Disuatu pagi menjelang idul adha ketika mendengarkan Almarhum Gusdur  menyanyikan syair tentang pertobatan, telpon genggam penulis bergetar. Juandi Rewang, salah seorang  kawan aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang juga dulunya aktivis mahasiswa yang djuga dikenal lewat puisi-puisi reformasinya  mengirim sebuah pesan singkat. Isinya seperti ini “  Inalilahi rojiun . Telah kembali menghadap ilahi seorang kasih jelata Bung Yoko hari ini pukul  01.00 dini hari di Yogyakarta. Salam hormat atas pilihannya  di jalan rakyat sepanjang hayat (05/11/11)”

 Membaca pesan tersebut penulis langsung tertegun. Ingatan penulis mundur kebelakang. Masih cukup segar dalam ingatan, ketika itu penulis dan Juandi Rewang sempat menghabiskan malam dengan berdiskusi mengenai jalur aktivisme yang banyak ditempuh oleh mantan aktivis kampus.

Jalur aktivisme

Waktu itu, secara umum kami menyimpulkan  ada beberapa jalur yang yang biasanya ditempuh oleh mantan aktivis kampus. Pertama, adalah kalau tidak bergabung dengan LSM yang sudah ada, mereka biasanya bergabung dengan aktivis (kampus) lain membuat sebuah LSM baru dengan modal sisa-sisa idealisme mereka tentunya.

Biasanya aktivis yang memilih jalur ini adalah aktivis yang bimbang antara harus memilih meneruskan idealismenya tanpa henti dan tanpa perubahan seperti masa di kampus dengan pilihan kehidupan diluar kampus yang sama sekali berbeda dengan kehidupan dikampus dulu. Biasanya aktivis yang realistis dan “kompromi” dengan keadaan akan memilih jalur ini.

Kedua, biasanya para aktivis kampus tersebut memilih jalur sesuai dengan jenis studi kuliahnya masing-masing. Seandainya mereka dari jurusan keguruan mereka akan menjadi guru. Seandainya dari jurusan komunikasi mereka lebih banyak menjadi wartawan dan lainnya.  Ketiga, biasanya mereka langsung bergabung dengan partai politik yang sudah mapan atau ada yang bergabung membuat partai politik baru, tentu saja dengan modal sisa-sisa idealisme dari kampus.

Salah satu alasan kenapa para aktivis memilih jalur kedua dan ketiga ini hampir sama dengan alasan memilih jalur pertama. Ketiga jalur tersebut dirasa lebih “aman”. Idealisme yang dulu dibangun ketika menjadi mahasiswa masih bisa dibangun meskipun  tidak sama seperti ketika dikampus.

Keempat , adalah mereka yang tidak memilih ke partai politik, tidak juga LSM, tidak juga menjalani profesi sesuai ilmu yang didapatkanya. Mereka yang tidak memilih itu semua, adalah aktivis yang memilih bergabung atau membuat sebuah organisasi rakyat sektoral seperti buruh, tani, perempuan dan miskin kota.

Jalur sunyi

Khusus mengenai jalur yang terakhir, Juandi berpendapatan bahwa jalur ini merupakan jalur yang paling sedikit dipilih oleh aktivis setelah selesai masa kuliahnya. Ada berapa alasan penting kenapa jalur ini paling sedikit dipilih.

Pertama, jalur ini tidak menjanjikan apa-apa untuk mantn aktivis kampus. Tidak ada jaminan bahwa kehidupan akan lebih baik, termasuk masalah ekonomi sekalipun. Malahan, aktivis dijalur ini masih harus mengeluarkan banyak pengorbanan pribadi dalam menjalaninya.

Kedua, dijalur ini aktivis sangat jauh dari hiruk pikuk pemberitaan media massa. Aktivis dijalur ini lebih banyak berada di masyarakat, atau Juandi lebih senang menyebutnyanya dengan akar rumput (grass root).

Selain itu, aktivis yang memilih jalan ini mempunyai penampilan bersahaja. Tidak punya mobil, tidak punya motor, juga tidak punya handphone yang bagus dan modern. Perjalanan dari desa kedesa cukup dengan berjalan kaki atau naik motor masyarakat yang dibelanya. Bila harus bepergian jauh, cukup saja dengan menggunakan bus ekonomi atau kereta ekonomi saja.

Aktivis yang memilih jalur ini adalah aktivis yang sangat sederhana, tidak pernah menawarkan janji-janji palsu, juga kecenderunganya mempunyai semangat berbagi yang tinggi, juga selalu banyak bertindak dibandingkan bicara yang tidak jelas.

Dan malam itu, kami sepakat memberikan sebuah nama lain lain untuk jalur ini. Nama jalur ini adalah jalur sunyi. Diluar semua alasan mantan aktivis, malam itu kami sepakat menamai mereka yang memilih jalur ini adalah aktivis yang memilih jalur sunyi, atau jalur sunyi aktivis rakyat.

Namun setelah mendefenisikan hal tersebut, kami tertegun. Pertanyaan menarik muncul dengan begitu saja. Ada berapa jumlah mantan aktivis kampus yang kemudian lebih memilih jalur sunyi ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Juandi mencoba mengingat waktu-waktu kebelakang. Dia coba menghitung aktivis kampus seangkatan dia serta senior-seniornya dulu dikampus dan kampus lain. Setelah sejenak memutar balik ingatanya, Juandi menarik napas cukup panjang.

Menurutnya mantan aktivis kampus yang memilih jalur ini jumlahnya tidak lebih dari selusin saja. Mantan aktivis kampus yang diingat oleh Juandi ternyata lebih banyak menjadi aktivis LSM dan partai politik. Selebihnya memilih menjalani profesi sesuai kompetensi akademik yag dijalaninya ketika kuliah.

Dan dalam konteks  jalur sunyi ini, menurut Juandi, Bung Yoko merupakan salah satu aktvis yang memilih jalur sunyi setelah menyelesaikan masa kuliahnya dikampus. Dalam ingatan Juandi, Bung Yoko adalah aktivis agraria yang selama pulunan tahun konsisten untuk tidak berpindah haluan ke jalur lain.

Telah banyak masyarakat petani yang dia bantu selama ini. Keluar masuk pegunungan, dikejar-kejar bahkan bentrok dengan polisi sampai berdarah-darah merupakan hal wajar bagi dirinya. Selain itu, menurut Juandi, sosok Yoko sangatlah sederhana, kurus kering, tidak terlalu suka banyak bicara yang tidak penting, namun keberpihakannya kepada masyarakat  diakar rumput terlihat sangat jelas.

Dalam konteks yang lebih luas, menyimak jawaban Juandi mengenai sedikitnya aktivis yang memilih jalur sunyi, tiba-tiba saja rasa gelisah dan khawatir hinggap perlahan. Ada berapa alasan kenapa penulis gelisah dan khawatir. Mengacu pada fakta tentang partai politik sekarang. Sudah menjadi rahasia umum apabila partai-partai politik sekarang ternyata sedang berada pada suatu titik nadir dimana mereka sudah hampir tidak lagi dipedulikan oleh rakyat.

Partai sedang mandul dalam memproduksi kesejahteraan rakyat. Partai sekarang tidak lebih dari mobil yang mempunyai ban kempis. Sekuat apapun didorong tidak terlalu akan banyak memberikan perubahan. Dalam kontek seperti itu, penulis menyangsikan bahwa mantan aktivis kampus tersebut dapat menyulap mobil dengan ban kempis tersebut bisa maju maksimal.

Dilain sisi, ketika partai politik tidak bisa diandalkan lagi, maka tidak ada pilihan lain lagi, masyarakat diakar rumput harus bangkit sendiri tanpa mengandalkan partai politik. Organisasi-organisasi masyarakat, termasuk organisasi sektoral harus membangun kekuatan yang solid, terpimpin dan terorganisir dengan baik.

Nah, dalam kegelisahan tersebut, penulis merasakan bahwa kepergian Bung Yoko untuk selama-lamanya merupakan sebuah kehilangan yang cukup besar, terutama bagi gerakan rakyat dalam perjuangan agraria secara umum dan masyarakat akar rumput yang selama ini pernah diperjuangkannya. Rasa kehilangan itu semakin besar tatakala kedepan tidak ada jaminan bahwa akan lahir aktivis konsisten dan bersahaja seperti Bung Yoko. Ini adalah hal sulit yang mau tidak mau harus diterima dengan lapang dada.

Namun demikian, ditengah kegelisahan tersebut , ketika membaca nama Dadan Ramdhan, Dadang Sudarja, Juandi Rewang, Wulandari, Umar Alam Nusantara, Cecep Syarif Maulana, Wowon, Subhan, April Perlindungan, Dan Ahmad Madani kegelisahan penulis sedikit terlupakan.  Pada nama-nama tersebut penulis masih menemukan sebuah rasa bahwa mereka masih memilih jalur sunyi dalam memperjuangkan masyarakat diakar rumput sampai waktu yang tidak ditentukan.

Selamat jalan Bung, semoga di sana di alam kekekelan bung bisa bersitirahat dengan tenag. Biarkan jalur sunyi itu diteruskan oleh kawan-kawan kita,  yang  sekarang sedang memilih jalur sunyi, sama seperti jalan yang bung pilih.  Semoga konsistensi dan kesahajaan Bung menjadi teladan yang tidak terlupakan. Amin.

Aang Kusmawan. Mengajar ekonomi di MA Sukasari Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Kawan dari  aktivis yang memilih jalur sunyi.