Selain Kecamatan Ciwidey yang terkenal dengan hamparan kebun teh  Rancabali, pemandian air panas Ciwalini dan  kawah putih, kawasan Bandung Selatan  masih mempunyai kecamatan dengan  keindahan serta panorama alam yang tidak kalah menarik. Kecamatan tersebut adalah  Kertasari dan Pangalengan.

Kertasari dan Pangalengan merupakan dua kecamatan yang melintang mengikuti jalur perkebunan teh di Bandung selatan. Untuk menyusuri  keindahan panorama kedua kecamatan tersebut bisa dari dua arah yang berlawanan. Perjalanan  bisa di mulai dari  Pangalengan terlebih dahulu Kertasari, atau sebaliknya.

Menurut pengalaman dan pengamatan penulis, memulai perjalanan dari Kertasari terlebih dahulu lalu menuju Pangalengan dirasa lebih menarik, dibanding memulai perjalanan dari Pangalengan lalu menuju Kertasari.

Untuk mencapai Kertasari terlebih dahulu, ada dua jalur yang bisa di  tempuh. Bagi pelancong yang berasal dari wilayah timur Kabupaten Bandung seperti Ranca Ekek, Cileunyi, Cicalengka terlebih dulu harus melewati Majalaya lalu sampai di Ciparay. Sementara itu untuk pelancong yang berasal dari wilayah barat sepertiSoreang, Banjaran, terlebih dahulu harus melewati Dayeuh Kolot lalu sampai di Ciparay.

Perjalanan perlahan mulai menarik ketika memasuki Kecamatan Pacet. Pemandangan menjadi lebih menarik karena dari Kecamatan Pacet kita bisa melihat jejeran pegunungan Bandung Utara dari kejauhan. Jika  sedang beruntung, kita bisa melihat jejeran pegunungan Bandung utara dalam balutan kabut tipis. Gunung Tangkuban perahu tampak seperti betul-betul perahu terbalik yang bagian atasnya tertutupi oleh kabun tipis. Deretan pegunungan bandung utara dan awan tampak tidak lagi terlihat begitu berjarak. Semuanya seperti saling bersentuhan.

Jika punya banyak waktu, pelancong bisa menikmati suasana tersebut sambil menikmati segelas teh manis atau kopi di sepanjang jalan Pacet. Suasana dan lokasinya hampir sama dengan suasana Puncak Pas di Bogor. Kepenatan dan kesemerawutan serta beban kerja yang menumpuk sejenak terlupakan ketika menikmati segelas kopi hitam. Sungguh suasan yang menenangkan.

Setelah sejenak menikmati pemandangan tersebut, perjalanan dilanjutkan  menuju  Kertasari. Memasuki Kertasari pemandanganya di dominasi oleh hamparan hijau perkebunan beberapa macam tanaman palawija seperti kol, kentang, wortel dan bawang  daun serta perkebunan teh dan pohon-pohon yang sudah berusia cukup lama seperti Rasamala, dan lainnya.

Sekilas hamparan perkebunan teh tersebut sepertinya sama dengan perkebunan lain seperti Ciwidey dan Subang, namun sebenarnya di balik hamparan hijau dan rindangnya pepohonan tersebut ada potensi pariwisata yang belum tergali secara maksimal.

Dari penyelusuran yang dilakukan oleh penulis, tidak kurang dari empat tempat yang sebenarnya mempunyai potensi besar dan terbuka untuk dikembangkan. Pertama, Curug Lodaya, kedua Situ Cisanti, ketiga puncak Gunung Wayang dan kawahnya, keempat pemandian air panas alami Ci Bolang.

Curug Lodaya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan curug-curug lainnya.  Perbedaannya terletak pada  lokasinya saja.  Jarak  Curug Lodaya tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduk. Jaraknya tidak lebih dari   dua jam, hanya saja lokasinya terletak di sela-sela rimbun pegunungan dan berada di dataran tinggi. Lokasinya hampir mendekati puncak gunung, sehingga cukup menarik di kunjungi.

Dari curug tersebut kita bisa menikmati hamparan kebun teh Kertasari  dengan leluasa. Selain itu, suasananya sangat alami, belum sedikitpun mendapatkan sentuhan pembangunan. Menikmati pemandangan hamparan kebun teh sambil mendengar rincik air curug yang jatuh ke atas batu menjadikan suasana yang sunyi menjadi semakin sunyi. Kesunyian tersebut semakin  terasa tatkala kita melihat kabut tipis yang perlahan turun menyelimuti petak-petak kebun teh dari kejauhan. Sungguh keindahan yang sempurna.

Setelah menikmati curug Lodaya, pelancong bisa mengunjungi Situ Cisanti. Situ Cisanti merupakan situ di mana hulu sungai Citarum berada. Situ Cisanti berbeda dengan situ-situ lain yang lebih di kenal. Situ tersebut di kelilingi oleh tujuh mata air yang  mengalir  langsung dari Gunung Wayang.

Jika punya waktu luang, pelancong bisa mengelilingi dan menjajal kesegaran tujuh mata air  tersebut.  Bagi penulis sendiri, menjajal tujuh mata air Cisanti merupakan hal yang menarik.  Bukan hanya mendapatkan kesegaran yang berbeda dari  air  sumur artesis atau sumur pompa yang ada, akan tetapi menjajal tujuh mata air tersebut lebih dirasa sebagai ritual untuk menyegarkan jasmani dan rohani setelah sedemikian lama terjebak dalam rutinitas yang sering kali sangat melelahkan. Dalam kata lain, petualangan mengelilingi tujuh mata air tersebut seperti ibarat mengisi ulang batu baterai yang sudah habis enerji.

Setelah dari Cisanti pelancong bisa melanjutkan perjalan dengan mengunjungi puncak Gunung Wayang sekaligus kawahnya. Dari Cisanti, puncak gunung wayang dapat di tempuh dalam waktu kurang lebih tiga jam.  Sebenarnya jarak dari Cisanti menuju puncak Gunung Wayang  tidak terlalu jauh, akan tetapi karena rutenya menanjak dan belum ada jalan setapak permanen menyebabkan perjalanan menjadi lebih lama.

Dari atas puncak Gunug Wayang pemandangan  semakin luas. Pelancong tidak hanya bisa melihat pemandangan kebun teh dan beberapa gunung di Kabupaten Bandung, akan tetapi juga bisa menikmati jejeran gunung di wilayah Garut Selatan.

Dari puncak Gunung Wayang jejeran pegunungan di Garut selatan nampak jelas karena daerah Kertasari merupakan daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Garut. Antara Garut dan Kertasari hanya dipisahkan oleh beberapa hektar perkebunan teh.

Menikmati keindahan Gunung Wayang kurang lengkap jika tidak mengunjungi kawahnya sekaligus. Jarak dari puncak Gunung Wayang menuju kawah tidak lebih dari sepelemparan batu. Oleh karena itu pelancong tinggal berjalan menurun, lalu dalam beberapa menit sudah sampai di bibir kawah.

Kawah Gunung Wayang berbeda dengan kawah-kawah lain seperti Kawah Putih, atau Kawah Gunung Tangkuban Parahu atau juga Kawah Kamojang di Garut. Kawah Gunung wayang tidak terletak di puncak Gunung  akan tetapi terletak di lerengnya.

Dengan posisi kawah seperti itu pelancong bisa menikmati kesunyian kawah sambil melihat pemandangan hamparan perkebunan teh Malabar yang luas. Selain hamparan kebun teh, hal lain yang menarik adalah asap yang menyerbung dari lubang-lubang bawah batu di sekitar kawah. Kepulan asapnya seperti kepulan asap yang keluar dari lokomotif kereta api.

Melihat pemandangan yang luas sambil sesekali melihat serbungan asap sungguh menjadi pengalaman yang cukup berkesan. Rasa lelah setelah mendaki menuju puncak  sejenak tergantikan oleh pemandangan alam yang sangat jarang dinikmati.

Selepas menyusuri kawah Gunung Wayang perjalanan bisa dilanjutkan dengan kembali  menyusuri perkebunan teh Malabar yang luas dengan rute yang menurun . Perjalanan menyusuri kebun teh dengan rute jalan yang menurun sungguh menarik. Perjalanan seperti sedang menuruni lereng gunung yang dipenuhi oleh pohon-pohon teh. Ada fantasi berbeda dibanding  menyusuri kebun teh dengan rute  datar.

Perjalanan berakhir di  daerah Ci Bolang. Sesampai di sana pelancong bisa langsung mengunjungi pemandian air panas alami yang terletak di tengah-tengah perkebunan teh. Tepatnya di kaki Gunung Windu.

Mengakhiri perjalanan yang melelahkan dengan merendam seluruh badan di kolam air panas alami merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. Berendam di air panas alami sesudah menempuh perjalanan jauh merupakan cara cepat mengobati pegal-pegal di seluruh badan, terutama di betis dan telapak kaki.

Setelah  puas berendam di air panas, badan akan terasa lebih segar  dengan menyeruput segelas bandrek atau bajigur. Oleh karena itu, setelah berendam  pelancong bisa segera menyeruput bandrek panas yang disediakan di kedai-kedai sederhana yang ada di sekitar kolam pemandian.   Setelah berendam di air panas lalu menyeruput segelas bandrek rasa-rasanya badan telah siap untuk di ajak kembali menyusuri Bandung Selatan.

Dari Ci Bolang perjalanan di lanjutkan menuju Kota Kecamatan Pangalengan. Di sana pelancong bisa membeli buah tangan pelengkap perjalanan. Aneka olahan dari susu sapi banyak tersedia di sana. Kerupuk susu atau permen caramel menjadi pengganan yang cukup menarik untuk di jadikan buah tangan.

Dengan kerupuk susu dan permen caramel di tangan rasa-rasanya perjalanan mengelilingi Bandung Selatan lengkap sudah. Perjalanan menuju rumah masing-masing bisa langsung di jelang. Penulis sudah cukup puas menikmati panorama Kertasari-Pangalengan, anda kapan akan menikmatinya? Sebaiknya segera saja. Selamat menikmati!

 

 

Aang Kusmawan, Guru ekonomi di Madrasah Aliyah (MA) Sukasari Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Kordinator Serikat Guru Muda (SGM) Bandung.