Jika ada pertanyaan sungai manakah yang terkotor di dunia, maka jawabanya adalah sungai Citarum. Lalu ketika ada pertanyaan sungai manakah yang memberikan manfaat sekaligus bencana terbesar di dunia, maka jawabanya sama, yaitu sungai Citarum. Kedua pertanyaan tersebut menegaskan tentang kondisi sungai Citarum yang sebenarnya.

Sangat ironis, di tengah bertambahnya populasi manusia dengan semikian pesat, terutama di pulau Jawa khususnya di Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta yang pasti memerlukan pasokan banyak air, sungai Citarum malah mengeruh sehingga tidak layak digunakan.

Alih-alih memberikan manfaat, sungai Citarum malah menyebabkan bencana di hulu dan di hilir. Di hulu misalnya, dalam beberapa bulan terakhir kita dikejutkan dengan banjir yang terjadi di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Banjir tersebut menjadi kejutan karena Tarumajaya merupakan tempat dimana hulu sungai Citarum yang berada di dataran tinggi. .

Sementara itu, di bagian tengah dan hilir terjadi banjir yang permanen. Sampai sekarang jumlah kerugian yang di derita oleh masyarakat di sekitar daerah Dayeuh Kolot sampai Karawang sulit dihitung, karena kerugian yang ditimbulkan bukan hanya secara material akan tetapi juga sekaligus secara psikologis. Bahkan bagi daerah di sekitar Dayeuh Kolot, banjir sudah hampir sama seperti teroris. Apabila musim hujan datang, sungai Citarum betul-betul menjadi teror bagi masyarakat.

Sudah bisa diperkirakan, apabila hal ini berlanjut terus menerus maka permasalahan yang terjadi di sepanjang Citarum akan semakin menumpuk. Bukan tidak mungkin apabila permasalahan tersebut akan mendorong terjadinya prustasi sosial secara massal. Jika terjadi, hal ini akan betul-betul menjadi mimpi buruk.

Proyek terpadu

Namun akhirnya secercah harapan perbaikan muncul. Pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) berinisiaif membuat sebuah rencana aksi terpadu penyelesaian sungai Citarum, atau lebih dikenal dengan Integrated Citarum Water Resourch Management Investment Program (ICWRMIP).

Dari sisi perencanaan, proyek tersebut berisi rencana penanganan sungai Citarum dari hulu sampai hilir. Rencana besar tersebut diperkirakan akan berjalan selama lima belas tahun. Kemudian rencana tersebut terdiri dari sembilan komponen yaitu sebagai berikut : pertama, penguatan kelembagaan pemegang kebijakan. Kedua, perawatan infrastruktur Ketiga, penggunaan dan pengelolaan air.

Keempat, perlindungan lingkungan, termasuk didalamnya program konservasi. Kelima, pengelolaan bencana, yang salah satu unsur pentingnya adalah pembangunan fasilitas untuk mengurangi resiko banjir. Keenam, pemberdayaan masyarakat. Ketujuh, pengembangan sumber data, informasi mengenai sumber daya air. Kedelapan adalah komponen monitoring serta evaluasi program.

Dari sisi pelaksanaan, program tersebut dilaksankan secara kolaboratif antara pihak pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh kementerian Pekerjaan Umum (PU), BAPPENAS, Departemen Pertanian, serta Departemen Kehutanan serta unsur masyarakat yang dalam hal ini diwakili oleh komunitas masyarakat, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Sedangkan dari sisi pembiayaan, sumber pembiayaannya berasal dari berbagai pihak, antara lain :Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), hibah dari Global Environment Facility (GEF) serta pinjaman dari Asean Development Bank (ADB). Jika melihat proporsi, lebih dari lima puluh persen di biayai oleh dana pinjaman dari ADB, lalu sisanya berasal dari APBN dan hibah GEF.

Pendekatan keliru

Merunut pada proses awal perencanaan proyek tersebut yakni tahun 2008, sejumlah kritik keras muncul. Kala itu, gabungan dari berbagai masyarakat sipil yang konsen dalam permasalahan Citarum memberikan kritik yang tajam pada segi sumber dana dan proporsi proyek.

Pada wilayah sumber pendanaan, kalangan masyarakat sipil jelas menolak sumber pembiayaan yang berasal dari pinjaman. Alasanya karena kondisi APBN Negara kita yang selalu defisit, serta sudah terlalu banyak beban yang harus di bayar melalu APBN.

Sementara pada wilayah proporsi, proporsi penanganan di wilayah hulu dan sekitarnya lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah hilir dan wilayah tengah. Padahal jika melihat pada kondisi yang sebenarnya, kerusakan di hulu dan hilir juga di tengah tidak berbeda signifikan. Selain itu, proyek tersebut lebih banyak memprioritaskan pembangunan dan pengembangan infrastruktur. Program-program konservasi serta pemberdayaan masyarakat mendapatkan proporsi sedikit.

Dalam kontek tersebut, penulis tidak berada dalam posisi menolak atau menerima proyek tersebut, namun secara mendalam penulis melihat ada pendekatan yang keliru pada pendekatan perencanaan serta implementasi proyek tersebut.

Dengan sederhana, penulis ingin mengatakan bahwa dalam hal pendekatan, proyek tersebut telah dengan sengaja mengesampingkan pendekatan pembangunan sumber manusia, atau investasi pembangunan modal sosial secara utuh. Bukti sederhana hal tersebut terlihat pada komponen proyek. Dari Sembilan komponen yang tercantum, hanya satu komponen saja yang fokus dalam bidang pemberdayaan masyarakat.

Dalam kaitannya dengan proyek Citarum, Ada berapa alasan mendasar kenapa pendekatan pembangunan sumber daya manusia menjadi penting. Pertama, melihat pada akar kerusakan sungai Citarum.

Harus disadari secara betul bahwa sungai Citarum sangat terkait erat dengan kehidupan masyarakatnya sehari-hari. Oleh karena itu, dalam kerangka penyelesaian masalah sungai Citarum, maka peran masyarakat sangatlah besar.

Dengan kata lain, penulis berpandangan bahwa untuk menyelesaikan permasalah sungai Citarum, maka masyarakatnya juga harus “disembuhkan” secara bersamaan. Sebagus apapaun infratsrtuktur yang di bangun, tanpa adanya kesadaran yang memadai dari masyarakat maka hal itu akan menjadi pekerjaan yang sia-sia saja.

Kedua, harus kita ketahui bersama bahwa paradigma investasi di tataran internasional sebenarnya sedang mengalami sedikit pergeseran. Paradigma investasi infrasruktur sedang tergeser oleh paradigma investasi sumber daya manusia. Dengan kata lain, paradigma pembangunan infrastruktur quo vadis.

Dalam konteks yang lebih luas, penting kiranya memahami bahwa pergeseran paradigma tersebut tidak terjadi dengan begitu saja. Akan tetapi hal tersebut dihasilkan dari proses serta evaluasi panjang dan mendalam. Dengan kata lain penulis ingin mengatakan bahwa penyebab pergeseran tersebut karena paradigma investasi infrastruktur telah gagal menjawab permasalahan pembangunan.

Di sisi lain, dalam konteks Indonesia, pergeseran paradigma tersebut ternyata mendapatkan pembenaran. Pembenaran tersebut terlihat dari banyaknya gedung-gedung serta proyek yang alih-alih berguna, tapi malah menjadi gedung-gedung yang tidak berguna sama sekali, seperti pembangunan beberapa gedung yang sempat diberitakan Koran Pikiran Rakyat (PR) beberapa minggu kebelakang.

Lalu akankah rencana proyek terpadu tersebut akan menjawab semua permasalahan yang terjadi disungai Citarum? Hemat penulis, kita tidak serta merta bisa menjawab ya atau tidak. Penting kiranya untuk meninjau kembali rencana terpadu tersebut secara lebih kritis, arif dan bijaksana, hal tersebut sangat penting dilakukan agar kita tidak kembali terjebak dalam lubang yang sama. Semoga Citarum yang bersih dan berguna bagi masyarakat tidak hanya akan sekedar menjadi mimpi belaka, akan tetapi akan betul-betul menjadi kenyataan. Amin***

Aang Kusmawan, Guru ekonomi di Madrasah Aliyah (MA) Sukasari Al-Fattah Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Tinggal di wilayah hulu sungai Citarum.