiraukan pesan pendek tersebut. Penulis menganggap hal itu sebagai sebuah hal yang biasa.

Akan tetapi pertanyaan kritis mulai muncul tatkala menjelang hari raya idul fitri. Satu hari menjelang hari lebaran, kotak masuk telepon penulis kebanjiran pesan pendek dari banyak kolega..

Secara umum isi dari pesan pendek itu semuanya sama, mengucapkan minal aidzin walfaidzin dan memohon maaf lahir batin. Akan tetapi secara khusus ternyata ucapan tersebut di kirim dalam bentuk yang berbeda-beda.

Misalnya, ada murid penulis yang masih duduk di kelas sepuluh Madrasah Aliyah (MA), murid tersebut mengirim pesan dengan menggunakan bahasa inggris yang menurut penulis struktur katanya cukup baik. Pada awalnya penulis merasa senang mendapatkan ucapan tersebut, akan tetapi ketika ditelisik lebih dalam penulis merasakan sebuah keraguan. Apakah betul murid penulis mengerti dengan menyeluruh mengenai isi dari pesan singkat tersebut? Sejujurnya, tanpa bermaksud merendahkan, penulis  meragukan itu semua.

Contoh lain, berasal dari teman guru penulis. Kebetulan guru tersebut mengajar bahasa inggris. Isi pesan pendeknya menggunakan bahasa sunda yang menurut saya sangat halus, runut dan sarat dengan metafora yang sulit diterjemahkan perkata. Membaca pesan pendek tersebut, penulis merasa kagum sekaligus ragu mengenai kemampuan teman saya tersebut.

Namun kemudian keraguan penulis akhirnya sedikit terjawab ketika kemudian teman saya tersebut mengklarifikasi kepada penulis ternyata pesan pendek berbahasa sunda yang dikirimkannya tersebut adalah jiplakan pesan pendek dari temanna, dan lebih parahnya lagi dia tidak memahami isi pesan pendek tersebut.

Dari rentetan pesan pendek dalam runutan waktu tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang menarik didiskusikan. Pertama, proses komunikasi yang dibangun. Kedua adalah kedalaman arti dari pesan yang dbuat. Serta ketiga adalah unsur kejujuran.

Dalam proses komunikasi yang dijalankan, mengacu pada peristiwa yang saya alami sebenanrnya ada sebuah proses komunikasi yang berjalan dengan begitu cepat. Perpindahan pesan dari orang yang satu kepada orang lain berpindah tanpa hambatan yang berarti. Dalam konteks proses komunikasi ini, kesenjangan informasi sejatinya sedang dalam perjalan menjadi sebuah mitos saja.

Namun dilain sisi, hal positif itu ternyata diiringi oleh hal negatif. Cepatnya perpindahan pesan dalam jejaring dan relasi sosial di masyarakat secara tidak sadar telah membawa masyarakat kedalam sebuah kondisi dimana kedalaman dari sebuah pesaan perlahan terpinggirkan. Jelasnya kedalaman pesan yang dibuat dan disampaikan tidak lagi menjadi utama.

Cara-cara mengirim pesan dengan menjiplak pesan dari orang lain kemudian menyebarkan pesan tersebut kepada orang lain merupakan contoh nyata dari pengikisan makna dari setiap pesan yang dikirimkan. Dengan melakukan penjiplakan maka sebenarnya seorang tersebut tidak lagi menggunakan akal pikiran serta hatinya dalam proses pembuatan sebuah pesan.

Padahal pekerjaan membuat pesan sejatinya adalah pekerjaan untuk menjalin sebuah komunikasi yang tidak hanya sekedar bertukar kata atau hanya bersilat lidah saja. Lebih jauhnya lagi pekerjaan membuat pesan adalah sebuah usaha dalam menghormati dan memaksimalkan kerja-kerja otak. Atau jika ditarik kewilayah teologis, maka membuat pesan sebenarnya adalah sebuah tindakan sukur atas karunia yang telah diberikan oleh Tuhan. Atau jika ditarik kewilayah seni, maka membuat pesan adalah sebuah seni yang mengutamakan proses yang ulet serta keindahan.

Terakhir adalah unsur kejujuran. Sampai dengan sekarang penulis tidak pernah bisa membantah atau sebaliknya menerima pesan pendek yang disampaikan oleh murid-murid terutama jika mereka meminta ijin untuk tidak hadir dan sebagainya. Terlalu sulit rasanya untuk membuktikan itu.

Kejujuran berkomunikasi di tengah kondisi masyarakat yang kedalaman berkomunikasi sedang terkikis secara perlahan merupakan hal yang teramat sulit. Dalam konteks seperti itu, kejujuran tidak lagi diposisikan paling depan. Kejujuran dalam konteks tersebut berada di deretan yang paling belakang. Atau jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka kejujuran dalam berkomunikasi mungkin hanya akan menjadi sekedar mitos belaka.

Melihat pada fakta tersebut, tak salah kiranya jika kita menyimpulkan bahwa sedang terjadi pergeseran yang signfikan dalam dinamika komunikasi yang dibangun dimasyarakat. Pertanyaan pentingnya adalah kearah manakah pergeseran yang sekarang sedang terjadi? Ke arah yang lebih buruk atau sebaliknya ke arah yang lebih baik? Melihat pada fakta empiris yang penulis alami, sejujurnya penulis menyebut bahwa dinamika komunikasi secara mendasar  bergeser ke arah yang buruk. Penulis menyebutnya sebagai komunikasi tanpa ruh. Bagaimana dengan anda?

Aang Kusmawan, Guru mata pelajaran ekonomi di MA Sukasari Kabupaten Bandung. Aktif di Serikat Guru Muda (SGM) Bandung