Bagi masyarakat yang berada di Kawasan Bandung Utara (KBU), boleh jadi kurun waktu dua puluh terakhir merupakan sebuah mimpi buruk. Pembangunan komplek perumahan dengan berbagai gedung didalamnya telah terjadi dengan begitu deras. KBU  yang lebih dari dua puluh tahun lalu adalah kawasan hutan konservasi, pemukiman tidak padat penduduk dan berbagi perkebunan rakyat kini telah berubah drastis. KBU telah menjadi hutan beton.

Tentu saja perubahan tersebut telah menimbulkan konflik pelik antara masyarakat setempat dengan para pengusaha. Di satu sisi, pengusaha ingin segera mendapatkan keuntungan material, sementara di sisi lain masyarakat tidak menjadikan materi sebagai hal utama.

Dalam konteks tersebut, rupa-rupanya tarik menarik kepentingan tersebut, pada prosesnya telah melahirkan beberapa aktivis masyarakat lokal yang konsisten dalam mempertahankan KBU. Salah satu aktivis tersebut adalah H Aceng (40)

Sebagi aktivis masyarakat yang dilahirkan dan dibesarkan oleh konflik, khususnya konflik pertanahan. demonstrasi, bakar ban, mencangkul lahan perumahan, intimidasi preman, dikriminalisasi oleh pengusaha, ruang-ruang pengadilan merupakan hal akrab bagi H Aceng. Dalam catatan pribadinya, tidak kurang dari dua puluh empat kali dia berurusan dengan pengadilan, dan sudah tidak terhitung berapa kali berurusan dengan kepolisian.

Selain itu, sebagai aktivis yang konsisten dalam berjuang, hanya dipenjara saja satu-satunya hal yang belum dia rasakan. Namun demikian, kepada penulis H Aceng menuturkan bahwa dia sama sekali tidak takut di penjara. “walaupun saya di penjara saya tidak akan pernah berhenti berjuang, bahkan dari dalam penjara suara saya akan lebih nyaring” begitu ujar pria dari tiga anak tersebut

Mengikat sejarah

Bagi H Aceng, perjuangan mempertahankan tanah kelahiranya sekarang yaitu kampung Ciosa Desa Mekarsaluyu Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung adalah jalan yang harus dijalani sampai ajal  menjemputnya kelak. Sebagai sebuah perjalanan, tentu saja kurun waktu dua puluh tahun merupakan perjalanan yang sangat berarti.” Walaupun kurun waktu dua puluh tahun adalah waktu yang tidak terasa lama, bagi saya waktu tersebut sangat berharga. Banyak kelokan, tanjakan, turunan, jalan kerikil yang sudah saya lalui” ujar H Aceng kepada penulis.

Berangkat dari cara pandang tersebut, kepada penulis dia mengungkapan bahwa dalam dalam kurun beberapa waktu kedepan akan mebuat sebuah buku tentang perjalanan keaktifisan dirinya. “ saya mungkin tidak bisa mewariskan banyak harta kepada anak-anak saya serta warga yang ada di KBU, saya mungkin hanya bisa mewariskan cerita kepada keturunan saya bahwa saya telah berjuang memperjuangkan tanah yang yang saya miliki sampai titik darah penghabisan.. Buku tersebut saya anggap sebagai pengikat sejarah hidup saya”

Kepada penulis, H Aceng mengungkapkan bahwa buku tersebut akan berisi berapa bagian besar. Pertama, adalah tentang proses tersingkirnya warga masyarakat Desa Mekar Saluyu dari tempat tinggalnya sendiri yang kemudian berlanjut dengan berbagi nasib yang terpaksa harus diterima oleh masyarakat yang masih bertahan di Kampung Ciosa serta masyarakat yang terpaksa pindah kedaerah lain.

Kedua, buku tersebut akan bercerita tentang proses dirinya dalam memperoleh keadilan secara formal dan nonformal.  Menurut H Aceng yang dimaksud formal disini adalah ketika dirinya mengikuti proses-proses dikepolisian, pengadilan dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud nonformal adalah ketika dirinya terlibat dalam berinteraksi dengan masyarakat dalam membangun kekuatan “melawan” para pengusaha. “susah senangnya mempersiapkan kekuatan masyarakat untuk melawan kezaliman para pengusaha akan saya tuliskan secara lengkap, saya masih menyimpan semua catatan dan dokumen termasuk kliping Koran tentang KBU secara lengkap”  begitu pria jebolan salah satu Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)  di Kota Cimahi.

Memperkuat masyarakat

Selain membuat buku. Salah satu rencana yang akan dilakukanya adalah memperkuat masyarakat yang berada di wilayah KBU. Kepada penulis, dia menyampaikan beberapa alasan kenapa masyarakat harus diperkuat.

Pertama, H Aceng sangat menyadari bahwa kekuatan para pengusaha sangat besar. Terutama kekuatan logistik. Dan dengan kekuatan logisitk yang besar tersebut pria berkumis tersebut menduga pengusaha dapat melakukan semua yang dinginkanya termasuk dalam hal hukum “saya berpandangan bahwa denngan banyaknya jumlah uang yang dimilik, para pengusaha itu mampu mempermainkan apa saja termasuk didalamnya pasal-pasal atau surat-surat berharga”

Berdasarkan hal tersebut H Aceng berpandangan bahwa masyarakat harus betul-betul kuat menghadapinya. Oleh karena itu kerja-kerja penguatan masyarakat seperti kegiatan penyuluhan hukum, peningkatan kapasitas masyarakat dalam bersuara kepada media harus terus dilakukan. “kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat harus dilakukan agar masyarakat tidak mudah diboohi oleh siapapun” ujar H Aceng dengan bersemangat.

Hal selanjutnya adalah memperluas solidaritas masyarakat yang ada di wilayah KBU. H Aceng sangat tahu apabila kekuatan masyarakat merupakan kekuatan ampuh dalam melawan pengusaha. “ dari berbagai pengalaman demo yang saya lakukan, ternyata banyaknya masyarakat yang terlibat merupakan faktor kunci dalam melakukan sebuah perjuangan”

Oleh karena itu, untuk menindaklanjuti hal tersebut, kepada penulis, H Aceng memaparkan bahwa dalam beberapa waktu kedepan dirinya bersama-sama pemuda di Ciosa akan mengumpulkan seluruh masyarakat yang berada di wilayah KBU. “Mimpi saya kedepan adalah akan terwujudnya suatu kelompok masyarakat dengan jumlah yang banyak, yang akan terus menerus melakukan perjuangan sampai titik darah penghabisan” begitu ujar H Aceng masih dengan semangat yang menggebu seperti sebelumnya.

Membangun asa di tengah hutan beton jelas bukanlah hal yang mudah, namun H Aceng telah membukan mata kita semua bahwa tidak ada yang tidak mungkin kalau kita selalu yakin dengan apa yang kita lakukan.

Dengan perenungan yang dalam, tampaknya akan menjadi sebuah kehormatan apabila kita memanjatkan doa untuk perjuangan H Aceng. Semoga suara perjuangan,  perlawanan yang dilakukan dari tengah-tengah hutan beton terdengar sampai keseluruh penjuru dunia dan semoga saja H Aceng dan masyaralat di KBU mampu terus membangun asa secara bersama sehingga ada masa depan yang lebih baik untuk mereka dan untuk lingkungan KBU.Amin.

 

Aang Kusmawan, Guru Ekonomi di MA Sukasari Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Menulis di beberapa media.