Sejatinya hubungan antara sekolah dan lingkungan disekitarnya adalah saling mendukung. Ketika ada lingkungan rusak, seyogianya sekolah mengambil peran dalam usaha perbaikan. Begitu juga sebaliknya, ketika ada sekolah rusak, seyogianya masyarakat bisa bahu membahu memperbaikinya.

Mengutip pada kata yang sering kali digunakan oleh para  pendidik, bahwa sering kali Das Schein selalu berbeda dengan Das Scholen, keinginan selalu berbeda dengan realita. Seperti itu juga yang terjadi di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung.

Menuju Kerusakan Permanen

Sebagai kecamatan tempat di mana hulu sungai Citarum berada, sekarang kondisi lingkungan alamnya sedang berada dalam kondisi yang kritis, dan kedepan sepertinya  akan menuju sebuah kerusakan permanen.

Kondisi hulu mata air, misalnya  hampir semua kondisi mata air di Kecamatan yang terdiri dari tujuh desa tersebut mengalami kondisi yang menghawatirkan. Quo Vadis, kaum intelektual menyebutnya.

Salah satunya Desa Cibereum. Sebagai desa yang menjadi ibu kota Kecamatan Kertasari, daerah ini merupakan daerah dengan jumlah penduduk terbanyak kedua setelah Desa Tarumaya. Selain itu, Desa Cibereum merupakan Desa yang mayoritas masyarakatnya mengandalkan kehidupanya pada sektor pertanian dan peternakan. Oleh karena itu air merupakan sebuah hal yang vital. Namun demikian,  pandangan tersebut ternyata belum bisa menjadi  garansi bahwa air akan mejadi perhatian yang sangat serius.

Dari pengamatan yang dilakukan, terlihat bahwa hamprir semua hulu mata air di daerah Cibereum telah botak. Tak ada satupun tanaman penangkap air yang tumbuh.

Di hulu mata air Cisanti misalnya, daerah sekitar mata air yang mengaliri Citarum dan desa-desa sekitarnya tersebut telah dipenuhi oleh tanaman semusim, seperti kentang kol dan bawang daun bahkan di beberapa lokasi tidak  ditanami apa-apa selain rumput liar.  Selain mata sir Cisanti, mata air lainnya seperti hulu mata air Limhui, Ciseke dan Cipanas kondisi tidak jauh berbeda.  Memperihatinkan.

Kalaupun ada kondisi hulu mata air yang agak lebih baik, itulah mata air Cianjing. Hulu mata air yang masih berada di Desa Cibereum yang menjadi sumber air bagi Desa Sukapura sekitarnya  tersebut masih mempunyai satu pohon besar yang menjadi penahan air.

Namun sayang pohon besar tersebut usianya tampak tida lagi muda. Selain itu, daerah di sekitar hulu mata air tersebut telah dijadikan sebagai tempat pemancingan. Otomatis di wilayah tersebut tidak lagi berfungsi mejadi lahan tempat menyerap air. Kerusakan permanen nampaknya tidak akan lama lagi menerjang hulu mata air Cianjing.

Setali tiga uang dengan daerah pertanian semusim tersebut, kondisi mata air di daerah perkebunanpun mengalami masalah yang tidak jauh berbeda. Di Desa Santosa, misalnya, sebagai desa yang berada di wilayah perkebunan, kondisi hulu mata airnya tidak jauh berbeda dengan daerah pertanian tanaman semusim.

Hulu mata air Suka Tinggal yang menjadi sumber mata air bagi operasional pabrik dan masyarakat juga sedang menuju kerusakan yang permanen. Menurut penuturan Ibu Siti (40) salah satu buruh perkebunan Talun Santosa, di daerah sekitar Hulu Sukatinggal kini telah ada lahan yang digunakan untuk lahan pertanian semusim. Alih fungsi lahan sedang terjadi secara perlahan namun konsisten.

Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit, itulah mungkin istilah yang pas untuk menggambarkan kondisi kekritisan kondisi hulu mata air di Desa Santosa Kecaatan Kertasari. Kedepan bukan tidak mungkin alih fungsi lahan tersebut aka lebih masif. Dan ketika itu terjadi, maka kondisi mata air di Desa Santosa sedang menuju kerusakan permanen.

Lalu jika kembali pada wacana di paragraf awal, dimanakah peran sekolah?. Menjawab pertanyaan tersebut susah-susah gampang.  Menurut Tatang Badrujaman (28) salah satu guru MTS Sukasari,  kondisi lingkungan dengan sekolah terlihat terpisah begitu jauh. “hubungan antara lingkungan dan sekolah nampaknya seperti ibarat jauh panggang dari api” begitu ungkat Tatang

Terjebak Masalah Klasik

Senada dengan hal tersebut,  Uef Edi (47) alah satu faktor penyebab kenapa sekolah cenderung abai terhadapa kondisi lingkungan adalah kebiasaan dan cara pandang dari guru itu sendiri.

Sudah mejadi rahasia umum jika guru-guru di Indonesia, Kertasari termasuk didalamnya adalah guru-guru yang terbiasa menggunakan metode ceramah untuk  mengajar. “Mau seperti apapun perencanaan yang dibuat, biasanya dalam cara penyampaian sering kali menggunakan metode ceramah” ungkap Uef .

Akibat dari metode penyampaian seperti ini, murid tidak pernah betul mengenal lingkunganya sendiri termasuk hulu mata air.  Parahnya lagi, kebiasaan ini telah berlangsung cukup lama, sehingga akhirnya mengajar dengan cara ceramah telah menjadi budaya.

Lebih parahnya nya lagi tentu saja hal ini berdampak terhadap siswa yang diajar  dengan metode tersebut. Mempelajari kondisi lingkungan tidak lebih dari mengenal kapur tulis berwarna putih serta papan tulis berwarna hitam.  Akhirnya, kesadaran akan pentingnya kesatuan antara lingkungan alam dengan sekolah (baca: manusia) terbangun minimalis, untuk sekedar mengatakan tidak sama sekali.

Selidik demi selidik, kebiasaan tersebut sebenarnya tidak lepas dari pandangan guru-guru mengenai proses pembelajaran, khususnya dalam perencanaan praktek pengajaran.

Menurut Uef Edi  sudah tidak bisa dibantah lagi jika guru-guru memandang bahwa metode pembelajaran di luar metode ceramah merupakan hal yang baik, namun sangat merepotkan.

Anggapan bahwa metode mengajar dengan cara studi lapangan salahsatunya meupakan metode yang ribet, membutuhkan banyak waktu, membutuhkan banyak biaya. “Saya memandang bahwa metode pengajaran dengan cara studi lapangan merupakan hal yang baik, namun saya sulit untuk melaksananya, karena di lain tempat saya harus melakukan hal lain”.

Namun demikian, masih menurut Uef, sebenarnya masalah kebiasaan dan cara pandangan ini sebenarnya bukanlah hal yang tidak bisa diperbaiki. Sebagai guru yang sudah berpengalaman, Uef  merasakan betul bagaimana setiap pelatihan, bimbingan teknis yang diberikan baik oleh pemerintah atau swasta sebenarnya telah menjadi hal yang sedikit – demi sedikit merubah kebiasaan dan cara pandang guru-guru dalam mengajar.

Oleh karena itu, Uef  optimis bahwa guru-guru mampu merubah hal itu semua, walaupun pasti membutuhkan dari sekedar pelatihan atau bimbingan teknis. Dalam pandangan yang lebih luas, Uef Edi memandang bahwa permasalahan lingkungan yang terjadi merupakan masalah yang komplek, tidak mungkin sekolah bisa merubah ini semua tanpa adanya dukungan dari seluruh pihak.

Membaca optimisme Uef Edi tersebut tak adalah salahnya kita semua mengamininya. Semoga saja  kedepan penyampaian materi tidak hanya menggunakan metode ceramah.  Sehingga akhirnya siswa-siswa betul-betul memahami permasalahan lingkungan dengan lebih luas dan lebih jelas. Semoga saja hubungan antara sekolah dan lingkungan kedepan tidak lagi seperti jauh panggang dari api akan tetapi melainkan betul-betul menyati menjadi simbiosi mutualisme yang padu.***