Kondisi Mata Air

Senjakalaning Mata Air Kertasari

Oleh Aang Kusmawan

Melewati jalan raya di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung mata kita akan disuguhi oleh hamparan hijau kebun-kebun palawija yang menyegarkan. Kincir-kincir penyiram tanaman dan petani yang menyiram tanaman secara langsung terlihat begitu tenang. Unsur Air, tanah, tanaman terlihat sebagai sebuah kesatuan yang padu.

Bagi masyarakat Kertasari, air mempunyai peranan paling  utama. Tanpa adanya air yang mengalir maksimal tanaman-tanaman palawija tidak akan tumbuh baik.  Bahkan untuk  kentang,  tidak maksimalnya air yang mengalir  artinya sama dengan kematian yang perlahan.

Namun pandangan tersebut belum berbanding lurus dengan praktek dan kondisi  yang ada, khususnya mengenai kondisi hulu mata air. Menurut Tatang Badruzaman (27) petani kentang yang juga merupakan ketua RW di Desa Cibereum, kondisi hulu mata air yang menjadi sumber pengairan untuk daerah pertanian sangat memprihatinkan.

Hampir tidak ada pihak yang begitu peduli dengan kondisi hulu mata air, “masyarakat di sini lebih sibuk memikirkan bagaimana supaya harga kentang tidak mengalami penurunan dibandingkan dengan memikirkan bagaimana bagaimana supaya air terus mengalir” begitu ungkap Tatang dengan intonasi yang jelas.

Alih fungsi

Berdasarkan pengamatan Tatang, Desa Cibereum sebagai ibu kota Kecamatan Kertasari mempunyai cukup banyak mata air, seperti mata air Ciseke, Cipanas, Limhui dan Cisanti. Khusus untuk Cisanti, mata air tersebut selain mengairi tanaman palawija juga merupakan sumber mata air untuk sungai Citarum.

Namun demikian, masih dalam pengamatan Tatang, kondisi lahan  di semua hulu mata air tidak lagi terlihat hiijau oleh pohon rindang, namun hijau oleh tanaman kol, wortel dan kentang. Dengan kata lain, kondisi lahan hulu mata air berada dalam keadaan botak. Akibatnya, Air hujan tidak bisa diserap baik.

 

Setali tiga uang dengan nasib hulu mata air di Cibereum, di beberapa desa yang masih berada dalam wilayah kecamatan Kertasari, kondisi hulu sungai tidak jauh berbeda. Seperti penuturan Ibu Siti (37), buruh pemetik teh di kebun Talun Santosa Desa Santosa tersebut mengatakan, bahwa salah satu penyebab rusaknya hulu mata air di Santosa adalah adanya perubahan fungsi lahan serapan air menjadi lahan pertanian palawija.

Begitupun dengan  Desa Cikembang. Desa yang mengambil sumber airnya dari mata air gunung ini mengalami nasib yang sama. Dalam pandangan Rohis (32) petani kol yang juga seorang guru agama, rusaknya kondisi mata air di Cikembang karena  semakin banyak masyarakat yang membuka lahan perkebunan  di wilayah hutan yang dulunya dijadikan sebagai lahan penyerap air.

“sekarang lahan perkebunan lebih luas dari lahan hutan, otomatis sumber air untuk perkebunan menjadi berkurang dan tentu saja sumber airnya akan rusak” begitu ungkap Rohis kepada penulis.

Himpitan ekonomi

Tak mungkin ada asap tanpa ada api, hal itu juga berlaku untuk rusaknya mata air di Kertasari. Menurut Chevy (30) staff Desa Santosa, faktor utama terjadinya alih fungsi lahan tersebut adalah faktor ekonomi.

Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat mendorong mereka untuk mencari pendapatan yang lebih besar. “karena mayoritas masyarakat Kertasari mayoritas bergerak di wilayah pertanian, maka wajar jika mereka menambah lahan pertanian agar lahan mereka lebih luas dan akhirnya pendapatan mereka bertambah” begitu ungkap Chevy kepada penulis.

Pendapat Chevy tersebut dibenarkan oleh Tatang. Dalam pengamatan Tatang, hampir selama sepuluh tahun terakhir ini upah buruh kasar yang bekerja di lahan masyarakat atau lebih dikenal dengan istilah ngabedug tidak pernah naik dengan signifikan. Sama halnya dengan upah buruh tani perkebunan juga tidak pernah mengalami kenaikan signifikan.

Sementara di lain pihak, selama lima tahun terakhir ini saja harga barang pokok terus mengalami kenaikan dengan signifikan, terutama untuk beras.”Tidak seimbangnya antara laju kenaikan upah dengan laju kenaikan harga telah mendorong masyarakat untuk mencari tambahan pendapatan” begitu ungkap Tatang kepada penulis.

Selain itu, menurut Chevy, kondisi kemiskinan sebenarnya tidak hanya dialami oleh buruh lepas dan buruh perkebunan saja, akan tetapi juga dialami oleh karyawan kehutanan yang statusnya masih honorer.

Bagi karyawan yang masih berstatus honorer, kenaikan harga barang semakin terasa memberatkan karena jumlah upah yang mereka terima tidak signifikan dan semakin tidak mampu mengimbangi kenaikan harga yang cepat.

“Akhirnya dengan kondisi tersebut para karyawan perkebunan terpaksa harus menambah pendapatan, dalam posisi seperti itu peluang dibukanya lahan perkebunan yang berada di daerah resapan air menjadi sangat terbuka”  begitu ungkap Chevy dengan bersemangat.

Kesadaran tergeser

Tampaknya terjadinya alih fungsi lahan yang disebabkan karena himpitan ekonomi pada akhirnya menyebabkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian hulu mata air tergeser jauh dari hati dan pikiranya masing-masing.

Hal ini diamini oleh Rohis. Menurut Rohis, bergesernya kesadaran masyarakat tersebut sangat berbahaya karena bisa jadi pergeseran pemikiran tersebut terjadi secara permanen. Hal ini cukup beralasan mengingat kondisi ekonomi yang nampaknya belum akan bergerak kearah yang lebih baik, dan malahan menuju kondisi yang lebih parah.

“Ini merupakan hal sulit, namun kitapun tidak terlalu mempunyai banyak pilihan selain terus berusaha mengajak, menyadarkan masyarakat, baik yang sudah tua sekarang ataupun anak-anak tentang penting kelestarian lingkungan khususnya sumber mata air” ungkap Rohis kepada penulis.

Dalam konteks tersebut, rasa-rasanya  ide Rohis tersebut layak disambut dengan baik. Ditengah himpitan ekonomi yang begitu sulit, tidak ada lagi pilihan yang lebih baik selain terus menerus menyadarkan masyarakat akan penting kelestarian hulu mata air sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

Semoga saja senjakalaning mata air  Kertasari tidak dulu beranjak menuju kehancuran sebelum masyarakat belum betul-betul tersadar.  Semoga saja anak cucu masyarakat Kertasari masih bisa menikmati pemandangan tanaman palawija yang segar serta damainya pemandangan kincir penyiraman dan petani yang menyiram tanaman dengan begitu tenang kelak.***

Aang Kusmawan, guru ekonomi di MA Sukasari Al-Fattah Sukasari Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Kordinator Serikat Guru Muda (SGM) Bandung. Penulis lepas.